Berdasarkan hasil pertemuan tahunan Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (The International Air Transport Association/IATA) dalam forum “66th IATA Annual General Meeting and World Air Transport Summit”di Berlin, Jerman diungkapkan beberapa fakta penting seputar industri ini. Laporan yang dipublikasi (07/06) tersebut mengungkap tentang potret industri penerbangan saat ini. Diantaranya, angka jumlah penumpang mencapai 2,4 miliar.
Kemudian angka barang bawaan kargo seberat 43 miliar ton, yang menciptakan 32 juta lapangan pekerjaan. Hanya terjadi satu kali kecelakaan per 1,4 juta kali penerbangan. Industri penerbangan hanya menyumbang 2% dari emisi karbon. Angka pendapatan mencapai USD545 miliar, dengan USD54 miliar diantaranya dari penyedia atau maskapai yang memonopoli. Besar utang sebanyak USD217 miliar.
“Ini adalah potret industri penerbangan saat ini. Kemampuan industri ini untuk bertahan telah teruji dari hantaman dampak penyakit, perang, terorisme, tidak menentunya harga minyak, bahkan gunung berapi. Resesi ekonomi yang terbuk selama 80 tahun pun menurunkan pendapatan USD81 miliar yang mengakibatkan kerugian hampir USD10 miliar pada tahun 2009,” ungkap IATA sebagaimana dilansir dalam situs resminya.
Meski demikian, menurut IATA saat ini mulai muncul keoptimisan atas kinerja industri ini. Arus lalu lintas penerbangan global kondisinya sudah kembali seperti masa sebelum krisis yang hampir mencapai angka 80%, dan semakin membaik. Asia Pasifik merupakan kawasan yang mendorong pemulihan dengan meraih keuntungan sebesar USD2,2 miliar. Sementara Amerika Utara juga demikian akan meraih keuntungan USD1,9 miliar. Maskapai-maskapai Amerika Latin akan kembali meraih keuntungan sebesar USD900 juta, satu-satunya kawasan yang mencatat keuntungan secara berturut-turut.
Sedangkan kawasan Timur Tengah dan Afrika akan meraih keuntungan masing-masing sebesar USD100 juta. Meski demikian tidak semua kawasan meraih keuntungan yang sama. Contohnya Eropa dengan kondisi ekonominya yang melemah akan mengalami kerugian USD2,8 miliar.
Secara kapasitas, prediksi tentang kenaikan akan memberikan godaan tersendiri. Sebanyak 1.340 unit pesawat beroperasi tahun ini dan hanya 500 unit yang mengalami penggantian. Kunci penting adalah bagaimana mengejar keuntungan bukan market share, hanya inilah cara untuk melindungi kinerja industri tahun ini. M
Untuk masalah ketenagakerjaan adalah risiko selanjutnya. Upah atau pembayaran yang diperoleh tidak akan mengalami kenaikan tahun ini akibat kerugian industri tahun lalu. Kru pesawat dan pilot harus berlapang dada menerima kenyataan ini. Untuk biaya eksternal seperti bandara, penyedia layanan navigasi udara, dan suplier bahan bakar pada tahun 2009 IATA berhasil menghemat USD2,1 miliar. Namun biaya suplier kembali meningkat total lebih dari USD2,6 miliar.
Untuk pajak, pemerintah banyak negara memberikan pinjaman dana talangan sebesar USD2,7 miliar guna mendorong ekonomi dan mendukung nilai tukar mata uang. Namun maskapai dan penumpang seharusnya tidak mendapatkan guna meminimalisir dampak resesi. Sehingga semua kenaikan pajak, menurut IATA seharusnya langsung ditujukan kepada sektor perbankan dengan bonus dana talangan mereka.
Tidak kalah penting adalah bahan bakar minyak. Dari harga USD40 per barel pada tahun 2009, minyak mentah hampir menyentuh harga USD90 per barel tahun ini. Ini merupakan sesuatu yang kritis bagi bisnis penerbangan, namun banyak spekulator mendapatkan banyak keuntungan. Sehingga pemerintah negara-negara harus melakukan langkah proteksi ekononomi dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab.
Dengan fakta-fakta tersebut maka langkah yang harus dilakukan, menurut IATA adalah dengan meminimalisir risiko dan berjuang melawan kerugian. Kini waktunya bagi bisnis penerbangan untuk berfikir besar. Visi IATA dalam industri penerbangan adalah mulai dengan mengutamakan keselamatan. Sehingga akan dicapai angka 0 kecelakaan. Dengan cara memanfaatkan teknologi untuk merubah lini bisnis mulai di darat hingga udara. Mengoperasikan bisnis ini dengan tanpa penundaan jadwal secara global.
Konsolidasi di tubuh industri penerbangan yang didalamnya terdapat lusinan brand yang didukung oleh kawasan dan pemain yang handal. Dengan cara memberikan nilai bagi investor. Pada masa satu dekade mendatang, industri penerbangan bisa optimistis untuk meraih keuntungan sebesar USD100 miliar dari pendapatan sebesar USD1 triliun. Pada tahun 2050 mendatang, 10% keuntungan bukan mustahil bisa terwujud.
Dengan belajar dari masa lalu, diantaranya berbagai peristiwa kecelakaan maka industri ini harus berubah. Setidaknya angka kecelakaan telah berhasil diturunkan sebanyak lebih dari 30%. Bahkan industri ini masih mampu bertahan meskipun harga minyak mencapai angka USD144 per barel. Kemudian produktifitas tenaga kerja di industri penerbangan meningkat 63%, arus lalu lintas juga meningkat 56%. Asia Pasifik tumbuh menjadi kawasan dengan pasar terbesar atau sepertiga di dunia. Kini industri ini fokus pada solusi global untuk menurunkan angka kebisingan dan angka emisi karbon.
Beragam tantangan harus dijawab dengan perubahan. Kini, terdapat sebanyak 2,4 miliar industri yang potensial dan angkanya semakin meningkat dengan cepat. Guna mewujudkan visi ini menjadi kenyataan, maka industri penerbangan harus membenahi nilai bisnisnya, termasuk harga, kecepatan, dan kualitas. Biaya tarif penerbangan kini 40% lebih murah dibandingkan sebelumnya. Sehingga biaya perjalanan udara kini jauh lebih terjangkau, namun ironinya kecepatan dan kualitas agak terkorbankan. Untuk itu infrastruktur harus diperbaiki baik di darat maupun di udara. Serta proses keamanan yang baru harus diciptakan namun tetap dengan orientasi menyederhanakan bisnis.
“kini tantangan kita adalah bagaimana untuk memperoleh dukungan dari konsumen untuk mendorong pemerintah melaksanakan kebijakannya dengan akuntabel. Apakah kita bisa? Ya kita bisa dengan catatan harus mau dan bisa berubah. Visi kita pada tahun 2050 adalah tentang keuntungan, infrastruktur, sumber energi baru dan konsumen,” papar IATA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment