Sabtu, 02 Agustus 2008

Regenerasi dan Tanggungjawab Membangun Bangsa

Hegemoni calon presiden tua dan muda demikian mengemuka. Sebagian menganggap sebagai sebuah tren belaka, namun sebagian menganggap ada harapan angin perubahan sedang berhembus.

Kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sosial, hegemoni asing, serta sederet masalah lainnya di negeri ini membuat banyak pihak prihatin. Masalah-masalah yang jika didaftar berderet mungkin tidak terhitung panjangnya. Namun Hingga saat ini belum ada pemecahan signifikan untuk mengatasi masalah. Keprihatinan kaum muda terhadap segala permasalahan ini bukan berarti juga tidak menjadi pemikiran para tokoh-tokoh lama.

Sebenarnya, tidak hanya di Indonesia namun di Amerika Serikat (AS) yang konon merupakan salah satu teladan negara demokrasi pun isu tua – muda masih mengemuka. Lihatlah pertarungan kampanye antara Barack Obama dengan John McCain yang dianggap sebagai figur tua dan muda. Isu umur menjadi demikian kental digunakan sebagai komoditas untuk menyerang pihak lawan. Di Indonesia juga demikian, dikotomi antara tua-muda, Jawa-Non Jawa, Militer-Sipil, bahkan Islam dan non Islam.

Sebagai negara yang belum sempurna mempraktekkan demokrasi, sebenarnya hal ini bagi Indonesia tidaklah salah adanya. Sebab yang terpenting bukan dikotominya, melainkan bukti nyata arah pembangunan dan perbaikan bagi kemakmuran bangsa ini.

Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Tjahjo Kumolo menyatakan dikotomi semacam ini seharusnya tidak perlu. Sebab hanya akan membuat Indonesia terjebak dalam isu dikotomisasi. “Kita tidak ingin terdikotomi pada wacana tua muda. Karena masalah pemimpin negara ini akan memimpin indonesia yang sangat luas dengan berbagai masalahnya,” ujarnya.

Wajar saja Tjahjo menolak berbicara tentang isu tua-muda. Sebab hingga saat ini capres yang diusung partainya masih Megawati Soekarnoputri, yang notabene merupakan tokoh lama yang usianya sudah 60 tahun. Matan presiden RI itu memang sejajar dengan tokoh-tokoh seangkatannya. Seperti Susilo Bambang Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sri Sultan Hamengku Buwono X (61), dan tokoh-tokoh lainnya.

Itulah mengapa wajar, jika banyak pihak menginginkan wajah segar, baru, dan dinamis. Dengan demikian jika tidak ingin dinamika negeri ini dianggap gagal, maka regenerasi memang wajib dilakukan apapun alasannya. Kepemimpinan Soekarno yang lebih dari 20 tahun dan Soeharto yang lebih 32 tahun telah menyumbat berjalannya roda generasi. Bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan dari orang tua ke anak muda, namun ini agar Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki arah perubahan menuju perbaikan. Minimal, generasi muda mendapatkan kesempatan untuk ikut mengelola negeri ini.

Tentu aja, keberanian mengelola negara saja tidaklah cukup. Sebab mengurus negara berbeda dengan mengurus perusahaan, organisasi, atau lembaga lainnya. Indonesia dengan wilayah sangat luas, jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia, serta banyak ragam suku, agama, ras, dan golongan. Bukan perkara mudah untuk mengurus Indonesia dengan kebhinekaannya. Capres muda yang hanya modal keberanian hanya modal nekat dan gegabah jika tidak ingin dibilang sebuah kecerobohan. Meskipun fisik muda, jiwa harus negarawan. Inilah yang paling sulit untuk diukur.

Direktur Akbar Tandjung Institute Puji Wahono menyatakan seorang capres muda haruslah memiliki kredibiltas dan track record yang bagus dan sudah dibuktikan kepada masyarakat. Sebab baik terpilih sebagai eksekutif ataupun legislatif, maka mereka akan menghadapi permasalahan dan persolan bangsa yang besar.

Ini membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dan tugas yang berat. Bukan sekedar kemampuan manajerial dalam memimpin organisasi negara, namun juga insting dan intuisi untuk membuat keputusan atau kebijakan yang tepat. Bukan hanya jangka pendek, menengah, namun juga mempertimbangkan manfaat jangka panjang.

“Apalagi Negara kita ini sangat luas dan tugasnya pun tentunya tidak sedikit,” tegasnya.

Toh berdasarkan pelajaran sejarah, tokoh-tokoh sekakap Megawati, Gus Dur, BJ Habibi, bahkan Soeharto dan Soekarno masih dicela dan dianggap belum banyak berhasil membangun negeri. Mempertimbangkan hal ini, secara logika jika mempertimbangkan pentingnya figur maka dibutuhkan figur yang lebih handal dibandingkan beberapa mantan presiden di negeri ini.

Susilo Bambang Yudhoyono juga demikian. Meskipun sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, namun tidak sedikit ungkapan kekecewaan beberapa kalangan atas kinerja pemerintahannya. Terutama terkait kebijakan kenaikan harga BBM, dan kebijakan tidak populer lainnya.

Meski demikian, optimisme akan adanya perbaikan tidak boleh dihilangkan. Sebab apapun kondisinya, baik regenerasi maupun figur matang keduanya sama-sama penting bagi pembangunan negeri ini. Figur muda dianggap sebagai progresif, dinamis, pendobrak, namun juga sering diragukan kecerobohannya karena dianggap kurang pengalaman.

Sementara figur tua dianggap konservatif, lambat, kurang dinamis, namun juga dianggap lebih bijak dan memiliki pertimbangan yang matang sebelum membuat keputusan. Alangkah bijaknya jika keduanya saling mengisi bukan saling menyerang atau merongrong satu sama lain.

Pengamat Politik J Kristiadi menilai sebenarnya memang banyak tokoh muda yang layak maju berkompetisi dalam bursa pemilihan presiden. Namun tidak semua dari mereka mau mengajukan diri sebagai capres. Minimal, kata dia, para capres muda haruslah membuktikan kualitas kepemimpinan mereka terlebih dahulu dalam berorganisasi. “Tidak harus jadi presiden, tetapi dalam organiasinya juga harus dibuktikan,” ujarnya.

Kristiadi juga mengkritisi, banyak capres muda yang banyak bicara dan obral janji. Ini terkait dengan kualitas kepemimpinan seseorang. Sebab untuk memperbaiki dan membangun negeri dengan lebih dari 17.000 ribu pulau ini bukan pekerjaan main-main. “Saya tidak anti calon muda tetapi kita harus benar-benar memperhatikan kualitas calon yang muncul agar tidak hanya ikut uforia kepemimpinan muda,” paparnya.

Namun Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring melihat optimisme kaum muda. Namun catatannya, tokoh muda itu harus memiliki kemampuan yang jelas berbasis keilmuan, kredibilitas, serta kemampuan pendukung lainnya yang menunjang tugasnya sebagai orang nomor satu di negeri ini.

“Saya mengharap akan semakin banyak calon presiden muda yang hadir di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat mampu memilih yang terbaik. Kalau usia di atas 60 atau 70 tentu akan berdampak pada saat kepemimpinan dia nantinya, misalnya lambat dalam mengambil keputusan,” ujarnya. (abdul malik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment