Sunday, 18 January 2009
Wajah cantik caleg artis tidak menjamin tingkat elektibilitas di mata rakyat.Kualitas kemampuan berpolitik tetap menjadi pertimbangan tersendiri.
Menjadi anggota dewan menggiurkan banyak kalangan, tak terkecuali artis. Oleh karena itu, dalam setahun terakhir,sebelum pemilihan umum (pemilu) 2009, sejumlah kalangan kepincut untuk berkompetisi menduduki kursi sebagai anggota dewan, termasuk para artis perempuan.
Jika tidak ingin dicap hanya mengandalkan popularitas dengan gaya hidup ala selebritis, kapasitas artis yang nyalegwajib disiapkan. Kapasitas itu terkait dalam hal keterampilan berpolitik, termasukdidalamnya kemampuan berstrategi, bernegosiasi, beradu argumen,serta menjalankan tugasnya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat konstituennya.
Wajah boleh cantik dan mengundang decak kagum banyak kalangan, tapi kualitas kapasitas tidak boleh dilupakan. Sebab, keterampilan untuk menjadi seorang artis dan politisi memang jauh berbeda. Meskipun sama-sama menjadi tokoh publik, tapi keduanya adalah dunia yang sangat berbeda.
Berprofesi sebagai artis membutuhkan keterampilan di bidang seni peran, suara, ataupun gerak. Sementara dunia politik adalah keterampilan seni berkompromi dan berstrategi. Untuk itu, dengan maraknya bintang-bintang selebriti yang masuk ke dunia politik, hal itu mengundang keraguan sebagian kalangan.
Apakah mereka memiliki kapasitas untuk menjadi seorang politisi? Mampukah mereka bernegosiasi dan beradu argumentasi dengan lawan politik untuk memenangkan ide-ide dan gagasan mereka? Tidak sedikit pihak yang meragukan kapasitas dan kapabilitas seorang artis perempuan dalam menjalani perannya sebagai anggota legislatif.
Bukan bermaksud menganggap remeh, memang tidak mudah untuk menjadi seorang politisi yang amanah.Bukan hanya kalangan artis, orang dengan latar belakang kiprah dan sepak terjang di bidang politik pun tidak jarang yang akhirnya keblinger dengan kekuasaan. Lupa akan tugas yang sebenarnya diemban.
Sebagaimana diungkapkan Lord Acton (1887) ”Power tends to corrupt,and absolute power corrupts absolutely”. Siapa pun orangnya dan apa pun latar belakangnya,jika sudah memiliki kekuasaan akan mendapatkan banyak godaan untuk menyalahgunakan kekuasaannya itu.Tidak peduli dia seorang artis, aktivis, atau lainnya, ketika sudah duduk menjadi anggota dewan,sangat berpotensi melakukan korupsi.
Rieke Diah Pitaloka adalah salah satu artis perempuan yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk Pemilu 2009.Pesinetron ini membantah keras jika kini banyak artis yang asal latah ramai-ramai menjadi calon legislatif (caleg).Namun, dia mengakui bahwa Pemilu 2009 ini bertabur bintang.
Setiap parpol memasang nama-nama artis dan publik figur untuk menggaet suara pemilih. ”Sekarang hal ini dikembalikan lagi ke artisnya. Motivasi dia untuk ikut bursa caleg itu apa.Apakah hanya sekedar ikut-ikutan atau memang ada niat untuk total terjun di dunia politik,”kata Rieke kepada SINDO.
Namun,kata pemeran Oneng (sinetron Bajaj Bajuri),artis yang bersedia mencalonkan diri sebagai caleg, diyakini sebelumnya sudah mempersiapkan diri sehingga tidak serta-merta asal ikut tanpa tujuan. Secara pribadi,memang banyak kalangan tidak meragukan kapasitas Rieke untuk terjun di dunia politik.
Lulusan Jurusan Filsafat Politik Universitas Indonesia 2004 ini memang sudah lama berkecimpung di dunia politik praktis. Bukan hanya sekedar teori sebagaimana yang dia dapatkan di bangku kuliah. Pada 2004 silam,Rieke sempat ikut bursa caleg mewakili Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tapi belum beruntung.
Kini Rieke kembali menguji kemampuannya berpolitik melalui bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat 2 dengan nomor urut 2. Kapasitas Rieke sebagai artis pun juga tidak diragukan. Mulai akting di sinetron,film,bahkan pementasan teater monolog maupun presenter sudah kenyang dilakoninya selama hampir 20 tahun ini.
Begitu juga dalam kegiatan sosial dan politik. Rieke dikenal luas sebagai aktivis untuk isu-isu buruh migran, kesehatan, lingkungan, bahkan hak asasi manusia (HAM). Tidak jarang, Rieke ikut melakukan aksi demonstrasi dengan kawan-kawan aktivisnya untuk menyuarakan suatu isu,contohnya penolakan kenaikan harga BBM diBundaran Hotel Indonesia (20/5/2008) maupun penolakan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Ketenagakerjaan.
Akibat salah satu aksinya inilah, Rieke sempat diperiksa sebagai saksi oleh Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri karena gelombang aksi penolakan kenaikan harga BBM yang merebak di mana-mana itu sempat berakhir ricuh. Apa pun, sosok Rieke sudah dikenal luas masyarakat, baik pada kiprahnya di dunia artis maupun aktivitas sosialnya.
Untuk urusan pendampingan terhadap buruh migran,tidak sedikit Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kenal dekat dengan Rieke. Demikian juga dengan kalangan serikat buruh.Wajar jika Rieke percaya diri, di memiliki cukup modal untuk terjun total di dunia politik. ”Saya merasa bahwa dunia politik adalah dunia saya.
Banyak tantangan dan dinamikanya. Saya merasa sudah cukup di dunia artis, sekarang saatnya saya memperjuangkan ideologi saya melalui politik,” ujarnya. Hal serupa juga dilakoni Nurul Arifin.Pemeran Kirana dalam Film Naga Bonar ini ikut bursa caleg mewakili Partai Golkar untuk Dapil Jabar 7.
Ketenaran Nurul pun tidak hanya sebagai artis senior, melainkan juga aktivis gender,HIV/AIDS, maupun narkoba. Selain itu secara teoritis, Nurul sudah menyelesaikan studi masternya Jurusan Ilmu Politik Pascasarjana UI.Sama halnya dengan Rieke, Nurul pun sudah sempat ikut bursa caleg pada Pemilu 2004 mewakili partai berlambang Pohon Beringin itu.
Pada Pemilu 2004, Nurul sempat mendapat suara terbanyak,tetapi karena menggunakan sistem nomor urut, dia tidak bisa mendapatkan kursi di parlemen. Saat itu Nurul mengantongi nomor urut 7. Sekarang, Nurul kembali mengadu keberuntungannya untuk bisa duduk di kursi Senayan. ”Visi saya yang berorientasi pada perubahan pandangan tentang perempuan dalam kondisi kekinian,”ujarnya.
Baik Nurul maupun Rieke, boleh dianggap sebagai ikon caleg artis perempuan dari partainya masing-masing.Tidak berbeda, di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) muncul beberapa nama artis perempuan. Di antaranya Okky Asokawati serta Marissa Haque, yang sebelumnya di PDIP.
Sebagai artis senior, nama Okky sudah tidak asing lagi. Okky pun terbiasa berbicara kepada publik sebagai mentor untuk kegiatan pemberdayaan perempuan dan kecantikan. Yang jelas,dengan tegas Okky menyatakan kaum perempuan tidak perlu memintaminta untuk bisa mewujudkan kuota 30% di parlemen.
”Harus tunjukkan dulu kapasitasnya baru dipilih orang. Saya setuju dengan 30%. Namun, jangan dijadikan alasan untuk meminta- minta.Jadi,kita kaum perempuan yang harus menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan,”ungkapnya kepada SINDO. Menurut Direktur Eksekutif Center For Electoral Reform (Cetro) Hadar Nafis Gumay, kiprah para artis yang duduk di kursi parlemen saat ini belum ada yang menonjol.
Meskipun tidak bisa disimpulkan para artis tidak memiliki kapasitas,tapi belum ada prestasi yang cukup membanggakan dari kalangan artis yang pernah duduk di parlemen. Misalnya, belum ada dari artis, yang pernah memimpin sebuah panitia khusus,ketua kelompok kerja tertentu, atau bahkan lantang menyuarakan aspirasi masyarakat konstituennya meskipun harus berseberangan dengan suara partai.
”Menonjolnya mereka karena di publikasi media, sebab mereka selebritis. Namun, bukan karena kiprah dan prestasinya dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.Perkiraan saya, untuk kondisi Pemilu 2009 masih sama saja,”tandasnya. Meski banyak kalangan meragukan kemampuan artis berpolitik, tetapi kehadiran mereka sebagai ”makhluk manis”dalam parpol diperkirakan bakal menjadi perhatian tersendiri kepada masyarakat.
Setidaknya,ada kecenderungan masyarakat berharap kepada ”para pesohor”ini bisa membawa perubahan dan bukan hanya menjadi pajangan dalam etalase politik Senayan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205616/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment