Sunday, 18 January 2009
FOKUS pada penyaluran untuk usaha sektor mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu jalan keluar bagi perbankan untuk selamat dari dampak krisis global.
Selain itu, memanfaatkan potensi pangsa pasar domestik juga sangat membantu.Asumsi itulah yang diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad. Menurut dia, potensi meningkatnya kredit macet (nonperforming loan/NPL) adalah karena risiko kredit terkait dengan pelemahan ekonomi domestik dan global, di samping penurunan daya beli masyarakat.
Kondisi ini,menurut dia, akan mengakibatkan profitabilitas dan permodalan perbankan mengalami tekanan selama 2009.Kemudian keketatan likuiditas masih akan berlangsung meski tekanannya sudah mulai berkurang.Selain itu,persaingan semakin ketat untuk memperoleh debitur potensial, sehingga perlu diwaspadai indikasi adanya segmentasi di pasar uang antarbank (PUAB).
“Waspadai juga akan terjadinya flight to quality dari bank menengah kecil ke kelompok Bank Persero dan Bank Besar serta proses penyesuaian yang dilakukan bank dalam menghadapi perubahan lingkungan atau kebijakan akan terus berlanjut hingga beberapa waktu ke depan,”ujarnya. Menurut Hadad,pada akhir 2008,tekanan terhadap sistem keuangan mulai sedikit mereda.
Hal ini tercermin pada menurunnya indeks stabilitas keuangan (Finacial Stability Index/FSI) yang disebabkan berkurangnya volatilitas indeks harga saham gabungan (IHSG) dan penurunan yield obligasi pemerintah (government bonds) menjelang akhir 2008.Apabila perbaikan ini terus berlanjut maka NPL gross perbankan berkisar pada 4,86%–5,63%.
Meski demikian, Hadad optimistis stabilitas sistem keuangan dan perbankan ke depan relatif akan tetap terjaga. Pencadangan yang dimiliki perbankan diperkirakan masih dapat mengantisipasi risiko likuiditas, kredit, pasar, dan risiko sistemik.Secara industri,risiko likuiditas perbankan akan tetap terkendali.
Namun, secara individual, bank-bank menengah dan kecil tertentu berpotensi menghadapi permasalahan likuiditas karena masalah segmentasi PUAB dan flight to quality. Risiko kredit diperkirakan akan meningkat sejalan dengan melemahnya perekonomian riil.
Kredit diperkirakan akan tumbuh sebesar 18%–20%. Namun,profitabilitas dan permodalan bank akan mengalami tekanan terkait dengan meningkatnya risiko kredit. ”Risiko pasar masih akan tetap terkendali,meskipun potensi tekanan dari pasar keuangan global belum mereda,”ungkapnya.
Untuk menghadapi beragam risiko yang diprediksi akan terjadi pada 2009, kata dia,diperlukan kebijakan moneter yang memberikan perhatian pada upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengawal inflasi dan kestabilan sektor keuangan dalam jangka menengah.Salah satunya dengan penurunan BI Rate.
Di mana,per Desember 2008,BI Ratediturunkan 50 basis poin (bps) menjadi 8,75%.Selain itu,secara jangka pendek kebijakan ini juga harus disertai dengan menjaga agar nilai tukar rupiah tidak melemah secara signifikan dengan volatilitas yang besar. Kemudian, upaya lain adalah dengan menyerap ekses likuiditas perbankan secara optimal untuk meminimalkan potensi berbagai kegiatan yang sifatnya spekulatif di pasar valas.
BI juga akan terus mengawasi likuiditas perbankan sehingga tidak menimbulkan gejolak di pasar. Selain itu, perbankan diminta untuk meningkatkan kehati-hatian dalam pemberian kredit serta mengarahkan pada usaha-usaha yang produktif.Memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menyinergikan kebijakan fiskal-moneter, termasuk mendukung upaya-upaya di dalam memfasilitasi perbaikan kegiatan sektor riil.
“BI sedang mengaji kemungkinan relaksasi beberapa ketentuan guna meningkatkan keleluasaan penyaluran kredit, percepatan konsolidasi perbankan, dan peningkatan infrastruktur perbankan.Pada saat bersamaan, BI juga melakukan penguatan mikro dan makro surveilance,termasuk penyempurnaan risk based supervision serta menyiapkan langkah strategis terhadap bank-bank yang mengalami permasalahan likuiditas dan solvabilitas.
Antara lain dengan melakukan private solution,”paparnya. Untuk itu, tantangan ke depan bagi kalangan perbankan, menurut Hadad, adalah bagaimana memanfaatkan potensi pangsa pasar ekonomi domestik yang masih terbuka.
Kemudian,perbankan juga perlu membangun komunikasi dengan sektor riil yang potensial (feasible) untuk didanai. Hadad juga menyarankan agar kalangan perbankan memberikan fokus yang lebih besar pada sektor UMKM. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205809/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment