Saturday, 14 March 2009
Pada usia muda,semua hal menjadi jelas dan serbamungkin.Anak muda tak takut bermimpi dan sangat berhasrat melihat apa yang akan terjadi pada mimpinya di masa mendatang.
Sekumpulan remaja itu asyik khusuk berkonsentrasipadakertaskarton putih yang ada di hadapan. Dengan spidol aneka warna, sambil duduk melingkar lesehan, para remaja ini menuangkan visi masa depan di atas vision board (papan mimpi) di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ya,mereka tengah merangkai mimpi akan sebuah perubahan. Kondisi itulah yang terjadi pada 16 remaja berusia 12–25 tahun yang menjadi peserta workshop Resource Mobilizationyang diselenggarakan Yayasan Ashoka Indonesia di Vila Pandawa Yayasan Permata Hati Kita, Ciawi,Bogor, Jawa Barat,awal pekan lalu.
Mereka adalah Suci Lestari, 19,Asep Ramdhani, 17, Kusuma Dyah Sekararum,12, dan Gadis Prameswari Azahra, 13, yang semua berstatus sebagai pelajar mulai bangku SD hingga SMA. Kemudian Ni Kadek Noviantini, 19, Muhammad Rusdi Indra Dewa, 24, Rahmi Ariani, 19,Firdaus Putra Aditama,23,Ika Kurnia Riswandari, 20,Paku Utama, 21, Arya Jodipati, 22, Tisya Noviandini, 20, dan Anugrah Nurrewa, 23. Mereka adalah peserta yang berstatus sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.
Hanya Iwan Sujana, 23, Billy Rahman, 23, dan Yangyang Sebastian, 19, diwakili Tifa,yang berstatus sebagai pekerja sosial dan pegawai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Usia belia tidak menjadi penghalang bagi mereka menuangkan ide dan inisiatif untuk melakukan perubahan kepada masyarakat di lingkungan mereka tinggal. Remajaremaja inovator tersebut telah berhasil memenangi penghargaan Young Changemaker 2008 versi Ashoka Indonesia.
Menurut Direktur Eksekutif Ashoka Indonesia Mira Kusumarini, pemberian penghargaan kepada sejumlah remaja inovator tersebut merupakan langkah untuk pendorong munculnya inovator-inovator di kalangan remaja.Sebabinisiatifuntukmelakukan perubahan harus dimulai sejak remaja. “Biasanya wirausahawan sosial mulai memiliki kegelisahannya sejak usia remaja. Maka kami merasa wajib membantu mendampingi mereka yang memiliki pemikiran perubahan ini agar ke depan mereka menjadi wirausahawan sosial yang memiliki sumbangsih bagi masyarakatnya,” papar Mira kepada SINDO.
Kiprah mereka menunjukkan, usia belia bisa melakukan perubahan bagi masyarakat. Kusuma Dyah Sekararum misalnya, meski usianya belum genap 12 tahun dan baru menginjak kelas 6 SD, sudah memiliki inisiatif melakukan perubahan sosial terhadap masyarakat sekitar tempat dia tinggal di Salatiga,Jawa Tengah. Ide Ara adalah mengajak masyarakat melakukan pengolahan pakan dan kotoran sapi. Hingga saat ini sudah ada sekitar 30 kepala keluarga warga satu dusun di Salatiga yang sudah bersedia mengikuti Moo’s Project yang digawangi Ara.
Hal serupa juga dilakukan Asep Ramdhani. Bersama rekan-rekannya di komunitas Bengkel Kreasi 19 di Jalan Babakan Jeruk, Bandung,Asep yang baru berusia 17 tahun itu melakukan pendampingan terhadap remaja penyandang cacat seusianya di tempat tinggalnya. Lewat upayanya itu, kini sebanyak 20 orang difabel tidak hanya merasa percaya diri dalam menjalani hidup,tetapi juga punya keterampilan. Mulai life skill education, pelatihan penyuluh sebaya untuk isu HIV dan AIDS, sosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002 dan konvensi hak anak hingga pelatihan komputer serta seni musik.
Bagaimanapun Asep dan Ara hanya contoh sedikit remaja yang mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka mampu melakukan perubahan sosial. Di luar sana, bisa jadi masih banyak lagi remaja lain yang memiliki kegelisahan serupa dan memberikan sumbangan berarti bagi masyarakat. Mira Kusumarini menyatakan, sejak pemberian penghargaan dimulai pada 2005 hingga saat ini, sudah ada 41 remaja Indonesia yang terdata melakukan perubahan sosial dan mendapatkan penghargaan dari Ashoka.
Dari angka tersebut dikalkulasikan mereka telah berhasil memengaruhi 325 orang lainnya untuk melakukan hal serupa, yang secara tidak langsung telah memberikan dampak kepada lebih dari 2.670 orang warga di lingkungannya. Meski bukan jumlah yang amat besar, indikator ini menunjukkan bahwa remaja-remaja itu bagaikan lentera di lingkungannya. Meski demikian, untuk menjadi seorang remaja inovator bukanlah sesuatu yang mudah.
Apalagi di tengah perkembangan teknologi dan budaya yang semakin membuat remaja lebih suka memilih budaya instan ketimbang berjuang merintis dari bawah.Jangankan berpikir untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat sekitar, yang muncul justru berbagai pemberitaan media masa tentang tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba hingga pergaulan bebas yang merebak di mana-mana. Hadirnya remaja-remaja ini menunjukkan usia muda tidak hanya identik dengan hal-hal yang bersifat hurahura dan negatif.Kecerdasan mereka dalam menyampaikan ide dan konsep demikian kentara sepanjang kegiatan workshop di Bogor itu.
Salah satunya ketika diberi tugas untuk membuat papan mimpi. Apa saja cita-cita yang ada di benak mereka dituangkan di situ.Sangat sederhana,hanya selembar kertas karton putih yang ditempeli dengan gambar-gambar dan tulisan yang digunting dari majalah atau koran bekas. Ada yang menempelnya dengan gambar-gambar yang menurut mereka sesuai dengan ide mereka atau sekadar menempelkan kalimatkalimat yang dipotong dari koran. Mulai gambar pemandangan karena mereka memimpikan lingkungan Indonesia yang hijau bebas sampah atau sekadar orang yang duduk sambil mengagumi keindahan alam di tepi pantai.
“Vision Boardini yang akan menjadi panduan mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpinya untuk melakukan perubahan. Bukan hanya mimpi besarnya, melainkan misi-misinya untukmewujudkanmimpi tersebut,”ungkap Program Coordinator Young Changemakers Initiative Ashoka Indonesia Eka Prahadian. Dalam workshop yang berisi materi-materi serius tapi berjalan santai itu juga terungkap bahwa kemampuan mereka dalam berdiskusi tak kalah dengan orang dewasa.
Dalam kegiatan itu, para peserta tidak hanya diberi materi tentang beragam strategi memobilisasi segala sumber daya yang ada di lingkungan sekitar,tetapi juga diberi contoh sukses dengan menghadirkan beberapa peraih fellowship social entrepreneur, di antaranya Silverius Oscar Unggul (2006), Joyce Djaelani Gordon (2003). Setidaknya,keberhasilan sejumlah anak muda yang dikategorikan sebagai agen perubahan ini seperti yang diungkapkan penulis novel berkebangsaan Brasil, Paulo Coelho, bahwa setiap orang ketika di usia muda mengerti benar apa tujuan mereka.
Pada usia ini, semua hal menjadi tampak jelas dan serbamungkin. Mereka tidak memiliki rasa takut untuk bermimpi dan sangat ingin sekali untuk melihatapayangakanterjadipada mimpinya di masa mendatang. Demikianlah semangat ingin melakukan perubahan yang dimiliki anak muda. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/220973/
Great!
BalasHapusartikel yang sangat berguna, bermanfaat dan membuka wawasan baru!
Semoga dapat membantu para JagoanInternet di Indonesia!
Sukses!
Hermawan Petra
http://www.jagoaninternet.com
Mas, masih punya artikel yang di muat di sindo g? Link yg ada diatas g bisa dibuka. Edisi cetak yg saya beli dulu hilang soalnya. Terimakasih
BalasHapusDear Mbak Emily, maaf beribu maaf baru balas. Saya sudah tidak menyimpannya mbak. Untuk mengetahui, mungkin mbak bisa menghuibungi redaksi Sindo, mungkin mereka masih menyimpan edisi PDF nya.
BalasHapus