Berikut hasil wawancara saya dengan Duta Besar Uni Emirate Arab untuk Indonesia Yousif R Al Sharhan, di kantor Kedutaan UAE di Jl Satrio Blok C-4 Kuningan, Jakarta.
Sebenarnya banyak potensi UAE untuk investasi di Indonesia, dan memang sebagian sudah mulai. Salah satunya ada proyek besar di Lombo. Tambang batu bara di Lampung. Juga pengembangan pelabuhan di Lampung kurang lebih bernilai USD1 miliar. Begitu juga investasi sektor migas. Sedikit masalah bahwa prosedur di Indonesia belum mendukung. Tapi saya berharap banyak investor UAE yang datang ke Indonesia dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Secara tepat besarnya investasi UAE di Indonesia saya tidak bisa tunjukkan tapi sebagai gambaran di Lombok saja kurang lebih USD2,5 miliar, kemudian di Lampung tambang batubara USD1,5 miliar. Namun untuk migas kami juga belum tahu, namun itu nampaknya ada. Nggak tahu berapa persisnya. Bisa jadi nilainya lebih dari itu. Kemudian telekomunikasi juga ada investasinya kurang lebih USD2 miliar. Dan beberapa pejabat telkom Emirat juga datang ke Indonesia untuk masalah ini.
Ada upaya untuk menarik investasi dari UAE baik swasta maupun pemerintah dan saya pikir ini akan terus berkembang dan bergulir. Saya lihat disini para pejabat juga siap untuk berusaha menarik investasi dari UAE dan juga untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. Dalam hal ini mungkin perlu diingatkan bapak Dr Alwi Shihab utusan khusus presiden untuk kawasan Timteng. Beliau sangat intensif sekali mencari peluang-peluang investasi.
Tentu saja investor UAE untuk datang ke Indonesia sangat mengharapkan adanya kemudahan. Mereka lebih mengutamakan investasi bidang migas, pembangunan gedung, jalan dan infrastruktur lainnya. Mungkin perlu disinggung disini seperti Bank Islam Dubai itu sangat tertarik untuk investasi dibidang mass transportation di Jakarta untuk mengatasi kemacetan. Khususnya sekarang DPR sudah menyetujui UU Investasi yang islami di Indonesia disebut syariah itu akan lebih memudahkan bank UAE untuk berinvestasi di sini. Pertanian juga menjadi salah satu ketertarikan investor UAE.
Pertanyaan tentang negara-negara Teluk karena kenaikan harga minyak dianggap potensi investasi dibandingkan AS dan Eropa Barat. Menurut saya investasi itu khan tergantung kesempatan, kemudahan. Kalau kesempatan dan kemudahan ada, maka mereka akan berinvestasi.
Negara UAE pada dasarnya tidak memandang ini siapa tidak membeda-bedakan tetapi bagaimana menguntungkan bisnis disini. Sebab bisnis adalah bisnis.
Kalau tentang hubungan bilateral antara UAE dan Indonesia alhamdulillah baik. Sampai sekarang tidak ada kendala apapun. Dibidang politik hubungan cukup baik. Presiden Indonesia sudah datang ke UAE, Abdurahman wahid, SBY, pejabat tinggi UAE juga selalu berkunjung kesana. Terakhir kunjungan Menaker UAE ke Indonesia untuk menandatangani MoU. Dan ini sangat baik sekali bagi kepentingan Indonesia. Agar membantu menyerap tenaga kerja Indonesia. Di sektor tenaga kerja kami sangat berharap sekali pemerintah Indonesia melakukan pelatihan para TKI, sehingga yang bekerja disana itu orang-orang teknisi yang bekerja di berbagai sektor. Seperti bangunan, perbengkelan. Dan yang paling penting sekali perawat. Baik perawat dalam arti perempuan atau laki-laki itu sangat penting.
Orang indonesia di sana juga banyak yang tenaga ahli di perminyakan. Bahkan di berbagai universitas sudah ada orang Indonesia. Bukan hanya yang tenaga kasar saja yang diharapkan oleh UAE melainkan juga tenaga-tenaga halus yang teknis.
Saya pikir meningkatnya harga minya dunia bukan faktor utama meningkatnya harga-harga barang. Jadi terjadi beberapa problem di barat. Tentu saja barat itu selalu menganggap yang ada di dia itu umum. Dianggap berlaku di seluruh dunia. Seperti kenaikan harga minyak karena Amerika sedang mengalami krisis energi. Sehingga naik harga minyak. Jadi bermula dari situ. Bukan harga minyak atau barang-barang ini. Disamping itu kita perlu juga tahu bahwa Eropa sekarang, karena minyak sedang mahal mereka mengambil inisiatif untuk energi alternatif dari jagung. Akibatnya harga bahan pokok menjadi mahal dan langka di pasar. Disamping itu perlu diketahui setiap tahun lahan pertanian berkurang didunia ketiga, para petani banyak yang mengalihkan profesi mereka. Sehingga produk pertanian menjadi berkurang dan di pasaran menjadi mahal.
Sebenarnya Indonesia kalau saya lihat kalau penanganannya baik bisa menjadi lumbung padi Asia. Karena luasnya. Makanya saya berharap ada investor dari UAE yang mau menanamkan investasinya di dalam pertanian. Di Indonesia semua ada. Lahan luas, air ada, apa yang kurang. Apa yang kurang? Yang kurang adalah penanganan yang baik dan dukungan dari pemerintah. dan pihak-pihak terkait.
Tentang data ekspor impor kedutaan tidak punya data itu. Biasanya mereka langsung antar pengusaha. Seharusnya Kadin Indonesia lebih aktif, berkunjung ke Emirat mengundang investor untuk datang. Merekalah yang mencatat semua itu, kegiatan ekspor impor. Namun sampai sekarang sangat lemah peran Kadin Indonesia dan juga otomatis Kadin di sana pun kurang berinisiatif. Saya mengharapkan kedepan Indonesia lebih menekankan peran menarik turis dari negara Teluk. Mudah-mudahan dari mereka berkunjung ke Indonesia mereka berfikir untuk melakukan investasi di sini. Turis sendiri itu menghasilkan uang yang cukup lumayan. Dan perlu diketahui turis-turis dari negara Teluk itu keluarga. Jadi banyak satu rombongan. Untuk menggairahkan lagi investasi di Indonesia. Khususnya investasi emirat saya menganjurkan ada hubungan yang berekesinambungan. Ada kontak terus menerus sekarang memang ada utusan khusus pak Alwi Shihab. Tapi itu khan nggak cukup.jadi agar sektor-sektor usaha yang ada disini agar lebih agresif. Dibantu oleh pengusaha. Supaya lebih hidup hubungan antara pengusaha dan pemerintah.
Jadi peran kedutaan cukup memajukan investasi emirat di Indonesia dnegan memberitahu orang-orang yang ada disana tentang perkembangan terakhir Indonesia melalui laporan-laporan. Misalnya adanya UU baru, kemudahan-kemudahan kami selalu memberitahu ke UAE supaya mereka mengetahui info terkini tentang Indonesia. Jadi untuk menggairahkan sektor ini saya mengusulkan pembentukan lembaga kerjasama khusus bilateral antara Indonesia dan UAE. Lembaga inilah yang nantinya akan menjembatani adanya pameran di sini dan sana, supaya lebih dikenal lagi dengan elemen dari berbagai unsur. Semacam lembaga persahabatan.
Kebanyakan investor UAE lebih suka langsung melakukan investasi. Cuma dia butuh aturan yang jelas. Ini yang paling penting. Sebab aturan di Indonesia masih lemah dan tidak menarik investasi. Saya katakan apa adanya sebab saya senang dengan Indonesia, supaya diperbaiki keadaan ini. Nggak usah bermanis-manis. Kedepan saya melihat investasi Timteng di Indonesia sangat menjanjikan. Dan di Indonesia selalu ada perkembangan tentang aturan-aturan, pembaharuan, peraturan-peraturan baru yang memudahkan para investior. Jadi saya yakin kedepannya masih akan menngkat.
The big five investor dari UAE, Emaar Group di Lombok. Kemudian di pelabuhan Surabaya juga kerjasama dengan perusahaan pelabuhan Dubai itu juga besar. Dubai .... disamping itu tambang batu bara tapi saya lupa namanya. Abala itu perusahaan migas. Ada empat. Kemudian lainnya kecil-kecil banyak. Tapi bukan ini yang kita harapkan. Yang kita harapkan lebih besar lagi. Lebih banyak lagi investor yang datang ke Indonesia.. jadi kalau masalah uang mereka nggak terbatas. Sekarang sampai dimana bagaimana kita menarik mereka. Seperti apa aturan kita
Indonesia dimata investor UAE bisa sama dengan Negara Asia lainnya. Malaysia lebih bagus sedangkan Malaysia lebih kecil, mengapa Indonesia nggak bergerak. Harusnya Indonesia lebih bagus karena Indonesia Negara yang lebih besar. Indonesia punya apa saja. Sebenarnya inti ada diIndonesia.
Investor UAE sangat ingin berinvestasi di Indonesia. Sehingga apabila sama-sama memilih investasi dengan kemudahan yang sama dan fasilitas yang sama antara Indonesia dengan China, maka mereka akan memilih untuk berinvestasi ke Indonesia. Tentu saja kalau kesempatannya sama, maka mereka akan lebih memilih Indonesia. Vietnam lumayan maju. Wakil Presiden UAE pernah mengunjungi Vietnam disitu luar biasa. Sehingga kendalanya memang sebenarnya ada di Indonesia sendiri.
Saya tidak ingin mengkritik pemerintah Indonesia. Tidak ada kritikan. Tapi kalau masukan mungkin.
** (catatan ini merupakan transkipan hasil wawancara langsung dan belum melalui proses pengolahan dan pengeditan menjadi sebuah artikel)