Selasa, 20 Januari 2009

NPL - Mengintip Negeri Deng

Sunday, 18 January 2009
DUNIA kini khawatir krisis global terus bergulir.Namun,China terus melaju dengan percaya diri,termasuk mengatasi urusan kredit macet.

Banyak negara kini mulai mengintip Negeri Tirai Bambu itu. Sebagaimana dilansir Kantor Berita Xinhua(17/1),hampir semua bank komersial di China melaporkan penurunan kredit macet (nonperforming loan/NPL) secara signifikan selama 2008.

Setidaknya, itulah yang dikabarkan hampir semua media di China yang mengutip data analisa Komisi Regulasi Per-bankan China (China Banking Regulatory Commision/ CBRC).Dalam analisa itu juga dipaparkan bagaimana bank-bank di China mampu mempraktikkan semua persyaratan regulasi di negeri itu.

NPLdibank-bankkomersialChina hingga akhir 2008 tercatat menurun dari angka 706,5 miliar yuan (sekitar Rp1.227 triliun–kurs 18/1/ 2009) pada awal 2008 menjadi 494,4 miliar yuan (sekitar Rp797 triliun), menurun hampir 50%. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata NPL di Negeri Tirai Bambu menurun drastis dari 4,24% menjadi hanya 2,49%.

Sungguh angka penurunan yang cukup fantastis untuk kondisi masa sekarang. Sementara dalam hal rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dari semua bank-bank komersial di China mencapai level sebagaimana ketentuan regulasi pemerintah di negeri itu,yakni dengan level rata-rata mencapai 115,3%, meningkat hingga 74,1% pada 2008 dibandingkan rasio CAR tahun sebelumnya.

Sebagai tambahan pengaman untuk mengantisipasi meningkatnya risiko dari penurunan kinerja perekonomian yang tak terduga,CBRC juga telah meningkatkan target kinerja 2009 dengan cara melakukan pengawasan lebih ketat kepada bank-bank komersial. Ketentuan rata-rata rasio total penyisihan terhadap NPL (provision coverage ratio) meningkat tidak kurang dari 130% dan rasio CAR berada di atas 8%.

CBRC juga mengingatkan tentang meningkatnya tekanan kinerja pendapatan bank pada 2009,terutama dari tingginya risiko akibat dampak investasi asing.CBRC menyatakan hal ini sedang dalam tahap pembicaraan dengan Departemen Keuangan pemerintah negeri setempat, yakni bagaimana menurunkan pajak penjualan untuk bank-bank kecil guna membantu mereka mencapai pertumbuhan kinerjanya.

Selain itu, CBRC juga menyarankan kepada bank-bank komersial di China agar kinerjanya meningkat dengan cara menggenjot pertumbuhan kredit modal kerja untuk sektor industri usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan proyek-proyek yang berkaitan dengan pertanian. Kenyataannya, Negeri Tirai Bambu itu mencatat produk domestik bruto (PDB) terbesar ketiga di dunia.

Berdasar catatan biro statistik negara itu,China menjadi negara dengan skala perekonomian terbesar ketiga di dunia setelah melampaui Jerman. Badan Statistik Nasional China mencatat PDB China mengalami peningkatan 13% selama 2007.Angka ini lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya yang ditetapkan sebesar 11,9%,yakni menjadi USD3,38 triliun (25,73 triliun yuan atau sekitar Rp37.349 triliun).

Angka ini menunjukkan PDB China lebih besar 777,6 miliar yuan dibandingkan dengan estimasi sebelumnya.Dengan menggunakan nilai tukar rata-rata selama 2007, realisasi angka itu melebihi PDB tertinggi Jerman yang mencapai US$3,32 triliun (2,42 triliun euro). Pertumbuhan perekonomian China meningkat 70 kali lebih besar dibanding 1978 silam.

Sejak pemimpin Deng Xiaoping melakukan perubahan kebijakan komunis bergaris keras menjadi pasar bebas, China menjadi negara ketiga yang menyelesaikan proyek luar angkasa, menjadi tuan rumah Olimpiade dan melampaui Jepang sebagai pembeli surat berharga di Amerika Serikat (AS).

“Angka ini hanya satu dari banyak bukti yang menunjukkan bahwa China adalah pemain yang sangat penting di pentas global,” ujar Huang Yiping,Kepala Ekonomi Citigroup Inc di Asia, seperti dikutip Bloomberg(14/1). Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Bambang PS Brodjonegoro menyatakan wilayah Asia Timur masih menjadi yang paling menjanjikan selama krisis global, akibat ditopang perekonomian China dan India.

Sementara AS dan Eropa stagnan dan Timur Tengah masih terpukul akibat penurunan harga minyak mentah dunia.Menurut Bambang, AS masih butuh waktu dan sumber daya untuk meredam krisis,sehingga kemungkinan pemulihan Negeri Paman Sam paling cepat baru terealisasi pada 2010.

Sementara Eropa dan Jepang akan sangat bergantung pada upaya pemulihan ekonomi AS.Beberapa negara seperti Meksiko dan Korea Selatan (Korsel) mengalami perlambatan ekonomi.Dengan demikian, perhatian perlu diberikan kepada Rusia, Meksiko, dan Korsel. Di wilayah ASEAN,Singapura, dan Thailand,kemungkinan mengalami kontraksi,sedangkan Malaysia, Vietnam, dan Filipina akan mengalami penurunan.

Indonesia diprediksikan mengalami penurunan paling tajam di antara negara-negara ASEAN lainnya. Secara global, kata Bambang, kondisi perekonomian pada 2009 ini akan mengalami penurunan pertumbuhan.Di antaranya,menurunnya permintaan komoditi ekspor, penurunan harga komoditi primer energi dan pangan,serta terjadinya upaya pemulihan sektor keuangan di AS dan pemulihan aset dalam dolar AS.

Hampir semua negara di dunia memberikan paket stimulus dan dana talangan (bailout). Selain itu, penurunan tingkat bunga dengan bayang-bayang kesulitan likuiditas dan seretnya investasi juga akan dialami banyak negara. Akibat persaingan ekspor yang makin ketat, akan ada kecenderungan protektif pada sebagian besar perekonomian.

“Sektor keuangan akan menjadi lebih konservatif,” ungkapnya dalam seminar bertajuk Outlook Ekonomi 2009, Perbankan, dan Properti (14/1). Sementara negara-negara lain di dunia mengoreksi angka pertumbuhannya secara signifikan, termasuk Indonesia.Menurut Bambang, pada 2009,China masih akan mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7%–8%, sementara India kemungkinan akan tumbuh 5,5%–6%.

Sementara berdasar catatan International Monetery Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia pada 2009–2013 diproyeksikan sebesar 4,3%. Negara-negara maju diprediksikan hanya akan mencatat pertumbuhan sebesar 2,1% pada 2009– 2013.

Di antaranya AS hanya akan mencatat pertumbuhan 2,6%,negara- negara Eropa 2,6%, dan Jepang 1,6%.Sementara untuk negara-negara berkembang diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan sebesar 6,7% untuk periode 2009–2013.

Di antaranya Afrika (5,8%), Eropa Timur (4,7%), Asia (8,5%), Timur Tengah (5,6%), dan Amerika Latin (4,0%).Angka laju inflasi dunia pada 2009–2013 diprediksikan pada 3,8%. Dengan rincian untuk negara maju akan mengalami inflasi 2,0% dan negara berkembang 5,8%.

“Konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah akan menjadi motor pertumbuhan pada 2009 sehingga fokus kebijakan krisis adalah dengan mempertahankan daya beli masyarakat, meminimalkan PHK, mengoptimalkan peredaran uang, dan memperkuat pasar domestik,”paparnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205808/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment