Sunday, 22 March 2009
MANAJEMEN keuangan sering menjadi kekurangan pengusaha pemula.Padahal, banyak pilihan untuk memiliki laporan keuangan yang memenuhi standar akuntansi, tetapicukupmudahdipraktikkan.
Ya, masalah laporan keuangan sering menjadi kendala pengusaha kecil dan menengah dalam mengajukan kredit kepada perbankan. Tidak sedikit pihak perbankan akhirnya ”menstigma” kelompokusahakecildan menengah tidak layak bank (unbankable). Situasi ini sering dihadapi pengusaha pemula.
Maklum, selain masih minim pengetahuan tentang pembuatan laporan keuangan yang baik,skala usaha yang masih kecil menjadi pertimbangan perbankan. Karena itu, sering juga perbankan menganggap usaha tersebut belum menjadi prioritas kredit. Ini menjadi bukti,laporan keuangan yang rapi merupakan sebuah kewajiban.
”Pembuatan laporan keuangan yang rapi dan memenuhi standar akuntansi masih menjadi kendala banyak pengusaha pemula,” kata Associate Finance Manager Indonesia Business Links Tatang Solihin kepada SINDO di sela acara peluncuran Young Enterpreneurs Start-up (YES) Club Jakarta,Kamis (19/3).
Menurut Tatang, banyak cara bisa dilakukan agar pengusaha pemula memiliki laporan keuangan yang memenuhi standar akuntansi.Dia menjelaskan, banyak pilihan agar laporan keuangan tersebut bisa diaudit pihak independen tanpa perlu mengeluarkan biaya mahal.Keuntungan dari laporan keuangan yang rapi dan teraudit bisa menjadi modal mendapat kepercayaan konsumen dan perbankan.
Laporan keuangan yang telah diaudit merupakan syarat utama menggandeng calon investor.”Jika tidak,calon investor enggan bekerja sama,” ucapnya. Pengusaha pemula, kata Tatang, sering mencampuradukkan berbagai komponen laporan keuangan. Misalnya, penghitungan antara laba dengan arus kas belum dipisah.
Ketika memulai sebuah usaha, modal awal yang disediakan diputar untuk menjalankan bisnis.Kebanyakan pengusaha kecil tidak membedakan pengeluaran harian yang terkait dengan bisnis dengan kepentingan lain sehingga mekanisme penghitungan laba menjadi rancu.
”Contoh sederhana, penjual gorengan,omzet per hari Rp2 juta, tapi dia tidak tahu dari angka Rp2 juta itu berapa pengeluaran biaya yang hanya terkait dengan usaha gorengan itu tadi.Kadang dia masukkan juga biaya-biaya yang tidak terkait dengan usaha. Bisa saja laba terlalu kecil atau terlalu besar.Karena ada biaya-biaya yang tidak dimasukkan, ”paparnya.
Selain itu, banyak kasus pengusaha pemula yang salah menerapkan strategi ekspansi. Pengusaha pemula sering tergoda untuk berekspansi, padahal bisnisnya belum mapan. Dalam beberapa kasus, bisnis yang dijalankan terlihat maju,tetapi kemajuan itu ternyata belum pada tahap fundamental bisnis yang kuat di mana arus kas mulai stabil dengan pendapatan dan laba yang cenderung meningkat serta pengembalian modal awal yang segera tercapai.
Karena itu, laporan keuangan yang standar mutlak diperlukan.Sebab laporan ini berfungsi sebagai pencatatan dan dokumentasi terhadap semua aktivitas usaha yang dilakukan. Selain itu, laporan ini juga berfungsi melindungi kekayaan perusahaan dan mengontrol jalannya kegiatan perusahaan dalam aspek keuangan.
”Paling tidak ada tiga komponen utama dalam laporan keuangan, yakni neraca (aset), laporan laba rugi,serta laporan arus kas,”imbuh Tatang. Minimnya pengetahuan tentang pembuatan laporan keuangan yang baik diakui pemilik Salon Spell House Citra Nirmala.
Citra yang sudah setahun mendirikan usaha salon mengaku belum memiliki kemampuan yang memadai dalam membuat laporan keuangan.Akibatnya, perputaran uang dalam bisnisnya belum tercatat secara rapi.Padahal bisnis salon wanita dan muslimah yang berlokasi di Jalan Rawasari Barat,Jakarta Pusat, ini cukup ramai didatangi konsumen.
Hingga saat ini, Citra belum melakukan pencatatan tentang omzet dan pengeluaran secara rapi. ”Maunya dalam jejaring dengan komunitas ini (YES Club) saya ingin belajar dari kawan-kawan pengusaha lain,bagaimana membuat perencanaan usaha dan laporan keuangan yang baik,”ujarnya kepada SINDO.
Lain lagi dengan pemilik Ghifary Store Endang S yang mulai menerapkan prinsipprinsip akuntansi dalam laporan keuangan perusahaannya meski dalam bentuk yang sederhana.Endang yang kini sukses membuka gerai grosir dan eceran aneka macam boneka di bilangan Blok M mengaku ingin membuat laporan keuangan perusahaannya menjadi lebih rapi karena dia berniat melakukan ekspansi.
”Namun itu hanya untuk urusan penjualan. Kalau untuk urusan laporan keuangan masih saya tangani sendiri,” ujarnya kepada SINDO. Untuk mengatasi masalah akuntansi, saat ini banyak tersedia software (peranti lunak) produk lokal yang harganya murah,mudah dioperasikan, dan memenuhi standar laporan keuangan.Dalam peranti lunak ini juga bisa disesuaikan dengan sektor usaha yang sedang dijalankan.Baik itu untuk sektor ritel, jasa, ataupun manufaktur. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/223026/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment