Selasa, 03 Juni 2008

Is MNC Serious To Build a Company? (Where is the Brand?)

Does MNC Serious To Build a Company? (Where is the Brand?)
Apakah MNC Serius Dalam Mengelola Sebuah Perusahaan?

Kata inilah dulu yang aku tanyakan kepada Pimredku pertama kali dalam forum rapat tanya jawab di Sindo sore. Sebab hingga saat itu aku masih belum melihat keseriusan jajaran manajemen dalam mengelola sebuah media. Aku lebih banyak melihat kekacauan, pemadam kebakaran, ketimbang manajemen perencanaan matang, atau paling tidak minimal analisa SWOT. Jujur secara pribadi aku sering bingung, bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang mencitrakan dirinya sebagai perusahaan besar namun tidak mampu menunjukkan kebesaran itu dihadapan karyawannya sendiri. Jika secara internal sendiri saja tidak bisa, bagaimana mungkin citra kebesaran itu bisa keluar (eksternal) bahkan go international? Ternyata keraguanku itu sedikit terjawab pada saat penutupan Sindo edisi sore secara tiba-tiba tanpa ada penjelasan yang masuk akal bagiku. Bagi orang media, membentuk sebuah media, bagaikan orang yang akan mengarungi bahtera rumah tangga atau sedang melahirkan anaknya. Apa saja akan dilakukan demi sang anak. Bahkan dalam keadaan daruratpun seorang ayah akan rela mencuri untuk kemudian di penjara, hanya demi agar anaknya tidak kelaparan. Namun dalam konteks ini tentu MNC tidak perlu seekstrim itu. Membuka atau menutup sebuah media pun tidak akan mungkin dilakukan serta merta dan semena-mena tanpa ada pertimbangan yang masuk akal. (bagi orang media, memiliki media bagaikan membesarkan seorang anak yang akan selalu ditimang-timang keberadaannya)

Pun sekarang aku pun mulai merasakannya kembali. Di saat beberapa media baru sedang gencar-gencarnya di buka, dengan standar gaji lebih tinggi, tak ayal banyak juga karyawan di MNC yang terancam dibajak. Bagiku itu sesuatu yang wajar, bagi seorang pegawai mencari kesejahteraan yang lebih layak. Toh setinggi apapun gaji karyawan di Indonesia kecuali BI dan Pertamina atau perusahaan tambang dan minyak lainnya, tampaknya semua memang belum bisa dianggap sebagai gaji yang layak untuk hidup. Meskipun kamu seorang fresh graduate dengan gaji awal Rp 3,5 juta pun itu masih belum bisa dianggap layak terutama dengan pertimbangan kurs dolar dan nilai inflasi. Apalagi jika kamu harus menghidupi istrimu atau kamu memiliki kewajiban untuk membantu biaya pendidikan adikmu yang harganya sudah selangit dan tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia itu. Sebab gaji yang layak adalah ketika kebutuhan standar hidup minimal, berzakat, membantu keluarga, menabung untuk masa depan anakmu, ataupun tabungan pensiun, serta tabungan untuk investasi sudah mampu kau dapatkan. Mungkin ini bagimu tampak lebih sempit apabila aku menilai MNC sebagai sebuah perusahaan hanya aku lihat dari sisi ketenagakerjaannya. Sebab aku memang belum memiliki akses untuk melihat dan tahu dari sisi manajemen lainnya, atau bahkan sikap dan suara para pemodal dalam RUPS.

Sekedar kau ketahui, sebentar lagi akan ada banyak karyawan yang resign atau berpindah ke tempat kerja yang lain karena mendapatkan tawaran kesejahteraan lebih layak atau kenyamanan tempat kerja yang lebih menjanjikan. Jika itu terjadi, tampaknya MNC harus berfikir ulang bagaimana format mengelola sebuah perusahaan. Sebab yang aku tahu, orang bekerja itu bagaikan team work yang harus bahu membahu berjibaku membangun perusahaannya menjadi besar. Di sisi lain perusahaan juga tidak boleh lupa dengan peran dan sumbangsih karyawannya dalam membangun perusahaan. Apakah kamu tahu, selama lebih dari setahun aku bekerja di perusahaan ini, aku merasa tidak lebih dari sekedar kerja bhakti? Beruntung aku masih berusaha menjaga idealisme sebagai jurnalis, dan sejauh ini aku masih sanggup melakukannya. Bagaimana jika aku sudah menikah, punya anak, sementara aku juga butuh untuk membantu biaya kuliah adikku serta memikirkan membantu orang tuaku yang usianya sudah senja dan sudah seharusnya mereka pensiun dari pekerjaannya? Jika pertanyaannya seperti ini, aku pun sampai sekarang masih belum tahu bagaimana menjawabnya. Sebab semuanya tampak gelap. Gelap tidak hanya kondisiku di pekerjaanku, namun aku juga belum mendapatkan keyakinan bahwa ini memang perusahaan yang serius melakukan bisnisnya. Jika manajemen pemadam kebakaran bagaimana kamu bisa menganggap hal itu sebagai sebuah keseriusan? Bagaimana tidak, aku bahkan seolah tidak memiliki waktu untuk keluargaku atau sekedar liburan di hari raya dengan tenang. Setiap Lebaran aku hanya libur dua hari itupun harus aku bayar dengan mengerjakan banyak pekerjaan yang aku lakukan dengan lembur tanpa hitungan gaji lembur.

Barangkali sistem ketenagakerjaan di Indonesia memang demikian klopnya dengan pemikiran para pengusaha yang tidak memiliki komitmen untuk berbagi dengan karyawannya. Cobalah kamu lihat gaji para PNS atau gaji karyawan baru di tempat lain. Kamu akan mendapatkan atau menemui hal yang sama. Salah kalau dibilang efisiensi radikal akan mendatangkan produktivitas. Yang ada, kamu hanya akan membuat karyawanmu akan mengalami depresi akut karena memikirkan bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku bulan ini? Cukup kamu catat, selama otak karyawanmu masih berada di perut, maka dia akan kesulitan untuk menempatkannya di kepala. Efisiensi adalah untuk menghemat sedemikian rupa, bagian-bagian proyek atau bidang yang dianggap gemuk dan tidak produktif. Bukan justru memeras sedemikian rupa, bidang atau bagian yang sudah sangat kurus. Paradigma ketenagakerjaan inilah yang hingga saat ini belum aku pahami mengapa sedemikian berlakunya di Indonesia. Sehingga hal itu dianggap wajar. Bagaimana mungkin sekali lagi tindakan semena-mena dianggap sebagai sesuatu yang wajar? Robot atau mesin pun masih membutuhkan baterai dan maintenance yang layak agar bisa beroperasi dengan baik. Jika memang MNC serius ingin mengelola perusahaannya maka dia haruslah memperbaiki internalnya terlebih dahulu, sebelum membuat citra yang demikian besar. Sehingga tidak akan terjadi citra tanpa bukti nyata. Alias omong doang (omdo) /big mouth. Sebelum terlambat, segeralah benahi dirimu MNC!!

2 komentar:

  1. makanya bikin perusahaan sendiri

    BalasHapus
  2. Iya bikin perusahaan sendiri aja, kan enak bisa nentuin gaji untuk diri sendiri

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment