Selasa, 03 Juni 2008

Isu PKS-sasi hingga Broker Politik

Isu PKS-sasi hingga Broker Politik
Saturday, 31 May 2008
KONSTELASI politik sebuah negara senantiasa berubah. Partai politik sebagai instrumen demokrasi kerap mendominasi. Namun, dinamika perubahan tidak jarang mengedepankan faktor unpredictable dibanding prediksi-prediksi politik.

Seperti pernah diungkapkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring,saat ini ada kecenderungan mozaik politik nasional mengalami perubahan. Dominasi partai lama (besar) sudah mulai luntur digantikan partai tengah seperti PKS dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Meski begitu, bayang-bayang teori power tends to corruptdikhawatirkan akan tetap bercokol di dalam partai-partai menengah. Setidaknya, saat ini mulai muncul wacana mulai dari PKSsasi hingga memicu bermunculannya broker politik. Sejak awal abad ke-19, Guru Besar Sejarah Modern Universitas Cambridge, Inggris, Lord Acton, menyadari tentang paradoksal kekuasaan.

Untuk itulah muncul teorinya yang terkenal bahwa kekuasaan itu cenderung korup, sementara kekuasaan mutlak cenderung korupsi dengan mutlak. Kekuasaan dan korupsi memang bagaikan dua hal yang sulit untuk dipisahkan.Sebab, tindakan korup cenderung mengiringi kekuasaan, sebaliknya kekuasaan merupakan pintu terbaik untuk melakukan korupsi.

Pakar Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hermawan Sulistyo, yang kerap disapa Kiki, menyatakan, kini sudah mulai muncul gerakan PKS-sasi. Padahal, PKS merupakan partai yang mendeklarasikan diri sebagai partai yang bersih sehingga karena kepercayaan publik inilah, PKS meraih banyak dukungan dari masyarakat.

Tentu saja kritik semacam itu harus menjadi ”peringatan” bagi PKS untuk tetap menjaga idealisme seandainya meraih kue kekuasaan. Paling tidak,masyarakat harus membantu ikut mengawasi PKS agar tetap menjalankan perannya dengan amanah. Hermawan kembali mencontohkan fenomena PKS-sasi dalam jajaran pejabat Departemen Pertanian (Deptan). Menurut dia, karena Menteri Pertanian dijabat perwakilan dari PKS,akhirnya jajaran di bawahnya pun dipegang kader dari partai kader ini.

”Di departemen itu ada PKSsasi, dari tingkat atas sampai paling bawah,”ujarnya. Namun, hal itu dibantah Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq.Bahkan,diamenjamin, tidak hanya di lembaga yang menangani masalah pangan itu, di semua lembaga pemerintah, PKS sebagai partai tidak akan ikut campur.Pihaknya mempersilakan semua pihak untuk menelusuri jika memang ada fenomena PKSsasi, mulai SDM pejabat tingkat eselon I ke bawah atau program-program yang digulirkan.

Semua pejabat di eselon I Deptan merupakan pejabat karier. Satu-satunya yang nonkarier adalah staf ahli dan ini merupakan kewenangan menteri dalam memutuskannya sehingga partai tidak ikut campur. ”Coba Anda lihat dalam semua program atau proyek di Deptan, PKS tidak ikut campur dan semua proyek itu murni karena persaingan bisnis bukan atas nama partai,”katanya.

Mahfudz menilai isu adanya PKS-sasi ini murni lebih merupakan bentuk kampanye negatif dari lawan politik PKS jelang 2009. Maka, dia meminta kepada masyarakat untuk tidak langsung percaya atas isu-isu negatif yang diembuskan guna menggembosi citra PKS.

”Insya Allah hingga hari ini kami masih berusaha untuk amanah,”tandasnya. Namun,jika kekhawatiran Hermawan itu benar, isi adagium yang dilontarkan Lord Acton tersebut kini mulai membayangi PKS. Selain itu,PKS masih mendapat tantangan dari citranya sendiri, yakni sebagai partai yang lekat akan ideologis. Jadi, terkesan lebih eksklusif bagi masyarakat perkotaan serta kurang bisa membaur dengan masyarakat di pedesaan. Fenomena PAN lain lagi.

Strategi ala marketing yang merupakan terobosan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Soetrisno Bachir (SB) justru bisa mengakibatkan makin maraknya broker politik ikut bermain. Para broker inilah yang nantinya akan menafsirkan dan menerjemahkan performance yang ditampilkan SB melalui iklan di media massa untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat.

Jika SB tidakjelidalammelihathalini, para broker politik bisa saja semakin memperbaiki atau justru memperburuk citra SB di mata masyarakat.Padahal, broker politik ini memiliki pengaruh cukup penting di masyarakat.” Masyarakat dalam menentukan pilihan tergantung cultural broker dan political broker,”tambah Kiki.

Menurut dia,strategi menjadi terkenal yang dilakukan SB melalui iklan memang cukup jitu. ”Sebab, setelah mengiklankan dirinya dan dikenal masyarakat, tidak serta-merta masyarakat akan memilihnya,”tandasnya. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/isu-pks-sasi-hingga-broker-politik-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment