Selasa, 03 Februari 2009

Stimulus Fiskal - Pentingnya Langkah Penyelamatan

Sunday, 01 February 2009
DAMPAK krisis global yang diprediksikan akan memuncak tahun ini sehingga diperlukan berbagai upaya penyelamatan. Salah satunya termasuk menyediakan stimulus fiskal.

Meskipun sifatnya hanya sementara dan bersumber dari anggaran sisa APBN, stimulus dianggap cukup ampuh untuk membantu menyelamatkan kondisi perekonomian. Stimulus fiskal merupakan kebijakan yang sifatnya sementara dan terefleksi dalam APBN apakah menyangkut penerimaan maupun belanja kepada masyarakat atau dunia usaha.

”Kami membuat definisi yang setara dengan negara lain supaya kita bisa membandingkan volume stimulus satu negara dengan negara lain,”kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu di Jakarta (Antara,27/1) Meskipun sebelumnya banyak kalangan meragukan manfaat dari stimulus fiskal yang dianggap tidak akan memberi banyak perubahan, upaya penyelamatan ekonomi harus tetap dilakukan.

Dalam paparan Menteri Keuangan Sri Mulyani di hadapan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa pekan lalu, terungkap bahwa dampak krisis keuangan global demikian menghantam berbagai sektor ekonomi di dalam negeri.

Menurut Menkeu,Indonesia akan lebih siap dalam menghadapi krisis global dengan mengandalkan pasar domestik dan kebijakan fiskal countercyclical( melawan tren). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Depkeu,terungkap pada 2009 diprediksikan setiap sektor ekonomi mengalami koreksi pertumbuhan signifikan.

Di antaranya untuk komoditas tanaman bahan makanan yang memiliki orientasi pasar 100% domestik,pada 2009 ini diprediksi hanya akan tumbuh 4,5%. Padahal pada 2008 mampu mencatat pertumbuhan 5,4%. Demikian pula komoditas-komoditas lainnya, yakni perkebunan pada 2009 tumbuh 2,5%, 2008 4%.

Kemudian, peternakan pada 2009 2,1%, 2008 3,5%; kehutanan pada 2009 - 1,5%, 2008 -0,8%, perikanan 2009 2%, 2008 3%, dan penggalian 2009 7,8%, 2008 5,0%; industri bukan migas pada 2009 2,5%,2008 4%. Selanjutnya, listrik, gas dan air minum pada 2009 6,5%, 2008 10,5%; bangunan pada 2009 5%,2008 7,5%,perdagangan 2009 6,5%, 2008 7,5%; restoran dan hotel pada 2009 4%, 2008 5%; serta pengangkutan pada 2009 3%, 2008 3,5%.

Demikian pula halnya dengan industri komunikasi yang mengalami penurunan pada 2009 10%,2008 15%; keuangan pada 2009 5%,2008 8,5%,jasa lain pada 2009 5%, 2008 7,5%. Kemudian kegiatan bisnis yang tak jelas batasannya pada 2009 hanya tumbuh 5%,sementara pada 2008 mencatat pertumbuhan 7,5%.Untuk sektor pemerintahan umum pada 2009 diprediksi mencatat pertumbuhan tetap dibandingkan 2008, yakni 5%.Hanya beberapa sektor industri yang diprediksi mengalami kenaikan laju pertumbuhan.

Di antaranya pertambangan migas 2009 2,5%, 2008 0,0%, pertambangan bukan migas 2009 2,5%, 2008 0,0%, serta industri migas 2009 5%, 2008 0%. Dengan asumsi inilah diprediksi total produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya akan mengalami laju pertumbuhan sebesar 5%. Menkeu juga memaparkan dampak krisis global terhadap depresiasi harga saham dan nilai tukar selama Januari–Desember 2008.

Menurut Menkeu,depresiasi nilai tukar mata uang Indonesia sebesar -17,51. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan Thailand (17,90), Brasil (-34,67), dan Korea (34,66). Sementara beberapa negara lain mencatat angka depresiasi nilai tukar lebih baik dibandingkan Indonesia, yakni Filipina (-14,82), Malaysia (-5,01), dan Singapura yang hanya mengalami depresiasi nilai tukar 0,22.

Namun, untuk indeks harga saham, Indonesia mengalami depresiasi paling buruk, yakni mencapai angka - 50,6.SementaraSingapura hanya - 48,9, Malaysia -39,0, Filipina -48,3, Thailand -47,6, Brasil -42,0, dan Korea -40,7. Selain itu nilai ekspor dan impor Indonesia mulai menunjukkan angka penurunan selama beberapa bulan terakhir.

Untuk itulah pemerintah akhirnya merevisi perkembangan indikator ekonomi makro untuk 2009 ini, yakni pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya ditargetkan 6% menjadi 4,5-5,5%.Kemudian angka inflasi diprediksi tetap di angka 6%, suku bunga SBI tiga bulan 7,5%, nilai tukar rupiah diprediksi pada level Rp11.000 per USD, serta harga minyak mentah di estimasi sebesar USD45 per barel.

Oleh karena itu, peme-rintah telah melakukan berbagai skenario penyela-matan ekonomi. Di antaranya dengan penempatan likuiditas dana di bank-bank badan usaha milik negara (BUMN), menerbitkan dua perppu, yakni untuk penjaminan dan kolateral pinjaman, mengajukan rancangan undang-undang (RUU) Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK),menyelamatkan risiko sistemik Bank Century, melonggarkan aturanaturan perbankan dan pasar modal,serta buybacksaham. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/209763/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment