Sulitnya Mencari Pendamping Mega
Sunday, 01 February 2009
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sangat berhati-hati dalam menentukan siapa pendamping Megawati dalam pilpres.Semua kalkulasi politik dihitung secara cermat agar tak salah langkah.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP yang digelar di Solo, Jawa Tengah, awal pekan lalu, disebut-sebut banyak kalangan sebagai antiklimaks partai banteng moncong putih dalam lingkaran itu. Rasa penasaran masyarakat tentang siapa calon pendamping Mega dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 tidak terjawab.
Maklum, setelah Megawati mendeklarasikan diri sebagai calon presiden (capres) dari PDIP pada akhir 2007 silam, banyak orang menunggu dan bertanya-tanya, siapa yang bakal mendampinginya pada pertarungan pilpres mendatang? Sebab banyak kalangan berpendapat, cawapres pendamping Mega merupakan kartu truf untuk mengukur seberapa besar peluang Presiden RI kelima itu kembali menuju istana.
Sayang, rakernas yang dilaksanakan di The Sunan Hotel, Solo, pada 27–28 Januari lalu itu tidak mengumumkan siapa yang bakal mendampingi Mega. Memang sebelumnya sudah terjaring 14 nama tokoh, yang kemudian menyusut menjadi 10, dan dalam rakernas tersebut diumumkan tiga nama kandidat terkuat.”Semula ada 14 nama yang muncul, kemudian menyusut menjadi 10,5,dan akhirnya dalam rakernas ini dikerucutkan menjadi 3 nama,”kata Ketua Panitia Rakernas IV PDIP Puan Maharani seperti dilansir Antara.
Di akhir rakernas, PDIP mengumumkan lima kriteria umum cawapres yang bakal mendampingi Mega.Dalam pidato penutupan,Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pun menyatakan nama cawapres akan diumumkan pada rakernas berikutnya.”Rakernas yang akan datang akan menjadi puncak penentuan cawapres pendamping dalam pemilu,”kata Megawati.
Selama rakernas, sejumlah nama tokoh disebut-sebut sebagai kandidat cawapres yang akan dipilih, di antaranya Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto,dan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
Bahkan nama Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Surya Paloh pun ikut mengemuka selama rakernas berlangsung. Sultan merupakan kandidat terkuat karena dianggap memiliki ketokohan yang tidak diragukan. Selain menjadi raja Yogyakarta, berdasar beberapa hasil survei tingkat elektabilitas Sultan unggul dibandingkan kandidat lain.Meski begitu, Prabowo juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab, pencitraan melalui iklan di media massa yang dilakukannya selama ini terbukti cukup mendongkrak popularitas mantan Pangkostrad itu.
Antara satu tokoh dan lainnya masing-masing memiliki kelebihan. Apa pun perdebatannya,masyarakat harus tetap sabar menunggu. Sebab PDIP tidak akan gegabah membuat keputusan siapa cawapres pendamping Mega tanpa pertimbangan yang benar-benar matang. Toh, selama beberapa bulan mendatang hingga pelaksanaan pemilihan legislatif selesai dilaksanakan merupakan masa paling dinamis bagi iklim perpolit ikan dinegeri ini.
Sebagaimana yang dilakukan kebanyakan partai politik maupun calon presiden lain, yakni mengumumkan koalisinya atau cawapresnya pascapemilu legislatif. PDIP pun tampaknya akan melakukan strategi serupa. Setidaknya, strategi ini merupakan cara aman dari tingginya ongkos politik yang harus dibayar apabila cawapres ditentukan sebelum pemilu legislatif. Sebab memilih cawapres bukan hanya berbicara tentang siapa tokoh yang bisa dianggap menguntungkan bagi PDIP, tetapi koalisi seperti apa yang akan dibentuk nantinya?
Apalagi,sejumlah nama tersebut merupakan capres dari partai lain sehingga koalisi yang akan dibangun juga harus jelas arahnya.Siapa mendapat apa? Oleh karena itu, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan PDIP,mulai dari sisi peluang perolehan dukungan suara (elektabilitas), ketokohan atau popularitas, besarnya kendaraan politik yang dimiliki cawapres hingga kemampuan logistik tokoh terpilih. Apa pun pertimbangan-pertimbangan itu, hingga saat ini masih menjadi perdebatan para pakar dan pengamat.
Sebab jika Megawati memilih salah satu calon dengan kelebihan salah satu kriteria, yakni ketokohan misalnya,tapi lemah di kriteria lain atau sebaliknya; jika yang dipilih adalah sosok yang memiliki kendaraan partai cukup besar,tapi lemah di sisi ketokohan atau elektabilitas, tentu itu semua akan punya konsekuensi politik yang berbeda satu dan lain.Ibarat berhitung strategi, semua hal itu harus dipertimbangkan secara cermat.Jika tidak, PDIP bisa saja akan salah langkah.
Bagaimanapun wacana tentang cawapres telanjur menggelinding dan menjadi isu penting dalam perjalanan PDIP menuju pemilu. Setiap nama tokoh yang muncul tak pelak menjadi perhatian publik. Bukan hanya bagi simpatisan partai berlambang banteng moncong putih dalam lingkaran itu, tetapi juga bagi masyarakat,termasuk lawan politiknya. Itu sebabnya, penentuan siapa yang akan menjadi cawapres Mega akhirnya akan digodok oleh sebuah tim kecil.
Meski demikian,banyak asumsi menyatakan bahwa upaya penyandingan Mega dengan Sultan merupakan skenario yang dilakukan Taufik Kiemas sebagai tokoh di balik layar. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa konon Mega lebih cocok jika bersanding dengan Prabowo. Analisis lain juga mengatakan, sebenarnya yang diincar Ketua Umum DPP PDIP ini adalah bagaimana agar bisa bersanding dengan Ketua DPP Partai Golkar Jusuf Kalla yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden.
Alasannya jelas, Kalla memiliki kendaraan partai besar yang secara otomatis memiliki peluang untuk bisa mengatrol perolehan suara. Bagaimanapun kesulitan untuk memilih cawapres bukanlah sekadar karena dasar nantinya figur itu harus cocok dengan Mega.Menurut Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi, itu murni karena PDIP memang harus mengerahkan seluruh kekuatannya guna bersaing dengan popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat.
Ibarat musuh bebuyutan,dua tokoh nasional ini tidak jarang perang kata dan iklan demi pencitraan masing-masing. ”Itulah mengapa tidak mudah untuk menemukan figur cawapres yang bisa mendampingi Bu Mega agar bisa menang melawan Demokrat dan Pak SBY,” paparnya kepada SINDO. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/209639/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment