Jumat, 18 Juni 2010

Industri Penerbangan Global Pulih

Industri penerbangan mulai pulih dan kembali meraih keuntungan. Namun untuk industri di kawasan Eropa masih berada di zona merah, akibat bencana asap beberapa waktu terakhir.

Dampak krisis global yang sebelumnya juga menghantam industri penerbangan global mulai berakhir. Sebagian besar industri di beberapa kawasan di dunia mulai beroleh keuntungan bisnis. Namun untuk kawasan Eropa, kinerja industri ini masih tetap dalam zona merah akibat dampak letusan asap gunung berapi di Islandia beberapa waktu terakhir.

Laporan resmi Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (The International Air Transport Association/IATA) yang dipublikasi (07/06) memprediksikan keuntungan bisnis penerbangan secara global akan mencapai angka USD2,5 miliar pada tahun 2010 ini. Padahal pada laporan sebelumnya (Maret 2010) IATA masih memprediksikan industri penerbangan global masih akan mengalami kerugian sebesar USD2,8 miliar. Dengan demikian industri penerbangan akan kembali pulih dari dampak krisis, meski pada beberapa kawasan di dunia masih tampak harus bekerja keras.

IATA memproyeksi pendapatan industri global pada tahun 2010 ini mencapai USD545 miliar. Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan USD483 miliar pendapatan pada tahun 2009. Meskipun masih di bawah angka pendapatan pada tahun 2008 sebesar USD564 miliar. Menurut IATA, kondisi perekonomian global telah pulih dengan cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dengan kondisi ini, industri penerbangan pun memperoleh keuntungan dari pemulihan ekonomi global dengan tingginya angka penerbangan yang mendorong industri ini pulih dengan cepat.

“Kami berfikir setidaknya akan butuh waktu tiga tahun bagi industri penerbangan untuk pulih dari angka USD8,1 miliar atau penurunan sebesar 14,3% angka pendapatan tahun 2009. Namun dengan peningkatan pendapatan sebesar USD62 miliar tahun ini akan menempatkan kita pada level 75% masa sebelum krisis,” ungkap Direktur Jenderal dan CEO IATA Giovanni Bisignani sebagaimana dilansir dalam situs resmi IATA.

Bisignani menjelaskan keuntungan sebesar USD2,5 miliar diprediksikan berasal dari beberapa indikator pemulihan. Diantaranya, dari angka keuntungan 0,5% yang merupakan keuntungan berkesinambungan. Kemudian, sebagian besar pelaku industri ini masih mengalami kerugian besar.

“Ekonomi yang stagnan, bencana alam, krisis nilai tukar telah membuat industri di kawasan Eropa harus bekerja keras untuk menghadapi ancaman kerugian USD2,8 miliar,” ujarnya.

Untuk angka jumlah penumpang diprediksi meningkat 7,1% pada tahun 2010 ini. Sementara lalu lintas kargo atau angkutan barang akan meningkat 18,5%. Angka ini menurut IATA jauh lebih baik dibandingkan prediksi sebelumnya hanya diproyeksi naik masing-masing 5,6% dan 12.0%. Pada kuartal I tahun 2010, secara tahunan industri penerbangan tumbuh 9% untuk angka penumpang dan 26% untuk kargo. Kebanyakan pertumbuhan industri penerbangan kargo sangat terkait dengan rasio penjualan dan inventaris normal yang diekspektasikan akan tumbuh moderat didorong oleh belanja konsumen.

Angka yield diprediksikan akan tumbuh 4,5% untuk bisnis penerbangan kargo maupun penumpang. Ini merupakan perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu yang angka yield tumbuh 2,0% untuk pasar penumpang dan 3,1% untuk kargo. Angka pertumbuhan 4,5% adalah mempertimbangkan inflasi harga konsumen. Indikator tersebut memiliki kontribusi kuat terhadap peningkatan 13% pendapatan pada tahun 2010. meskipun meningkat namun angka pendapatan masih 4% dibawah pendapatan tahun 2008.

IATA melaporkan kapasitas baru akan ditambahkan dalam sistem global sebagai hasil dari sebanyak 1.340 unit pesawat ikut meramaikan industri pada tahun 2010 ini. Angka tersebut termasuk penggantian terhadap 500 pesawat, sementara lainnya secara umum merupakan jumlah kapasitas yang baru.

“Selama lebih dari setahun kami berharap rata-rata angka permintaan akan membaik 10,2% untuk kargo dan penumpang, sehingga bisa mencapai target kenaikan kapasitas 5,4%,” ungkap IATA.

Terkait dengan kondisi industri di kawasan Eropa akibat dampak asap gunung berapi Islandia yang mulai membaik sejak April 2010. meski demikian, dampak peristiwa itu telah membuat sebanyak 100.000 pembatalan penerbangan terkait dengan tujuan ke dan dari Eropa selama lebih dari enam hari. Kondisi ini terjadi tidak menentu dan potensial akan terjadi kembali di masa mendatang. Sehingga tampak seperti kejutan pendek. Namun data awal Mei menunjukkan lalu lintas penerbangan Eropa mulai bangkit.

Secara per kawasan, IATA memprediksi kinerjanya akan berbeda-beda. Ini karena pemulihan pasca resesi tidaklah terjadi simetris. Memburuknya kondisi di Eropa tampak kontras dibandingkan semua kawasan lainnya.

Untuk kawasan Asia Pasifik diprediksikan akan melanjutkan keuntungan dari pertumbuhan kawasan yang cukup kuat dibandingkan ekspektasi pertumbuhan produk domestrik bruto (PDB) global yang diproyeksi tumbuh 2,9%. Perekonomian Asia (tidak termasuk Jepang), diperkirakan akan tumbuh 7% tahun ini. China akan memimpin dengan PDB diperkirakan 9,9% tahun 2010 ini. Sebagai hasilnya, kondisi tersebut menjadikan industri penerbangan di kawasan Asia diperkirakan akan mampu memperoleh keuntungan terbesar dibandingkan kawasan lain yakni USD2,2 miliar. Angka ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan yang diperkirakan IATA sebelumnya sebesar USD900 juta pada Maret bahkan kerugian pada tahun 2009 sebesar USD2,7 miliar.

Industri penerbangan di kawasan Amerika Utara diperkirakan akan kembali meraih keuntungan sebesar USD1,9 miliar pada tahun 2010 ini. Padahal sebelumnya diprediksi rugi USD1,8 miliar pada tahun 2010 dengan dasar kinerja tahun 2009 yang merugi USD2,7 miliar. Perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan tumbuh sebesar 3,3% tahun ini. Dengan perbaikan kondisi ini membawa manfaat meningkatnya angka permintaan untuk penerbangan.

Untuk kawasan Amerika Latin diperkirakan akan mendapatkan keuntungan sebesar USD900 juta tahun 2010 ini. Angka itu naik tipis dibandingkan perkiraan sebelumnya yang sebesar USD800 juta. Sedang industri penerbangan kawasan Timur Tengah diperkirakan mencatat keuntungan USD100 juta pada tahun 2010 ini, yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2005. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar USD400 juta.

Kinerja industri penerbangan kawasan Afrika diproyeksi mencatat keuntungan USD100 juta tahun 2010 ini, atau yang tertinggi sejak tahun 2002. sementara untuk kawasan Eropa diprediksikan bakal mengalami kerugian sebesar USD2,8 miliar pada tahun 2010 ini. Prediksi angka kerugian ini jauh lebih dalam dibandingkan prediksi sebelumnya sebesar USD2,2 miliar, meskipun ada perbaikan jika dibandingkan kerugian pada tahun 2009 sebesar USD4,3 miliar.

“Bagaimanapun 70% dari kerugian sebesar USD1,8 miliar adalah akibat dari letusan gunung berapi yang mengganggu rute penerbangan di kawasan Eropa,” ujar IATA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment