Kalangan muda beramai-ramai mengajukan diri sebagai calon presiden (capres) Indonesia mendatang. Benarkah sekarang waktunya arus perubahan sedang berhembus atau sekedar latah dan demam Barrack Obama sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat (AS)?
Hegemoni kaum muda dan tua sebagai capres memang menjadi komoditas isu politik paling jitu. Bukan hanya di Indonesia, di AS pun terjadi hal yang sama. Terutama dalam masa kampanye capres negeri Paman Sam saat ini. Kandidat presiden dari Partai Republik John McCain sering dihantam isu usia yang terlalu tua, karena memang usianya sudah uzur mencapai 72 tahun pada 29 Agustus 2008 ini.
Sementara Barack Obama yang dijagokan Partai Demokrat dinilai masih terlalu muda, meskipun usianya sebenarnya sudah mencapai 47 tahun pada 4 Agustus 2008 ini. Bahkan politisi Afro-Amerika ini juga dihantam isu ras dan warna kulit, karena dalam sejarah belum ada presiden AS yang berkulit hitam.
Namun Senator Illinois itu memang telah menyihir rakyat AS. Putra Ann Dunham yang lahir di Honolulu Hawaii 46 tahun silam mampu mengalahkan pesaingnya Hillary Clinton sebagai kandidat Capres dari Partai Demokrat. Sebagai wajah baru, prestasi pria dengan nama lengkap Barack Hussein Obama itu sangatlah fenomenal.
Dari sisi ras dan warna kulit, Obama lah merupakan pria kulit hitam pertama yang mampu raih simpati jutaan warga AS berkompetisi dengan McCain menuju kursi presiden. Toh buktinya dukungan terhadapnya masih mengalir deras, meskipun banyak kalangan masih meragukan komitmennya dalam membangun AS di masa depan.
Berbagai hasil survei pun menunjukkan Obama unggul telak dari McCain. The Golden Boy yang masa kecilnya pernah tinggal di Jakarta itu raih dukungan 55% hasil survei Wall Street Journal/NBC pekan lalu atas McCain yang hanya beroleh 35%. Harus diakui Obama memang figur fenomenal. Orang yang tepat muncul diwaktu yang tepat pula. Di saat orang-orang sudah mulai jenuh dengan isu rasis dan segala kebijakan internasional yang dibuat oleh George W Bush, Obama tampil sebagai penyegar. Tak pelak visi yang diungkapkan suami Michelle ini mendapatkan momentumnya untuk raih aplaus dari warga dunia.
Paling tidak Obama telah menyiapkan cetak biru (blue print) setebal 65 halaman yang menjelaskan seperti apa visi dan misinya terhadap Amerika masa depan. Obama telah menyiapkan mulai reformasi kepemimpinan dan partai, meningkatkan transparansi, dan membersihkan kontrak pemerintah yang tidak mendatangkan manfaat.
Obama yang didukung oleh tim kampanye yang kuat juga menyiapkan berbagai strategi perbaikan dan pembenahan dalam berbagai sektor demi kemajuan AS. Mulai dalam bidang politik, kesehatan, pendidikan, energi, hubungan luar negeri, bahkan hingga hak-hak seorang veteran. Sungguh konsep yang kuat untuk memajukan AS.
“Itulah mengapa saya begitu yakin untuk meminta Anda untuk berhenti sinis atas perubahan. Dalam pemilu ini, saat ini, mari kita meraih apa yang mungkin kita raih. Bangsa ini akan memperbaiki diri, dunia akan diperbaiki. Dan Amerika kembali akan percaya,” kata Obama dalam pengantar cetak birunya.
Obama boleh memiliki kepercayaan diri tinggi. Itulah mengapa dia mampu menginspirasi jutaan penduduk dunia akan pembenahan. Obama yang dulunya tidak dikenal sebagai siapa-siapa kini menjadi idola dunia.
Di dalam negeri banyak tokoh muda yang ingin maju ke perebutan kursi presiden layaknya Obama. Sebutlah Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman, dan Yuddy Chrisnandi yang terang-terangan telah memproklamirkan diri sebagai calon presiden. Bisa jadi masih banyak lainnya yang belum terang-terangan menyatakan dirinya.
Namun Fadjroel Rachman menolak jika dikatakan hanya sekedar meniru kesuksesan Obama. Dia menilai fenomena pemimpin muda sudah menjadi tren kepemimpinan global. Untuk itu tidak salah, jika Indonesia memiliki pilihan untuk dipimpin kaum muda bukan sekedar tokoh-tokoh lama.
“Ini sudah menjadi tren fenomena global. Bukan hanya Obama yang muda. Di negara-negara lain juga sama,” katanya.
Fadjroel yang berusia 45 tahun dikenal sebagai seorang aktivis pernah menjadi tahanan politik, dan sering dijuluki sebagai Sutan Syahrir muda. Aktivitasnya sebagai ketua Pedoman Indonesia, Masyarakat Sosialis Indonesia, kolomnis, serta pembicara seminar dan training. Fadjroel tidak dikenal sebagai politisi dan memang tidak memiliki kendaraan politik. Untuk itulah, sebagian kalangan menilai Fadjroel terlalu berambisi untuk bisa maju ke bursa pemilihan presiden.
“Saya lebih suka mencontoh dan terinspirasi tokoh-tokoh muda dalam negeri seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Sutan Syahrir yang beroleh karir puncaknya dalam usia muda,” paparnya.
Sementara di Rusia fenomena calon independen memang sudah mapan berjalan. Tercatat sejak 1991, bursa pemimpin Rusia dimenangi oleh calon independen. Mulai Boris Yeltsin, Vladimir Putin, hingga Dmitry Medvedev saat ini. Sungguh ini menunjukkan calon perseorangan pun layak untuk memimpin negara kakap sekelas Rusia.
Sementara wacana calon independen memang baru akhir-akhir ini mencuat di Indonesia. Bukan sekedar mengekor negara-negara maju, tidak ada salahnya apabila 230 juta jiwa penduduk negeri ini memberikan kesempatan kepada calon perseorangan yang memang layak untuk menjadi presiden.
Meskipun perangkat hukum untuk meloloskan usulan segar ini memang masih belum tersedia. Untuk itu uji materiil terhadap UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden sangat diupayakan agar disetujui oleh Mahkamah Konstitusi.
Yuddy Chrisnandi salah satu Capres muda yang berangkat dari karirnya sebagai politisi di Senayan ini menyatakan kendala yang dialami oleh generasi muda di negeri ini sebenarnya datang dari para elit politik. Hegemoni justru berasal dari UU yang ada. Yakni UU masih membelakukan bahwa presiden harus diajukan oleh partai politik yang hingga saat ini masih dalam hegemoni kekuasaan tokoh-tokoh lama. “Parpol kita masih belum tersentuh angin perubahan akan pentingnya memajukan figur muda untuk dijadikan sebagai calon presiden,” kata fungsionaris Partai Golkar ini.
Toh baik Fadjroel dan Yuddy ataupun Rizal Mallarangeng sama-sama mengaku telah menyiapkan cetak biru Indonesia masa depan bukan sekedar akibat Demam Obama. Namun hal itu harus diuji dan waktulah yang akan membuktikan apakah kaum muda atau kaum tua yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. (abdul malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment