Masih Menjadi Gubuk Derita
Sunday, 15 June 2008
POTENSI Indonesia untuk menarik investasi Timur Tengah sebenarnya sangat besar. Sayangnya, permasalahan utama justru dari dalam negeri sendiri.
Hal inilah yang menghambat proses investasi asing masuk ke Indonesia. Direktur Hubungan Timur Tengah Departemen Luar negeri (Deplu) Aidil Chandra Salim memberi perumpamaan kontradiktif dan menggelitik. Jika China, India, Vietnam, Malaysia, atau negara-negara lainnya menawarkan kenyamanan dalam berinvestasi bak seseorang yang ditawari tinggal di sebuah apartemen mewah, Indonesia justru ditawari “gubuk derita”.
Padahal, banyak calon investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.“Kita ini bagaikan gubuk derita bagi para calon investor. Selain itu, pemilik gubuknya tidak jelas,” katanya kepada SINDO. Selain aturan investasi yang dianggap masih lemah, kondisi sosial atau etos kerja aparat juga bisa menjadi penghambat investasi. Padahal, jika menilik target Indonesia untuk menarik investasi Timur Tengah pada 2008, diperkirakan akan mencapai USD10 miliar.
Sementara jika tidak begitu ambisius, minimal investasi USD5 miliar bisa didapatkan. Sayangnya, peringkat kemudahan investasi Indonesia memang masih berada di angka 135 dari 175 negara 2007 lalu. Meskipun agak melegakan, catatan Forum Ekonomi Dunia dalam laporan The Global Competitiveness Report 2006 menunjukkan daya saing Indonesia naik ke peringkat 50 dari 125 negara pada 2007 dibandingkan peringkat 69 tahun sebelumnya.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Mohammad Lutfi pun menargetkan 2008 ini peringkat kemudahan investasi akan naik menjadi peringkat 75 dari 175 negara.Target ini dicapai dengan beberapa upaya, di antaranya mempermudah prosedur memulai bisnis menjadi tiga langkah dan hanya memakan waktu 23 hari.
Kemudian, pemerintah juga menjanjikan kemudahan prosedur perizinan pembangunan menjadi delapan prosedur yang hanya membutuhkan waktu 103 hari. Apa pun pernyataan pemerintah, kenyataannya kemudahan berinvestasi di Indonesia masih tampak di awangawang ketimbang menjadi kenyataan. Buktinya, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab pun mengeluhkan rendahnya kualitas kepastian perizinan dalam berinvestasi.Padahal, calon investor dari Timur Tengah yang mau menanamkan modalnya begitu tertarik untuk berinvestasi.
“Ini bisa saja akan membuat mereka kapok untuk berinvestasi,” paparnya. Duta Besar Uni Emirat Arab (UAE) untuk Indonesia Yousif R Al Sharhan mengungkapkan lemahnya aturan investasi di Indonesia. Menurut dia, sebenarnya banyak calon investor Dubai yang ingin menanamkan investasinya secara langsung ke Indonesia. Namun, hambatannya justru terletak pada aturanaturan yang tidak ramah investasi.
Jika aturan dan kemudahan investasi semakin membaik, dia yakin investor Timur Tengah akan berdatangan menanamkan modalnya di Indonesia. “PemerintahdanKadinIndonesia juga seharusnya lebih agresif dalam menarik minat para calon investor Timur Tengah. Sebab, prinsipnya, uang itu tergantung pemerintah Indonesia mau atau tidak untuk mendekatinya,”ujarnya. (abdul malik/islahudin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/index.php
thanx for your comment to ESC blog.. btw i really don't know who you are.. probably you are an old member of ESC right or i'm wrong or i just take my amnesia...hehehehe.. but i will send your best regard to keyko.. Thanx Malik
BalasHapusBukan berarti pro investor kan?
BalasHapusSebagai anak bangsa, tampaknya tak ada manfaat yang diperuntukkan bagi kita oleh mereka. Mereka (akan) kaya dengan menguasai pasar, modal, dan seluruh sumber daya alam Indonesia. Sedang kita, menjadi buruh, anak tiri, bahkan pengemis di negeri sendiri.
Mari kita berpikir sama-sama. Bukan untuk siapa-siapa, untuk diri dan anak cucu kita.
Trim's
Hi There again... yesterday you said "it's not important whether i don't know who you are and you don't know me too", for me it's important because you are still part or ESC Org and I have asked Keyko about who you are and she talked a lot... and btw what you say about the growth of this country depends on the youth is right and i agree with you eventhough we start from what we can do. Maybe me, keyko, you; malik, and all of ESC members start from a little org which concern to education in english particularly and it's much more meaningful than nothing... Thanx Malik 4 your advices to the growth of ESC.
BalasHapusBtw I work in external affair of ESC, same with keyko's job field.
And about ESC Blog, that is a great idea and we'll try it...