Jumat, 18 Juni 2010

Selangkah Menuju Bintang Lima

Setelah melalui beragam pembenahan Garuda Indonesia Airlines akhirnya mampu meraih predikat sebagai airlines bintang empat. Selangkah lagi menuju jajaran airlines papan atas di dunia.

Beragam pembenahan dilakukan oleh manajemen Garuda demi statusnya sebagai perusahaan maskapai kelas papan atas dunia. Tidak sia-sia, sejak awal tahun 2009 Garuda mendapatkan predikat sebagai maskapai bintang empat dari Skytrax, sebuah lembaga swasta pemeringkat maskapai penerbangan dunia yang berkedudukan di London, Inggris yang berdiri sejak tahun 1989. sebelumnya Garuda memiliki predikat sebagai maskapai bintang tiga.

Peringkat bintang empat diberikan kepada sebuah maskapai karena dianggap memiliki standar yang baik dalam semua kategori produk dan layanan yang diberikan. Yakni dengan mengombinasikan standar yang baik atas pelayanan staf dalam semua lini bisnis maupun di bandara. Selangkah lagi Garuda bisa meraih predikat bintang lima, yang merupakan peringkat tertinggi dari perangkingan ini.

Menurut Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar beberapa pembenahan yang dilakukan Garuda secara bertahap sejak tahun 2005 diantaranya, di bidang operasi, manajemen & SDM, keuangan dan servis. Peningkatan peringkat layanan ini sesuai dengan hasil audit yang dilaksanakan oleh Skytrax sejak Oktober 2009 pada beberapa rute penerbangan Garuda Indonesia seperti Singapura, Melbourne, Beijing, Denpasar (Bali), Jakarta, Perth, Sydney, Hongkong, dan Seoul. Mulai Juni 2010 ini Garuda juga kembali membuka jalur penerbangannya ke Eropa.

“Saat ini Garuda Indonesia merupakan salah satu dari hanya 27 maskapai penerbangan dunia yang menyandang peringkat bintang empat dari sebanyak 210 maskapai penerbangan dunia”, ujar Emir.

Untuk mencapai target sebagai maskapai penerbangan berbintang empat, Garuda Indonesia telah melakukan berbagai upaya dan strategi peningkatan layanan. Melalui konsep layanan berbasis akar kebudayaan Indonesia, dengan slogan ‘Garuda Indonesia Experience. Diantaranya berupa penambahan 50 pesawat baru Boeing 737-800NG, 4 A330-200 dan refurbishment pesawat A330-300.

Garuda juga mendatangkan sebanyak 24 pesawat yang terdiri dari 23 pesawat B-737-800NG dan satu pesawat Airbus 330-200, serta membuka 10 rute baru di domestik dan internasional. Di masa mendatang, pada tahun 2014 mendatang Garuda berencana akan semakin meningkatkan kinerjanya. Melalui program quantum leap, Garuda akan meningkatkan jumlah pesawat menjadi 116 pesawat dari 67 pesawat saat ini. Kemudian peningkatan jumlah frekuensi dari 1700 per minggu saat ini menjadi 3000 per minggu, peningkatan jumlah penumpang dari 10,3 juta menjadi 27,6 juta penumpang pertahun, peningkatan pendapatan operasional dari Rp18.1 triliun menjadi Rp57,6 triliun. Serta rencana peningkatan net profit dari Rp. 669 miliar pada tahun 2008 menjadi Rp. 3,757 triliun pada tahun 2014.

Buktinya, Garuda Indonesia berhasil membukukan keuntungan (laba bersih) sebesar Rp 1.009 triliun pada tahun 2009 dengan laba usaha sebesar Rp807,6 miliar. Humas Garuda Pujobroto menyatakan, laba bersih tersebut jauh meningkat dibanding keuntungan tahun 2008 lalu yang sebesar Rp669 miliar.

Program dalam bidang komersial termasuk peningkatan aspek pelayanan, Garuda Indonesia berhasil meningkatkan jumlah penumpang yang diangkut dari tahun 2008 sebanyak 10,1 juta penumpang menjadi 10,3 juta penumpang pada tahun 2009 atau meningkat 3%. Garuda juga meningkatkan kapasitas produksi dari 20,1 juta seat kilometer pada tahun 2008 menjadi 20, 9 juta seat kilometer pada tahun 2009 atau mengalami peningkatan sebesar 4%. Tingkat isian penumpang pada tahun 2009 adalah 74% sementara ketepatan waktu penerbangan 83%.

Bagaimanapun kini Garuda sudah naik pangkat menjadi bintang empat. Sebuah prestasi maskapai dalam negeri yang layak dihargai. Meskipun masih banyak yang harus dilakukan Garuda untuk mengejar ketertinggalan dibanding maskapai lain dari negara tetangga. CEO Skytrax Edward M Plaisted mengatakan pemberian sertifikat bintang empat merupakan pengakuan atas kualitas layanan dan produk yang diberikan oleh para pegawai di garda depan Garuda Indonesia yang telah memenuhi standar.

“Garuda Indonesia telah mengalami transformasi menuju peningkatan layanan secara signifikan secara terus menerus dalam beberapa tahun ini”, ungkap Pleisted.

Sebagaimana dilansir dalam situs resmi Skytrax, selain Garuda, beberapa maskapai yang juga meraih predikat bintang empat diantaranya, Air New Zealand, Air Berlin, Air France, ANA All Nippon Airways, Austrian, Bangkok Airways, British Airways, China Airlines. Kemudian, Dragonair, Emirates, Etihad Airways, EVA Air, Finnair, dan Hainan Airlines yang merupakan satu-satunya dan pertama maskapai China yang berhasil meraih bintang empat. Selanjutnya, Japan Airlines, JetBlue Airways, Korean Air, Lufthansa, Porter Airlines, Qantas Airways, Silk Air, South African Airways, Swiss Int'l Air Lines, Thai Airways, Turkish Airlines, Virgin Atlantic, serta Virgin Blue.

Menurut Skytrax, perankingan untuk setiap maskapai menunjukkan tentang ringkasa dari analisa dan ranking kualitas sebenarnya yang diaplikasikan ke semua produk dan layanan maskapai sesuai standar Skytrax. Sementara untuk meraih predikat bintang lima, maka penilaian melalui 800 indikator penilaian sisi produk dan layanan maskapai. Peringkat bintang lima merupakan standar tinggi untuk produk dan layanan di airport, kabin, dan lainnya untuk lintas kategori. Biasanya maskapai yang berhasil meraih bintang lima adalah menjadi tren setter bagi maskapai lainnya.

Skytrax melansir, beberapa maskapai yang berhasil meraih bintang lima diantaranya, Asiana Airlines, Kingfisher Airlines, Cathay Pacific, Malaysia Airlines, Qatar Airways, dan Singapore Airlines.

“Hal paling penting dari status bintang lima adalah tentang kemampuan maskapai dalam mengombinasikan produk dan layanan,” ujar CEO Skytrax Edward Plaisted.

Standar produk yang tinggi tidak akan secara otomatis mendapat predikat bintang lima. Namun Skytrax menilai kualitas layanan yang disediakan maskapai. Bisa jadi sebuah maskapai hanya mampu memenuhi 70-80% analisa produk, namun jika mampu mencapai 90% dari item pelayanan yang dinilai, maka sebuah maskapai layak mendapat predikat bintang lima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment