Gaya Lama Masih Ampuh
Sunday, 01 February 2009
Belajar dari penerapan kebijakan stimulus ketika menghadapi turbulensi ekonomi pada 1998 dan 2008,kini pemerintah kembali menerapkan hal yang sama.
Kebijakan paket stimulus fiskal senilai Rp71,3 triliun (1,4% dari PDB) rencananya akan digelontorkan bagi tiga sektor yakni ketahanan pangan dan energi, pengangguran, dan pertumbuhan.Menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady, prestasi keberhasilan pemberian stimulus pada 2008 amat berperan dalam munculnya keputusan pemerintah.
Saat itu terjadi ancaman krisis pangan dan energi yang melanda di banyak negara, termasuk Indonesia. Angka inflasi yang sebelumnya diperkirakan bakal menembus angka 12,5% kemudian dengan diterapkannya stimulus akhirnya berhasil ditekan menjadi hanya 11,1%.Kebijakan stimulus fiskal juga cukup membantu ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi 1997 dan 1998.
”Saat itu kami memberikan subsidi untuk menjaga harga pangan terutama minyak goreng,terigu,beras,dan kedelai. Demikian juga dengan subsidi BBM yang dapat meredam besarnya kenaikan biaya produksi dan angkutan,” ujarnya kepada SINDO.
Krisis global yang terjadi pada pertengahan 2008 membuat dunia kekeringan likuiditas, penurunan kredibilitas, rentanya hargabarang-barang, dan penurunan permintaan pasar.Dampak bagi sektor riil,terjadi depresiasi mata uang lokal yang sangat tajam, mahalnya biaya produksi yang diikuti dengan pelemahandaya belimasyarakatsehingga produksi juga menurun, dan akhirnya menimbulkan pengangguran dan menambah kemiskinan.
”Imbas krisis ini akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi dunia, bahkan banyak negara diperkirakan akan tumbuh negatif. Indonesia diperkirakan akan menjaga pertumbuhan sekitar 5% pada 2009 dari 6,2% pada 2008. Ini angka proyeksi pertumbuhan tertinggi,” ungkapnya.
Kebijakan stimulus yang diambil pemerintah ini dibarengi dengan kebijakan pengamanan pasar domestik dan ekspor serta kebijakan pembiayaan. Guna menjaga target pertumbuhan sekitar 5%, permintaan domestik 2009 harus dijaga menjadi 5,7% dari 7,7% pada 2008.
Sumber pertumbuhan yang diharapkan dapat menopang adalah pertumbuhan konsumsi masyarakat sekitar 4,8%, pengeluaran pemerintah tumbuh 10,4%, investasi dijaga tumbuh 6,5% dengan fokus pada investasi infrastruktur, energi, dan pangan. Sedangkan ekspor diharapkan tumbuh 5,9%.
”Jika tidak ada krisis, kebijakan yang ada sebenarnya dapat menurunkan angka pengangguran terbuka pada Agustus 2009 sebesar 7,44%, jauh dibanding November 2005sekitar11,3%.Dengankrisis, pengangguran 2009 diperkirakan akan mencapai 8,87%. Dengan intervensi kebijakan, pengangguran dapat ditekan menjadi 8,34%,”paparnya.
Demikian juga dengan angka pengangguran 2005 yang mencapai 15,5%. Jika tidak ada krisis, angka tersebut diperkirakan akan turun menjadi sekitar 13,%.Pemerintah sudah melakukan kebijakan antikemiskinan seperti Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin), Bantuan Langsung Tunai (BLT),Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
”Dengan krisis,kemiskinan diperkirakan hanya turun menjadi 13,5%.Tapi dengan berbagai kebijakan, kemiskinan dapat ditekan menjadi sekitar 13,2%,”tukasnya. Edy menjelaskan,kebijakan stimulus fiskal ini dikeluarkan berdasarkan kebutuhan mendesak yang tujuannya menekan angka pengangguran dan kemiskinan.
Karena itu,penerapannyaharusmempertimbangkan prioritas waktu dan jumlah. Menurut dia, tantangan pemerintah dalam krisis ekonomi kali ini lebih besar dibanding resesi ekonomi awal 1980-an dan krisis moneter 1997/1998.
”Dulu pemerintah begitu kuat, tidak begitu peduli dengan suara-suara dan tuntutan di luar pemerintah,dan hasilnya cukup efektif.Pada masa krisis moneter,birokrasi tidak bekerja optimal karena tuntutan utamanya reformasi politik,”paparnya. Namun,menurut dia, saat ini tantangan internal lebih kuat di antaranya dengan meningkatnya peranan pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dinamika otonomi daerah, dan proses demokratisasi yang bebas menyuarakan tuntutan dan pemikirannya.
Meski begitu,dia menjamin pemerintah mengeluarkan kebijakan ini semata-mata untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. ”Agar rakyat tidak lapar, tidak menganggur, dan kehidupan terus meningkat. Bahkan dengan pemikiran saat ini adalah kesempatan untuk melakukan ekspansi ekonomi,” ujarnya.
Ekspansi ekonomi, kata dia, setidaknya menjadi pemikiran yang harus dilakukan sebab dampak krisis global terhadap Indonesia tidak separah negara-negara lain. Karena itu, Indonesia masih berpeluang untuk melakukan ekspansi.Banyak negara bergantung pada modal luar negeri, sementara pasar ekspor mereka turun drastis. Ini akibat negara-negara maju yang menjadi tujuan ekspor mereka terkena dampak krisis yang dahsyat.
Puncak krisis global diperkirakan akan terjadi pada Maret–April 2009.Sedangkan dampaknya diprediksi masih akan terasa hingga 2010 atau lebih lama. ”Nah, kita merasa instrumen ekonomi untuk mengatasi berbagai masalah pembangunan ekonomi selama ini bukan hanya monopoli birokrasiataupemerintah, melainkan juga bersama DPR,dunia usaha,dan masyarakat.
Selain itu, kita juga melakukan pemantauan dan evaluasi secara kuartalan yang me-libatkan pihak-pihak independen sehingga kita tidak lengah dan kebijakan selalu dinamis dan inovatif,”paparnya. Menurut Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Aziz, secara prinsip DPR menyetujui proposal kebijakan stimulus yang diajukan pemerintah guna membantu menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang sedang dilanda krisis.
Namun,DPR memberikan catatan, komitmen dari perusahaan bagaimana dana akan dipergunakan sehingga benarbenar bisa memperbaiki kinerja dan mengurangi atau mencegah PHK harus ada.
”Sampai saat ini DPR belum menyetujui proposal stimulus fiskal yang diajukan pemerintah karena di dalamnya pemerintah tidak merinci ke mana alokasi dana itu akan diberikan. Seperti PPh karyawan sebesar Rp6,5 triliun, jangan-jangan dana sebesar ini diberikan pada perusahaan yang padat modal yang seharusnya tidak memerlukannya, bukan diberikan kepada perusahaan padat karya,” katanya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/209764/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment