Minggu, 15 Juni 2008

Apa Artinya Nama Besar

Apa Artinya Nama Besar

Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyandang status sebagai partai kelas kakap di kancah politik negeri ini. Namun, popularitas dua partai kawakan itu mulai meredup. Lantas, seperti apa strategi PG dan PDIPdalam kancah liga besar perpolitikan, Pemilu 2009?

=====

Menelisik pola karakater partisipasi politik masyarakat sekarang ini, partai-partai besar tampaknya tidak akan lagi bermain-main hanya mengandalkan kebesaran nama belaka. Setelah memproklamirkan diri sebagai oposisi, PDIPmulai gencar lakukan roadshow ke daerah-daerah dalam beberapa waktu belakangan ini. Tujuannya mencoba menggaet suara arus bawah. Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Tjahjo Kumolo menyatakan, partainya telah melakukan konsolidasi dari tingkat pusat hingga daerah.

”Konsolidasi juga telah dilakukan pada tingkat organisasi-organisasi sayap PDIP” katanya kepada SINDO.

Meski begitu, partai banteng moncong putih dalam lingkaran ini masih mengusung nama Megawati Soekarnoputri sebagai satu-satunya calon presiden. Padahal, sebagian besar kader partai sadar betul bahwa masyarakat menginginkan suatu perubahan. Wajah baru, itu salah satu realitas yang ada di masyarakat saat ini, dan ini bisa menjadi batu sandungan bagi PDIP. Tak ayal, PDIPpun berupaya kembali mencitrakan dirinya sebagai partai “wong cilik” dengan menyambangi komunitas petani, nelayan, pedagang pasar, maupun pengusaha UKM. Strategi yang cukup cerdas untuk “kembali” meraih simpati massa. Maklum, selama mendapat kesempatan memerintah, PDIP dinilai sebagian besar kalangan telah meninggalkan identitasnya sebagai partainya orang kecil.

Lantas, jika PDIP masih mengusung Mega sebagai capres yang notabene merupakan wajah lama, maka bisa jadi wajah baru akan ditampilkan untuk kursi cawapres. Bahkan banyak pihak berspekulasi dipertahankannya Mega sebagai figur capres guna mencegah terjadinya perpecahan di tubuh PDIP. Bukan rahasia lagi jika sosok Mega merupakan figur sentral untuk menyatukan semua faksi yang ada. “Jika Megawati tidak diusung sejak dini maka PDIP akan lebih kesulitan untuk melakukan konsolidasi,” kata Pengamat Politik Universitas Paramadina Bima Arya.

Menurut Bima, mengusung figur Mega sangat efektif untuk pemilu legislatif dan belum tentu efektif untuk pemilihan presiden pada 2009 mendatang. Sebab untuk pemilu legislatif memang sangat dibutuhkan konsolidasi sangat serius untuk menggalang suara dalam partai menjadi satu. Dia menjelaskan, dalam tubuh PDIP terdapat banyak faksi yang berkembang. Bisa jadi kebijakan PDIP ini akan dikoreksi pada Pemilu Presiden 2009. Artinya Mega tidak akan kembali diusung sebagai Capres 2009.

“Banyak faksi dalam tubuh PDIP misalnya saja faksi nasionalis, Islam bahkan faksi tentara. Sedangkan dari tokoh-tokoh ada faksi PDIP lama yang ada sejak Partai Nasionalis Indonesia seperti seperti Sabam Sirait, atau tokoh lama seperti Pramono Anung, Thahjo Kumolo, bahkan disana juga ada faksi Taufik Kemas sendiri,” paparnya.

Jika kondisinya seperti itu siapa berani mempertaruhkan kebesaran nama PDIP. Sebab salah strategi beresiko besar mengalami kekalahan pada Pemilu 2009. Namun, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo melihat PDIP memiliki masa depan cerah. Terutama partai ini diuntungkan dengan “hitam-putih” dalam posisinya sebagai oposisi pemerintah. Status tersebut memberikan efek positif pada PDIP, terbukti perolehan suara pada Pilkada yang diklaim PDIP mencapai 62%.

“Sayangnya akhir-akhir ini PDIP terlalu percaya diri mengangkat calonnya sendiri, sehingga berimbas kepada kekalahan pilkada di beberapa daerah,” ujarnya.

Setali tiga uang, PG pun tidak ingin terlalu lama bernostalgia dengan kebesaran namanya sendiri. Kekalahan PG dalam beberapa pilkada, khususnya di wilayah yang menjadi basis massa sangat memukul partai berlambang pohon beringin ini. Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR Priyo Budi Santoso mengakui hal tersebut. Bagaimana mungkin sebuah partai besar kalah suara di daerah basisnya sendiri? “Kami mengakui bahwa kami memang sangat terpukul,” katanya kepada SINDO.

Potret kekalahan PG ini ternyata tidak mengecilkan hati para kadernya. Sebab berdasarkan perhitungan mereka, PG masih mampu meraih suara 41,7% pada seluruh wilayah yang menyelenggarakan pilkada. Artinya partai ini masih menjadi pilihan masyarakat di basisnya sendiri meskipun tidak menang. Apapaun alasan yang diungkapkan Priyo, namun kegagalan PG dalam memenangi pilkada memang cukup mengejutkan banyak pihak. Berbagai spekalusi pun bermunculan. Apakah ægigiÆ partai yang menargetkan 30% suara pada Pemilu legislatif 2009 ini masih setajam dulu?

Bima Arya menilai, prestasi PG sedang mengalami penurunan signifikan. Terutama setelah partai ini memproklamirkan dirinya sebagai pendukung kebijakan pemerintah. Selain itu, ternyata figur Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat partai berlambang pohon beringin ini dianggap tidak mampu mendorong terjadinya konsolidasi internal. “Memang akhir-akhir ini Golkar mulai mencoba untuk menjaga jarak dengan pemerintah. Namun tetap saja ini tidak bisa maksimal karena sosok JK sebagai ketua umum menjadi bagian dalam pemerintahan,” paparnya.

PG tidak mungkin lepas dari figur dari JK yang saat ini masih menjabat sebagai Wapres. Meski demikian, Priyo menyatakan partainya tidak akan henti-hentinya mencitrakan diri sebagai partai yang propemerintah. Sebab Pemilu 2009 sebentar lagi menjelang. Oleh karena itu PG tidak lagi mempertaruhkan perolehan suara yang beresiko berakhir dengan kekalahan. Pencitraan ini dilakukan PG sebagai partai yang berpihak kepada masyarakat dan bukan pemerintah. Meskipun tidak secara ekstrem menjadi oposisi.

“Komitmen Golkar masih tetap untuk menangani masalah-masalah kebangsaan. Selain itu Golkar akan tetap menjadi partai moderat yang memayungi kemajemukan bangsa masyarakat Indonesia,” tandasnya.(abdul-malik/islahudin)


*(artikel ini dimuat di Harian Seputar Indonesia pada rubrik Persikop edisi Minggu 15 Juni 2008)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/apa-artinya-nama-besar-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment