Bisik-Bisik ”ABS”
Saturday, 31 May 2008
Kebijakan menaikkan harga BBM mengancam karier politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Akibatnya, muncul semacam gerakan ”ABS”.
Fenomenal! Status itulah yang pernah disandang Partai Demokrat (PD).Bagaimana tidak,selang waktu dua tahun sejak dideklarasikan (2002), partai pengusung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini langsung menempati posisi kelima pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2004.
Popularitas SBY menjadi faktor penentu kecepatan ”bayi ajaib”–julukan PD ketika itu–berkiprah di kancah politik nasional.Status fenomenal PD semakin kukuh ketika pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 berhasil mengantarkan SBY ke kursi presiden. Pada saat yang sama,PD menjadi partai yang berada di bawah bayang-bayang SBY.
Namun kini, siapa yang berani menjamin keajaiban PD pada 2004 akan terulang pada 2009? Boleh jadi, fenomena PD tidak datang untuk kedua kalinya.Artinya,PD merupakan fenomena ”kagetan” dalam politik nasional. Apalagi, posisi PD saat ini kurang menguntungkan.Bahkan,kini muncul wacana ”ABS” (asal bukan SBY).
Hal ini akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dianggap tidak populer dan tidak prorakyat. Akibatnya, hujatan dan aksi demonstrasi merebak di seluruh penjuru Tanah Air.Tak pelak,PD pun kena getahnya. ”Kami lebih memilih mengambil sikap diam.Sebab,apa pun argumentasi kami, akan sia-sia melawan hiruk-pikuk saat ini,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PD Ahmad Mubarok kepada SINDO.
Kebijakan menaikkan harga BBM membuat popularitas Presiden SBY menurun. Bukan tidak mungkin, kondisi ini berimbas pada popularitas PD yang kini menempati posisi partai papan atas bersama Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Faktanya, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia, Maret 2007 memprediksi,PD hanya mendapat 16,3% kepercayaan responden,berada di bawah PDIP (22,6%) disusul Partai Golkar (16,5%).
Data tersebut menunjukkan PD harus bekerja keras jika ingin benar-benar memenangi Pemilu 2009. Sementara analisis Lembaga Survei Indonesia (LSI) Mei 2008 menunjukkan, kepuasan publik terhadap kinerja Presiden SBY menurun menjadi 54% dibanding Oktober 2007 yang masih mengantongi angka 67%.
Padahal, survei LSI terhadap kinerja Presiden SBY sempat mencapai tingkat kepuasan masyarakat yang mencapai 80% (November 2004).Namun,capaian itu terus merosot.Pada Juni–Juli 2005, tingkat kepuasan masyarakat turun menjadi 71%, September– Oktober 2006 (67%) dan bertahan hingga Februari 2007.Pada Mei 2008, popularitas SBY terus merosot meski angka persentasenya masih di atas tokoh lain. SBY masih mendapatkan dukungan 35% responden.
Sementara Megawati Soekarnoputri berada di urutan kedua dengan angka 28%, Wiranto (7%), Amien Rais (6,5%), Hidayat Nur Wahid (5%),Jusuf Kalla (4%), Sutiyoso (1%),serta menyatakan belum tahu (11,5%).Tidak hanya LSI, hasil survei Indo- Barometer pun mengungkapkan hal serupa. Akhir 2007 Direktur Eksekutif IndoBarometer Muhammad Qodari menyatakan SBY masih berpeluang unggul pada 2009 dengan nilai 35%.Namun jika SBY gagal maka yang berpeluang naik adalah Megawati.
Hukum Paralel SBYDemokrat
Figur SBY begitu melekat pada partai yang mengklaim diri memiliki asas nasionalis religius.Hal ini membuat berlakunya hukum paralel antara SBY dan PD.Jika SBY populer, PD pun demikian.Begitu pun sebaliknya, ketika SBY dianggap tidak prorakyat dan popularitasnya anjlok, imbasnya akan dirasakan PD.
”DemokratdanPakSBYitusudahmenyatu jadi tidak bisa dipisahpisahkan,” tandas Mubarok. Kondisi ”tidak menguntungkan” PD saat ini tidak membuat partai yang dibidani SBY pada 25 September 2001 itu terpengaruh. Sesuai hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PD di Semarang akhir tahun lalu, partai ini mematok target perolehan suara 15% pada Pemilu 2009.
Jajaran kader PD mempercayai partai ini masih memiliki magnet politik yang cukup kuat di masyarakat. Sekretaris Jenderal DPP PD Marzuki Alie menjelaskan, target 15% suara didasarkan pada analisis di beberapa daerah yang tidak mendapatkankursipada2004, justrupada 2009 mendatang diprediksi akan mendapatkan kursi. PD berharap pada daerah dengan jumlah kursi sempit antara tiga sampai dengan lima kursi per daerah pemilihan (dapil).
Pun pada sejumlah daerah yang dahulunya merupakan basis partai lain,yang kini dapilnya bertambah, di antaranya Maluku Utara,Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan yang hanya meraih satu kursi dari dua dapil saat ini menjadi tiga dapil. Begitu juga dengan Maluku, Bengkulu, Sumatera Barat, Papua Barat yang menunjukkan potensi serupa. Bahkan, PD menargetkan dari 77 dapil yang ada akan mampu meraih 100 kursi legislatif.
”Saat ini kami sedang memetakan di mana kekuatan kami dan di mana perlu dilakukan perkuatan, tentunya data ini hanya untuk internal,”tuturnya. Marzuki menjamin pihaknya tidak tinggal diam untuk segera memulihkan keadaan yang tidak menguntungkan partainya saat ini. Sebanyak 3.200 kader pimpinan PD se- Indonesia diberikan pelatihan kepemimpinan yang selanjutnya akan disebar ke daerah-daerah sebagai agen pendidik politik bagi masyarakat.
Agen-agen inilah yang akan membangun opini publik untuk mengantisipasi kampanye negatif dari lawanlawan politik, termasuk untuk menghadapi gerakan ”ABS” atau ”yang penting bukan dengan Demokrat” menjelang 2009 mendatang. ”Kami tidak mau berandaiandai, kita buktikan saja nanti pada 2009,” tegasnya seraya menyatakan partainya akan mampu melewati semua tantangan itu. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/bisik-bisik-abs-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment