Minggu, 09 November 2008

Negeri Lain Bisa,Indonesia?

Sunday, 02 November 2008
Pemerintah sejumlah negara tetangga telah mengambil kebijakan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Lewat berbagai perhitungan,mereka mampu melakukannya.Mengapa Indonesia tak bisa?


Sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam secara sigap menyikapi turunnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa bulan terakhir. Malaysia terhitung sudah empat kali pemerintahnya menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak harga minyak mentah dunia melorot. Kebijakan terakhir dikeluarkan Jumat (31/10) akhir pekan kemarin, yakni ratarata penurunannya mencapai 15 sen ringgit.

Harga bensin jenis Ron 97 (oktan 97) dari 2,30 ringgit turun menjadi 2,15 ringgit per liter, bensin Ron 92 dari 2,20 ringgit menjadi 2,05 ringgit per liter, dan solar (diesel) dari 2,20 ringgit per liter menjadi 2,05 ringgit per liter. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri (PM) Malasyia Abdullah Ahmad Badawi di Kuala Lumpur setelah rapat para menteri bidang ekonomi yang dipimpinnya.

Secara bertahap, pemerintah Malaysia mulai menurunkan harga minyak mulai dari 22 Agustus 2008, 24 September 2008, 15 Oktober 2008, hingga yang terakhir 31 Oktober 2008 yang mulai berlaku efektif per 1 November 2008. Sebelumnya Malaysia menaikkan harga BBM per 6 Juni 2008 sebesar 78 sen ringgit atau sekitar 41%. Rinciannya harga bensin Ron 97 naik menjadi dari sebelumnya 1,92 ringgit menjadi 2,7 ringgit per liter,sedangkan harga solar naik dari 1,58 menjadi 2,58 ringgit per liter.

Kemudian, secara bertahap pemerintah Malaysia menurunkan harga BBM antara 10–15 sen ringgit atau sekitar 5–8% sebanyak empat kali berturut-turut. Selain itu,pemerintah Malaysia saat ini sedang mencari alternatif untuk memberlakukan pemotongan harga BBM (rabat). Sebagaimana dilansir Kantor Berita Malaysia Bernama (1/11), langkah Kuala Lumpur itu guna mengikuti dampak negatif dari sistem potongan harga yang selama ini berlaku di Negeri Jiran itu.

Sistem ini akan menggantikan sistem potongan harga pembayaran tunai, yang rencananya mulai berlaku tahun depan. Menteri Hubungan Perdagangan dan Konsumen Malaysia Datuk Sharir Abdul Samad menyatakan, potongan harga 625 ringgit per tahun per kendaraan pribadi akan berakhir pada akhir Maret 2009. Hingga saat itu pemerintah Malaysia mengalkulasi telah menghabiskan biaya 2,5 miliar ringgit Malaysia untuk pembiayaan sistem rabat ini.

”Dari perspektif negatif, saya men-dapatkan kesan bahwa sistem rabat BBM tidak terlalu disukai warga masyarakat meskipun kebijakan ini sudah diperkenalkan pemerintah guna meringankan beban biaya masyarakat pemilik kendaraan 2000 cc. Kelihatannya warga Malaysia tidak terlalu peduli,” ungkap Datuk Sharir dalam konferensi pers (1/11). Dia menyatakan,alternatif sistem rabat tersebut sudah didiskusikan dan pemerintah sedang mencoba mengidentifikasi cara terbaik agar sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Pengurangan biaya finansial bagi pemilik kendaraan,menyusul kenaikan harga minyak, sudah diumumkan pemerintah Malaysia sejak 14 Juni 2008.Saat itu dipaparkan bahwa potongan harga BBM sebesar 625 ringgit bagi pemilik kendaraan 2.000 cc dan 150 ringgit untuk kendaraan bermotor di bawah 250 cc.Pembayaran sistem rabat ini sudah dimulai 1 April–31 Mei 2008. Kemudian, fase kedua antara 1 Juni 2008 dan fase selanjutnya 31 Maret 2009.

Malaysia memang telah menyiapkan banyak kebijakan terkait penurunan harga BBM.Selain Malaysia, di wilayah regional ASEAN,Vietnam juga melakukan hal serupa menyusul anjloknya harga minyak mentah dunia. Sebagaimana dilansir Reuters (30/10), Pnom Penh berencana menurunkan harga BBM sekitar 3,5%.

Rinciannya, untuk bensin (92 oktan) turun menjadi 15.000 dong per liter dari sebelumnya seharga 15.500 dong.Kemudian, solar turun menjadi 14.000 dong, sedangkan harga minyak tanah turun menjadi 15.500 dong dan minyak bakar 11.500 dong. Keduanya turun sebanyak 500 dong. Departemen Keuangan setempat menyatakan, lalu lintas BBM impor akan menjadi dua kali lipat pada angka 10%, sementara pemerintah akan menentukan tarif 15% untuk pajak minyak bakar.

Harga BBM di pom bensin setempat telah turun sebanyak empat kali pada Oktober 2008.Meski demikian,harga BBM di Vietnam masih 15% lebih tinggi dibanding harga terakhir tahun lalu, saat harga minyak mentah dunia sekitar USD99 per barel. Hingga kemudian harga minyak dunia melonjak ke angka USD147 per barel Juli 2008 ini akibat kekhawatiran melonjaknya permintaan, lalu menurun lagi akhir-akhir ini.

Konsumen BBM di Vietnam, yakni sekitar 21 juta sepeda motor,mendesak para importir minyak untuk menurunkan harga. Namun,para importir berargumentasi bahwa mereka membutuhkan ang-garan lebih untuk memperbaiki penyusutan akibat dampak kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menyentuh USD140 per barel beberapa waktu lalu. Malaysia dan Vietnam adalah contoh negara yang harga minyak ditentukan pemerintahnya.

Kedua negara di Asia itu sudah beberapa kali menurunkan harga BBM.Sementara Indonesia hingga saat ini belum ada kejelasan kapan akan menurunkan harga BBM,setelah turunnya harga minyak mentah dunia. Beberapa negara yang harga minyak ditentukan pasar, di antaranya Inggris. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mendesak harga minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau pom bensin untuk segera diturunkan.

Brown menyatakan, masyarakat kini sedang menghadapi kesulitan tentang harga gas dan listrik akibat kenaikan harga minyak. ”Sekarang harga BBM di pompa bensin sedang mengalami penurunan.Ini seharusnya bisa turun lebih cepat. Harga minyak naik berlipat-lipat dan masyarakat harus membayar mahal untuk itu. Saya ingin masyarakat mendapatkan manfaat penuh dari penurunan harga BBM ini,”paparnya.

Dilaporkan,akibat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu harga sembako, tagihan untuk listrik dan industri transportasi menjerit terkena dampak kenaikan harga. ”Ini berdampak pada setiap orang. Banyak orang akan memegang kepalanya ketika mereka mendatangi SPBU dan melihat harga BBM melonjak seiring harga minyak mentah dunia.Kini harga minyak dunia sudah menurun, saat inilah kesempatan untuk bisa mendapatkan pasar energi yang stabil,”ujarnya.

Brown mengungkapkan,salah satu alasan jatuhnya harga minyak adalah negaranegara produsen minyak saat ini lebih memilih berinvestasi dalam bidang energi alternatif. Itu termasuk investasi untuk tenaga nuklir, sebagaimana investasi dalam bidang energi terbarukan dan mobil tenaga listrik. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/183237/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment