Sunday, 01 February 2009
SEBAGAI mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri harus cermat dalam memilih calon pendamping untuk bertarung pada Pemilihan Presiden 2009.
Tidak cukup hanya mempertimbangkan ketokohan atau popularitas calon, tapi juga peluang dukungan suara (elektabilitas),besar kecilnya kendaraan politik,serta jumlah logistik yang dimiliki. Ibarat ingin menyunting calon pengantin,harus dilihat bibit, bebet,dan bobotnya. Apalagi, dalam berbagai hasil survei, popularitas Megawati dianggap kian redup.
Dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilansir awal Januari misalnya, tingkat elektoral Megawati hanya 19%. Angka ini jauh berada di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mendapat dukungan 43% responden. Sementara posisi ketiga ditempati Prabowo Subianto dan Sultan Hamengku Buwono X yang masing-masing mendapat dukungan 5%. Diikuti Wiranto (3%), Hidayat Nur Wahid (2%), Jusuf Kalla (2%), Amien Rais (1%), dan Akbar Tandjung (1%).
Sementara 4% lainnya untuk nama lain serta 15% responden mengaku belum tahu siapa yang akan dipilih. Dengan peta seperti ini,jelas Megawati tidak bisa gegabah dalam memilih cawapres yang nantinya akan mendampinginya bertarung melawan SBY. Direktur Riset LSI Dodi Ambardi menyatakan, seharusnya PDIP lebih memilih faktor elektabilitas figur cawapres yang nantinya akan dipilih.
Sebab meski elektabilitas Mega sempat melampaui SBY berdasar hasil survei LSI Juni 2008,yakni dengan angka 30% untuk Mega dan 25% untuk SBY, sejak September dukungan responden cenderung menurun. Hanya 24% responden yang menyatakan akan memilih Mega, sementara untuk SBY meningkat menjadi 32%.Angka ini kian merosot pada Oktober 2008 di mana Mega hanya meraih dukungan 18% dan SBY menanjak menjadi 38%.Hingga terakhir Desember 2008, elektabilitas SBY semakin tidak terkejar oleh Mega.
”Banyak orang menyangsikan hasil survei kami. Bahkan kami dituding mendukung Pak SBY.Namun ternyata hasil survei dari beberapa lembaga lain juga menunjukkan hal serupa. Elektabilitas Bu Mega semakin merosot,sementara Pak SBY semakin menanjak,”ujar Dodi. Menurut Dodi,merosotnya dukungan responden terhadap Mega ternyata paralel dengan yang terjadi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sebanyak 24% responden menyatakan akan memilih PDIP pada Juni 2008, tapi kemudian turun menjadi 20% pada September 2008, 14% pada Oktober, dan 17% pada Desember 2008. Berdasar pemetaan inilah Dodi menyatakan PDIP harus menutupi kelemahan ini. Menurut dia, pilihan paling rasional yang bisa membantu PDIP mengatrol dukungan suara adalah sosok Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
”Kombinasi Mega-Sultan yang meskipun sama-sama orang Jawa memiliki potensi kuat untuk menuai suara. Ini terbukti dari beberapa kandidat yang diusulkan menjadi cawapres bagi Bu Mega,hanya Sultan yang berdasarkan hasil survei memiliki potensi paling tinggi dalam hal elektabilitas,” papar Dodi. Namun,menurut Dodi, semua kembali kepada PDIP dan Megawati dalam menentukan cawapres.
Sebab siapa pun yang dipilih tentu berdasarkan kebutuhan partai berlambang kepala banteng moncong putih dalam upayanya memenangi pemilu. Kalkulasi-kalkulasi politik tentang apa kriteria paling prioritas yang paling diinginkan PDIP. Memang Sultan unggul dalam hal ketokohan dan elektabilitas, tapi lemah dalam hal lain. ”Sekarang semuanya dikembalikan ke PDIP. Sebenarnya yang mereka butuhkan apa agar bisa menang?
Di sisi lain jangan lupa bahwa siapa pun yang terpilih menjadi cawapres yang mendampingi Ibu Mega nantinya,PDIP juga harus berhitung imbalan apa yang akan didapatkan oleh figur tersebut,”ujarnya. Sementara Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, logistik merupakan sesuatu yang saat ini paling dibutuhkan PDIP. Sebab untuk bisa memenangi pemilu legislatif maupun presiden yang tinggal dalam hitungan beberapa bulan mendatang, akan banyak diperlukan logistik.
Menurut dia,Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto adalah figur yang cocok mendampingi Megawati. Dibandingkan Sultan, Prabowo lebih unggul dalam hal logistik.Prabowo memiliki kendaraan partai sendiri, yang berdasarkan beberapa hasil survei popularitasnya semakin menanjak akibat gencarnya pencitraan melalui iklan di media massa.”Menurut saya Prabowo adalah sosok yang paling cocok mendampingi Ibu Mega,”ujarnya. Meski demikian, banyak kalangan menilai dua sosok ini,Prabowo dan Sultan,samasama memiliki kekurangan dan kelebihan.
Sultan memiliki peluang perolehan dukungan suara cukup tinggi meskipun didukung partaipartai kecil. Sementara di sisi lain, Prabowo juga memiliki kemampuan logistik dan kendaraan partai yang cukup bisa diandalkan.Kombinasi Mega- Prabowo menurut Qodari akan mampu memberikan peluang bagi PDIP untuk bisa memenangi pemilu legislatif maupun presiden. ”Dua sosok itu sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk Sultan ketokohannya tidak bisa diragukan lagi. Sementara Prabowo logistiknya bisa diandalkan,” paparnya.
Menurut Qodari, kriteria pokok yang harus dijadikan pertimbangan oleh PDIP dalam menentukan cawapres ada beberapa hal. Utamanya adalah ketokohan atau elektabilitas figur, logistik,kendaraan partai,serta kecocokan untuk bekerja dengan Megawati. Meski demikian, elektabilitas dan logistik adalah dua hal kunci yang paling dibutuhkan oleh PDIP saat ini. Memang figur populer tidak secara otomatis paralel dengan tingkat elektabilitasnya. Sebab pengalaman Pemilu 2004 silam telah memberikan pelajaran bagi Megawati.
Menurut Dodi Ambardi, pertimbangan kombinasi Mega- Hasyim Muzadi pada Pemilu 2004 silam diharapkan mampu menarik dukungan suara dari basis massa Nahdliyin. Namun buktinya, kepopuleran dan ketokohan Hasyim tidak mampu mendongkrak perolehan suara PDIP dalam berkompetisi meraih kursi presiden.
Untuk itu, beberapa nama tokoh yang disebut-sebut masuk sebagai kandidat cawapres bagi Megawati memang diakui cukup populer, tetapi tidak menjamin paralel memiliki peluang meraih dukungan suara dari masyarakat. Apalagi,dalam alam demokrasi multipartai seperti sekarang ini, posisi wapres bukan lagi sebagai pelengkap saja, tetapi memiliki peran yang signifikan dalam kinerja pemerintah.
Oleh karena itu, berbagai faktor mulai dari ketokohan, popularitas,kemampuan logistik, hingga kekuatan dukungan massa menjadi sesuatu yang sangat menentukan dalam membangun sebuah koalisi.Wapres memang bukan the real president, tetapi juga bukan ”ban serep” dalam tatanan negara. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/209638/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment