Sunday, 09 November 2008
Pola pemasaran konvensional dengan cara distribusi album secara fisik semakin terjepit dan kurang menjanjikan. Karena itu banyak industri musik yang beralih ke pemasaran digital.
Namun, ada pula industri musik yang berhasil dengan mekanisme kerja sama,yang perusahaan core business-nya bukanlah musik, seperti provider telepon seluler atau perusahaan waralaba. Saat ini, industri label rekaman dituntut berkreasi dan mengubah pola pemasarannya.
Sebab, jika masih mengandalkan pola konvensional, bisnisnya akan mati tergilas perkembangan zaman dan teknologi. Sony dan BMG yang dimerger sejak empat tahun lalu adalah salah satu contoh suramnya masa depan industri musik konvensional.
Sony,perusahaan label rekaman raksasa yang sudah berpengalaman sejak 45 tahun lalu itu pun mengalami dampak menurunnya angka penjualan produk rekaman fisik.Tak ayal, Direktur Senior A&R Sony BMG Jan N Djuhana mengungkapkan, kini Sony sudah mengandalkan pemasukan dari penjualan musik format digital.
”Pada 2006, banyak toko-toko kaset musik di Amerika Serikat (AS) yang tutup,sebab industri ini sudah tidak lagi menguntungkan. Hanya satu toko di Tower Record yang akhirnya tetap dipertahankan,” ujarnya saat acara diskusi musik bertema A New Wave in Music Industry yang digelar di Blitz Megaplex, Kamis (6/11) lalu.
Jan menegaskan, minimnya omzet yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir tidak mampu menutupi biaya operasional. Di antaranya,banyak toko ritel distributor produk rekaman fisik yang tutup.Kondisi ini wajar saja, sebab kini memang sudah era digital. Musik tidak lagi bisa dinikmati hanya melalui kaset atau compact disc (CD) yang harus dibeli dengan harga puluhan ribu rupiah.
Selain itu, masalah tingginya angka pembajakan dan banyaknya fasilitas unduh (download) gratis di internet membuat industri rekaman terancam bangkrut.Hal ini juga berlaku di negara maju, di mana pengunduhan musik gratis via layanan P2P (peer-to-peer) banyak dilakukan.
Hal senada juga diungkapkan Produser Eksekutif Music Factory Indonesia (MFI) Harun Nurasyid. Menurut dia, kondisi memprihatinkan tampak dari ditutupnya salah satu toko distributor kaset terkemuka Disc Tarra. Pada 2006 dilaporkan,masih ada 77 gerai Disc Tarra yang dibuka di penjuru Indonesia.
Namun, berdasarkan laporan, kini tinggal 50 gerai yang masih dibuka. Jumlah ini semakin terancam menyusut seiring menurunnya angka penjualan kaset di toko musik itu. ”Saat ini jualan musik melalui rekaman fisik seperti kaset sudah tidak laku lagi. Jadi, dibutuhkan kreasi dari industri labeling agar bisa bertahan hidup,”ujarnya.
Akan tetapi, Harun mengaku masih beruntung.Sebab,MFI yang dibidaninya saat ini masih mampumenjual 80.000 unit CD per bulan melalui kerja sama dengan perusahaan waralaba makanan Kentucky Fried Chicken (KFC). MFI cukup kreatif, sebab dengan model kerja sama seperti ini tidak lagi pusing akan menjual CD musik produknya.
Apalagi KFC memiliki cabang sekitar 350 gerai di seluruh Indonesia.Bisa jadi angka penjualan CD MFI merupakan salah satu yang tertinggi di antara indus-tri label rekaman lainnya, atau bahkan ke depannya MFI-lah yang masih akan tetap bertahan. Ini adalah bentuk baru jualan musik melalui warung makanan.
”Jika fisik sudah tidak laku lagi, saya khawatir nantinya hanya MFI yang masih akan tetap bertahan hidup. Sementara perusahaan label lainnya terancam bangkrut,” tuturnya. Harun mendirikan MFI sejak Juni 2006.Dia menggandeng KFC sebagai salah satu model distribusi pemasaran.
Hasilnya, dalam waktu tiga bulan, duet MFI-KFC berhasil menjual album kompilasi produknya sebanyak 100.000 kopi hanya dalam waktu tiga bulan.Padahal, artis-artis yang digandeng MFI merupakan pendatang baru yang belum terkenal tapi cukup berpotensi.
Album kompilasi kedua yang diluncurkan MFI-KFC juga laris terjual sebanyak 40 ribu kopi hanya dalam waktu satu bulan. Kini duet perusahaan yang bidang bisnisnya jauh berbeda itu rata-rata bisa menjual 80 ribu kopi per bulan. Formulasi kerja sama MFI-KFC tergolong unik, tapi terbukti sukses.
Selain KFC, MFI juga menjalin kerja sama dengan Telkomsel, Jarum Black, dan Vitacimin dengan tujuan sama,yakni jualan musik. Pola baru berjualan musik juga dilakukan pencipta lagu dan penyanyi Anang Hermansyah melalui Independence Media Portal (IM:Port) yang digagasnya bersama Gitaris Kelompok Musik Slank Abdee dan Indra Lesmana.
Kepada SINDO,suami Diva Pop Krisdayanti itu mengungkapkan, IM:Port merupakan langkah yang dilakukannya untuk mendistribusikan produk musik dengan pola baru. Melalui bendera PT Hijau Multi Kreatif Indonesia yang didirikan sejak akhir 2005 lalu, Anang mencoba menjajakan produk musik melalui toko musik digital online.
Buktinya, IM:Port merupakan jawaban atas model baru penyimpanan lagu yang berubah dari model kaset atau CD,menjadi format digital. ”Ini merupakan perwujudan dari idealisme kami bersama tentang bagaimana menjalankan bisnis musik yang menguntungkan para artis,”ujarnya.
Tercatat, kelompok musik maupun perorangan yang telah tergabung dengan IM:Port sempat mencapai 5.000. Saat ini tercatat sekitar 2000 artis yang tergabung di dalamnya dengan mekanisme kontrak rata-rata dua tahun.Anang menjelaskan, saat ini IM:Port masih menjual produk musik dalam format ring back tone (RBT) melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi.
Mekanisme bagi hasilnya, 50-50 bagi operator dan IM:Port.Penghasilan yang diperoleh IM:Port tersebut kemudian dibagi dengan artis antara 50%–70% sesuai kesepakatan awal. ”IM:Port juga bertujuan untuk menjaring potensi-potensi artis lokal yang selama ini seolah tidak kebagian tempat untuk menjual karyanya dibandingkan artis Ibu Kota,”ujarnya.
Apa yang dilakukan Anang tergolong unik. Sebab, dia harus menjaring artisartis itu dengan berkunjung ke daerahdaerah. Secara intens dengan promosi dari mulut ke mulut dan ajakan kepada artis lokal.Anang mengungkapkan, hal itu dilakoninya mengingat kondisi terkini industri musik di dalam negeri yang terus menurun.
Pola itu juga merupakan jawaban agar para seniman tetap bisa bertahan. Dari hasil penelusurannya, banyak artis potensial di daerah yang tidak terorbitkan. Di Palembang misalnya, IM:Port berhasil menjaring 400 artis, Lombok (250), Banjarmasin (200), dan daerah-daerah lainnya jumlahnya mencapai ratusan artis.
”Dengan adanya era digital seperti ini, seorang artis tidak perlu lagi datang ke Jakarta hanya untuk bisa sukses.Dia tetap tinggal daerah tapi penghasilannya standar Jakarta,”tandasnya. Namun, Anang prihatin dengan industri label rekaman di daerah yang tidak bisa berkembang hidup, layaknya di Ibu Kota.
Padahal, dengan dukungan perkembangan teknologi saat ini, berinvestasi di industri musik tidaklah semahal zaman dulu ketika masih menggunakan pita kaset.Format digital bisa menekan biaya produksi. Berbeda jika berjualan lagu dalam bentuk kaset atau CD, yang biaya produksinya cukup mahal dan berisiko tidak laku.
Jika dalam format digital, baik MP3, WAV, atau dijadikan sebagai layanan RBT,risiko itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. MFI yang berjualan produk rekaman fisik dan IM:Port yang berjualan dalam format digital RBT, berbeda dengan Digital Beat Store (DBS). Untuk yang satu ini murni berjualan musik dalam format digital full track download(unduh penuh).
DBS boleh dibilang perusahaan pionir yang berjualan musik format digital di negeri ini. Dengan model pelayanan teknologi layar sentuh, DBS memiliki dua gerai di Bandung dan Jakarta (area Blitz Megaplex).Apa pun pola baru dalam berjualan musik itu merupakan upaya untuk menjawab tantangan zaman agar industri ini tetap bertahan hidup. Ya, industri musik harus bermetamorfosa agar tetap survive. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/185262/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment