Sunday, 25 January 2009
Menjadi seorang calon legislatif tidak melulu harus bermodal finansial besar.Soal kreativitas juga sangat menentukan tingkat ketokohan caleg di mata masyarakat.
Sudah menjadi rahasia umum jika biaya yang diperlukan untuk menjadi calon legislatif (caleg) bisa mencapai miliaran rupiah. Berbagai cara pun dilakukan caleg mencari pundi-pundi uang untuk membiayai hasrat politiknya. Bagi caleg yang berkantong tebal, tentu saja hal tersebut bukan masalah.
Namun bagi mereka yang berkantong cekak,hal ini jelas persoalan besar. Mereka pun harus memutar otak mencari sumber pendanaan. Apalagi, tidak ada urusan yang bebasduit.Artinya,segalasesuatuyang ingin dilakukan caleg membutuhkan biaya,meski jumlahnya relatif.Di sinilah dibutuhkan kreativitas seorang caleg agar dengan dana yang minim tetap bisa berkampanye secara efektif. Terlebih, saat ini penentuan keterpilihan seorang caleg berdasarkan suara terbanyak.
Seorang caleg tidak hanya akan bertarung dengan lawan politik dari partai lain, tetapi juga dengan koleganya.Jika sudah begini, muncul ”hukum”tentang caleg lebih berduit yang lebih besar peluangnya untuk jadi. Itulah mengapa banyak pihak khawatir kondisi ini akan memperbesar peluang terjadinya politik uang dalam kampanye.
Meski begitu, masih ada cara lain yang bisa meminimalkan penggunaan dana, yakni kreativitas. Paling tidak, taktik inilah yang digunakan artis Rieke Diah Pitaloka yang saat ini menjadi caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat 2 nomor urut 2.Secara finansial,bukan masalah berarti bagi artis pemeran Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri itu.
Maklum, Rieke merupakan salah satu artis papan atas, yang disebut-sebut harga kontraknya pun mahal.Meski begitu, Rieke tidak mau mengumbar banyak rupiah untuk kegiatan kampanyenya. Alasannya, Rieke ingin memberikan pendidikan politik kepada masyarakat tanpa menggunakan politik uang (money politics).
”Hingga saat ini belum banyak uang yang saya keluarkan untuk kampanye,” kata Rieke yang enggan menyebutkan berapa sebenarnya total anggaran yang dia siapkan selama menjadi caleg. Rieke sangat diuntungkan dengan popularitas yang dia miliki. Demi menjembatani keinginannya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, Rieke rela keliling kampung di wilayah masyarakat konstituennya. Satu per satu kelurahan dan desa dia kunjungi.
Bahkan, tidak jarang kunjungan dia lakukan hingga tingkat rukun tetangga dan rukun warga. Dalam forum silaturahmi dengan warga inilah, Rieke menyampaikan keinginannya menjadi caleg guna menyerap aspirasi masyarakat setempat. Karena keartisannya, tidak jarang dalam setiap kunjungan. Banyak warga yang meminta berfoto bersama dan tanda tangan. Ya, sebuah keuntungan sebagai selebriti yang mencoba berkiprah di politik.
”Dari awal, saya memang sudah niat untuk tidak terlalu banyak mengeluarkan uang. Meski dalam kondisi mengandung anak pertama, saya harus mau capek untuk keliling dari satu kampung ke kampung lainnya,” ujarnya. Dalam kegiatan kampanye ini, Rieke juga berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa segala macam aspirasi dan kontrak politik tidak harus dinilai dengan uang. Artinya, pewujudannya tidak bisa dari caleg seorang diri,tapi harus melibatkan masyarakat.
Tidak jarang, aspirasi tentang pemenuhan fasilitas umum seperti sarana transportasi, fasilitas ibadah, olahraga mengemuka dalam forum dialog antara Rieke dan rakyat. Rieke merasa sangat diuntungkan dengan aktivitas yang dilakoni selama ini, termasuk aktivitas aksi demonstrasi mengenai isu-isu tertentu seperti penolakan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Ketenagakerjaan dan penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu.
”Masyarakat sudah tahu apa yang saya lakukan selama ini.Mereka tahu ke mana arah perjuangan saya apabila duduk menjadi anggota dewan. Jika punya kesempatan, saya ingin duduk di parlemen yang mengurusi isu-isu kesejahteraan sosial,”paparnya. Itu sebabnya, dari sisi finansial Rieke tidak terlalu banyak merogoh koceknya. Dia mengaku, untuk membuat beberapa spanduk saja, dia dibantu salah seorang temannya di percetakan, alias gratis.
Praktis, Rieke termasuk kategori ”caleg hemat” dalam berkampanye. Yang penting, katanya, seorang caleg harus mau capek menyambangi para konstituennya. Oleh karena itu,dalam setiap kunjungan ke sejumlah wilayah di dapilnya, Rieke cukup mengandalkan dana dari kantong pribadinya.Tidak perlu meminta bantuan kolega.
Hal serupa juga dilakukan Nurul Arifin yang saat ini mendapatkan nomor urut 1 sebagai caleg Partai Golkar Dapil Jabar 7.Meski menolak menyatakan berapa jumlah dana yang dia siapkan untuk berkampanye, pemeran Kirana dalam film Naga Bonar itu memastikan angka ratusan juta rupiah untuk berkampanye cukup rasional.
Sebab guna membeli atribut kampanye saja, seperti kaus, topi, stiker, spanduk, biayanya memang tidak murah. Belum lagi biayabiaya lain. Nurul juga menolak anggapan bahwa pemenuhan atribut kampanye itu dianggap sebagai bentuk politik uang. Menurut dia, yang ada adalah biaya politik.
”Tidak ada istilah politik uang, yang ada adalah itu merupakan konsekuensi bagi kita yang ingin berkampanye. Jadi, yang ada adalah biaya politik yang harus dikeluarkan seorang caleg. Melihat harga-harga atribut kampanye yang sekarang ada, bisa jadi angka Rp500 juta bukanlah angka yang besar,”ujarnya.
Begitu juga yang dilakukan Jerry Adhitya Ksatria Sambuaga, putra ketua Komisi IX Theo L Sambuaga yang saat ini mencalonkan diri sebagai caleg Partai Golkar Dapil DKI Jakarta II dengan nomor urut 7. Dia mengaku tidak banyak menyiapkan dana untuk kampanye.
Terpenting baginya adalah bagaimana berupaya melakukan pendekatan kepada masyarakat.Jerry lebih mengedepankan kegiatan-kegiatan sosial yang tidak bersifat gratis, seperti penyelenggaraan pasar sembako murah, donor darah. Dalam kegiatan sosial inilah, Jerry memperkenalkan diri sebagai caleg.
”Tidak banyak anggaran yang saya siapkan.Nggak mampu lah. Kita siapkan semampu kita saja. Sebab, kita tidak boleh mendidik masyarakat dengan uang, tetapi dengan kegiatan yang membuat mereka semakin melek politik,” ujarnya kepada SINDO sembari menolak menyebutkan berapa angka pasti dana yang dia siapkan. Jerry mengaku seluruh kebutuhannya dalam berkampanye, biayanya bersumber dari kantong pribadi dan dibantu saudara dan keluarganya.
Dia mengaku dana yang dia siapkan di bawah angka Rp300 jutaan.Jerry mengakui ayahnya,Theo L Sambuaga,juga mendukung penuh niatnya menjadi caleg. Kariernya selama ini menjadi Staf Ahli Ketua DPR, juga memberinya cukup bekal pengetahuan tentang bagaimana seluk beluk pekerjaan seorang anggota parlemen.
Meskipun sejak awal Jerry sudah mendapatkan nomor urut sepatu, putusan sistem suara terbanyak memberikan angin segar bagi Jerry untuk tetap maju menuju Senayan. ”Sejak awal sebelum ada putusan MK,Golkar memang sudah memberlakukan sistem suara terbanyak, sehingga tidak masalah saya berada di nomor urut buncit.Yang terpenting, strategi saya dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat itu yang lebih penting,”paparnya.
Terkait wacana tentang tuntutan transparansi sumber dan alokasi penggunaan dana kampanye, Jerry menyambut positif hal ini. Meskipun hingga saat ini ketentuan yang ada belum menuntut caleg untuk membuka informasi rekening yang dia miliki kepada publik, jika Komisi Pemilihan Umum mengatur demikian, maka dia siap mengikuti.
Sebab berdasarkan undang-undang, rekening dana kampanye masih hanya kepada parpol, belum diatur hingga rekening yang dimiliki caleg. ”Jika memang ada ketentuan begitu, saya siap-siap saja. Sebab, justru ini wacana yang baik.Namun, ini juga harus berlaku bagi semua. Jadi, semua caleg harus membuka dompet rekeningnya kepada publik, mengenai sumber dan bagaimana penggunaannya,”tukas Jerry. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/207594/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment