Sunday, 22 March 2009
”Semua orang ingin masuk surga, tetapi tidak ada orang yang mau mati.Semua orang ingin sukses,tetapi tidak semua orang mau melakukan apa yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.”
UNGKAPAN itulah yang dituliskan Farrah Gray dalam pengantar bukunya,Get Real Get Rich. Pada usia 21, dia dinobatkan sebagai salah satu pria berkulit hitam paling berpengaruh di Amerika Serikat (AS) oleh majalah terbitan National Urban Leauge,Urban Influence.
Dia juga diakui majalah Ebony sebagai ikon kewirausahaan, taipan bisnis,dan penulis buku laris Reallionaire. Gray adalah sosok yang dibesarkan di kawasan South Side, sebuah wilayah miskin di Chicago. Berkat kegigihannya berwirausaha,dia menjadi miliarder di usia 14. Saat berusia 21,dia mendapat gelar doktor berkat anugerah honorary doctorate of humane letters dari Allen University.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kegeniusan ekonomi dan komitmennya terhadap pengembangan berbagai nilai seperti kepemimpinan, integritas,dan pengetahuan.Dia juga berhasil mengusung kebangkitan dari kemiskinan sebagai ikon wirausaha berskala internasional.
Gray awalnya memulai usaha dengan berjualan pelembab tubuh (body lotion) dan pembatas buku dari batu yang dibuatnya sendiri. Dia menawarkannya dari pintu ke pintu. Di usia 7 tahun, Gray memiliki kartu nama dengan tulisan ”CEO Abad Ke-21”. Setahun kemudian, dia mendirikan klub bisnis pertamanya, Urban Neighborhood Economic Enterprise Club (UNEEC).
Klub ini merupakan cikal bakal New Early Entrepreneur Wonders yang belakangan menjadi organisasi utama Gray di Wall Street saat dia berusia 14 tahun. ”Kala itu saya berusia 14 tahun dan saya membuat sejarah sebagai orang termuda yang punya kantor di Wall Street,” tulis Gray dalam bukunya.
Banyak orang bertanya, dari mana Gray bisa mendapatkan uang untuk berkantor di Wall Street? Ada juga yang beranggapan Gray mendapat sponsor dari seseorang, tetapi Gray membantah alasan tersebut. Dia mengungkapkan bahwa ”terus berusaha” adalah kunci utamanya.Bahkan,dia menjelaskan perjuangannya tidak selalu berhubungan dengan uang atau bantuan dari orang lain.
Keberhasilan yang dicapainya lebih atas dasar sikap, keahlian pengembangan diri, dan komitmen. Dia juga mengakui sering menemui kendala dalam menjalankan usaha, tetapi semua itu bisa dilaluinya. Kini, Gray sukses menjadi wirausahawan ternama di dunia dan dia telah menginspirasi banyak orang.
”Saya sadar, kesuksesan bisnis bukanlah hal yang sulit,”tandasnya. Kesuksesan Gray memang menginspirasi anak-anak muda untuk berwirausaha.Di Indonesia,konsep wirausaha yang dilakukan pemuda juga mulai banyak ditemui. Strategi para wirausahawan muda ini salah satunya tecermin dalam peluncuran kelompok Young Entrepreneurship Start-up (YES) Club Jakarta di Gedung Jakarta Design Centre,Jakarta Barat,pekan lalu.
Komunitas ini merupakan kelompok wirausahawan pemula yang anggotanya mayoritas anak muda Jakarta. Komunitas ini dibidani Indonesia Business Links (IBL), sebuah lembaga yang kerap menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/ CSR).
”Komunitas semacam ini sangat membantu siapa saja yang ingin mengembangkan wirausaha,” ujar Direktur YES Club Jakarta Himawan Adibowo kepada SINDO. Selain YES Club, ada juga komunitas bisnis Tangan di Atas (TDA).Berdasarkan pengakuan Roni Yuzirman,salah satu pendiri komunitas ini,keberadaan kelompok semacam ini sangat membantu para wirausahawan muda untuk mengembangkan bisnis lewat jaringan.
Saat ini, anggota TDA berjumlah 6.000 orang.Menurut Roni, itu sama saja terdapat 6.000 peluang jaringan yang bisa dimanfaatkan. ”Semakin kita sering bertemu, semakin besar peluang usaha yang muncul,”ujar Roni kepada SINDO.
Sementara itu, Manajer Program YES Mohamad Fahmi menegaskan, program kewirausahaan menjadi salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah upaya membangkitkan kesadaran di kalangan anak muda agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri maupun anggota masyarakat.
Namun, Fahmi memaklumi bahwa masih ada anggapan yang menyebutkan bahwa membangun usaha baru di kalangan anak muda bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Menurut dia, ada sejumlah kendala utama yang dihadapi wirausahawan muda pemula dalam mengembangkan usaha.
Di antaranya minimnya pengalaman dan pengetahuan, modal usaha karena kesulitan mengakses pembiayaan usaha. Meski begitu, berbagai kendala tersebut bisa diatasi dengan menerapkan sejumlah strategi.Di antaranya seorang pengusaha pemula harus mampu mengukur dan menganalisis kekuatan dan kelemahan diri sendiri, tetapi dia harus berani mengambil risiko, kreatif, dan inovatif.
Selain itu, masalah perencanaan bisnis menjadi salah satu kunci utama. ”Memulai suatu usaha tidak perlu dengan ide yang muluk-muluk. Mulailah usaha dengan hal yang sederhana dan mendasar, hal-hal yang dibutuhkan orang. Bagaimana mencari ide usaha yang bisa diimplementasikan,” paparnya.
Rencana usaha sederhana, kata Fahmi,umumnya mengandung instrumen yang memberikan penjelasan mengenai produk yang ditawarkan, pasar, strategi pemasaran, manajemen, serta proyeksi keuangan, dan pembiayaan usaha.
Setelah rencana dibuat, setiap aksi yang dilakukan harus sesuai rencana dengan memperhatikan manajemen keuangan dan strategi pemasaran yang kreatif dan efisien. Di sini umumnya akan terjadi proses trial and error mengingat kendala sudah pasti dihadapi. Namun, dengan motivasi yang kuat dan tetap fokus berusaha, kesuksesan bisa dicapai. (abdul malik/ islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/223037/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment