Selasa, 03 Juni 2008

Berupaya Mendulang Dolar

Berupaya Mendulang Dolar
Sunday, 01 June 2008
Indonesia berpotensi mengembangkan investasi asing.Sejumlah sektor dinilai seksi untuk ditawarkan kepada para investor.Tinggal menunggu kecerdasan pemerintah mengemasnya.

Tak ada upaya yang sia-sia. Semakin gencar pemerintah daerah melakukan promosi investasi, semakin besar pula peluangnya untuk bisa menarik minat calon investor,walaupun tidak jarang pula mengejar calon investor baru, terutama asing,berakhir nihil.Meski demikian, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi mengatakan, realisasi investasi asing di dalam negeri cukup tinggi.

Tercatat, realisasi investasi antara Januari–Desember 2007 per wilayah, urutan pertama masih ditempati DKI Jakarta dengan nilai USD4,6 miliar dari 365 proyek. Kemudian, Jawa Timur dengan total investasi asing sebesar USD1,6 miliar (62 proyek), Jawa Barat USD1,3 miliar (244 proyek), Riau USD724 juta (10 proyek), dan Banten USD707 juta (77 proyek). BKPM melansir per Oktober 2007 saja, realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) naik 102,64% dari USD 4,48 miliar pada 2006 menjadi USD9,02 miliar.

Capaian tersebut setidaknya harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk semakin mendulang dolar dari investasi,khususnya asing. Paling tidak, tahun ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi daerah untuk mengembangkan potensi agar mampu menarik pemilik modal. Inilah kesempatan emas bagi Indonesia untuk lebih mendulang pundipundi dolar.

Tujuannya, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah.Tidak melulu terkonsentrasi di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Jawa yang didominasi sektor manufaktur. Jika realisasi investasi merata ke daerah di luar Jawa, bukan tidak mungkin sektor agrobisnis yang selama ini menjadi andalan daerah menjadi primadona.Apalagi, saat ini kondisi ekonomi global tengah diguncang krisis pangan, masalah tersebut di satu sisi bisa saja mengganggu perekonomian Indonesia.

Tetapi, di sisi lain, harus dijadikan peluang untuk menarik keuntungan. Provinsi Gorontalo misalnya, sudah membuktikan bahwa komoditas jagung dan ikan layak dijadikan sumber penarik investasi. Selain itu, sektor energi layak dikembangkan, akibat krisis energi global yang telah mengakibatkan melambungnya harga minyak mentah dunia. BKPM melansir Sumatera Utara memiliki komoditas unggulan karet, cokelat, kopi, dan sawit.

Kemudian, Sumatera Selatan potensial dikembangkan investasi bidang energi. Provinsi Riau pun tidak ketinggalan. Dengan 5,15 juta hektare perkebunan sawit potensial menghasilkan 1,7 ton minyak sawit. Riau juga potensial sebagai produsen biodiesel dengan kapasitas 1 juta ton. Lutfi juga menjelaskan, untuk wilayah Jawa, Provinsi Banten berpotensi mengembangkan industri petrokimia dan industri berbasis energi.

Sementara Jawa Barat potensial mengembangkan industri berbasis teknologi dan sektor jasa. Jawa Timur potensial dengan petrokimia dan logistik. Sebagai contoh perbandingan, menurut M Lutfi, komoditas minyak sawit masih menempati urutan nomor satu di dunia.Di Indonesia,komoditas ini potensial dihasilkan empat daerah, yakni Sumatera,Kalimantan,Sulawesi, dan Papua, dengan kapasitas produksi 17 juta ton (2007). Sementara komoditas timah dari Sumatera masih menempati urutan kedua di dunia dengan kapasitas 65.000 ton (2007).

Komoditas cokelat hasil daerah Sulawesi, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara juga menempati peringkat kedua di dunia dengan kapasitas produksi 770 juta ton (2007). Kemudian, komoditas tembaga juga menempati peringkat yang sama dengan kapasitas 818.000 ton (2006), daerah penghasil tembaga disumbang Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Untuk komoditas nikel, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia dengan kapasitas produksi 4,35 juta ton (2006).

Kemudian, komoditas emas peringkat ketujuh di dunia dengan kapasitas produksi 89.000 kg (2007) yang dihasilkan Kalimantan, Sumatera, Maluku, dan Papua. Terakhir, komoditas batu bara menempati peringkat kedelapan di dunia dengan kapasitas 178 juta ton (2006) yang dihasilkan Kalimantan dan Sumatera.

Tidak ketinggalan, pada 2008 ini, menurut Lutfi, pemerintah masih menawarkan proyek infrastruktur pembangunan 10 jalan tol yang sedang persiapan tender Juni ini dengan nilai total lebih dari Rp3,8 triliun. Empat proyek di antaranya akan dilaksanakan tanpa dukungan pemerintah, yakni Medan–Binjai (18,8 km),Palembang–Indralaya (22 km), Teginereng–Babatan (50 km), dan Pandaan–Malang (37 km).

Sementara tiga proyek lainnya akan didukung dengan pembebasan tanah serta dukungan pembangunan dari pemerintah provinsi, kabupaten, atau kota. Di antaranya, Cileunyi–Sumedang–Dawuan (58,5 km), Medan– Kualanamu–Tebing Tinggi (60 km),Sukabumi–Ciranjang (31 km). Sementara tiga proyek sisanya akan dibangun pemerintah, di antaranya Manado–Bitung (53,8 km), Pekanbaru–Dumai (135 km), dan Serangan–Tanjung Benoa (9,1 km).

Terakhir, proyek infrastruktur pembangunan rel kereta api juga ditawarkan dengan lokasi antara Sumatera Selatan–Bengkulu sepanjang 160 km (antara pelabuhan Tanjung Enim–Linau). Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Agung Pambudi menyatakan, infrastruktur memang masih menjadi permasalahan paling mendasar dalam investasi.

Di antaranya, minimnya pasokan energi listrik tidak hanya di luar Jawa,tetapi juga di Jawa sering terjadi pemadaman bergilir. Jadi, pengembangan investasi untuk infrastruktur bidang energi mutlak diperlukan. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah yang sekaligus Ketua Komite Forum Investasi Daerah Indonesia 2008 (Indonesian Regional Investment Forum/IRIF 2008) Irman Gusman pun optimistis prospek investasi di daerah akan cerah. (a malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/berupaya-mendulang-dolar-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment