Selasa, 20 Januari 2009

NPL - Lagu Lama Jangan Terulang

Sunday, 18 January 2009
BANYAK pihak sepakat bahwa penyebab utama krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997 silam adalah kredit macet (nonperforming loan/NPL).

Meskipun memang tidak bisa dilupakan ada faktor lainnya, seperti krisis politik, krisis kepercayaan, hingga akhirnya menyatu menjadi krisis multidimensional yang akibatnya hingga saat ini masih dirasakan masyarakat Indonesia.

Permintaan suaka dari pengemplang utang dalam kasus Bantuan Likuiditas BI (BLBI) adalah kasus yang sangat kentara. Akibat ulah segelintir oknum pengusaha tersebut, ratusan juta penduduk Indonesia turut menanggung akibatnya. Indonesia mengalami krisis ekonomi berkepanjangan.

Di tambah lagi sejumlah kalangan menilai bahwa sejak awal Indonesia terkena sindrom salah urus. Karena itu praktikpraktik penyimpangan marak terjadi.Boleh jadi ancaman dampak krisis global saat ini tidak separah pada 1997, tetapi banyak kalangan tetap khawatir bahwa kasus serupa bisa saja terjadi apabila negara ini kembali salah urus.

Itu sebabnya, sejak awal Januari 2009,Bank Indonesia sebagai bank sentral sudah melakukan pengawasan secara ketat terhadap bankbank di dalam negeri terkait potensi terjadinya risiko NPL.Pengawasan itu terutama bagi bank-bank yang rasio NPL-nya melampaui angka 5% gross. “Bank tetap harus menjaga NPL di bawah 5%.

Jika melewati batas itu,mereka akan terkena pengawasan intensif dari BI,” kata Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah di Jakarta (9/1). BI memprediksi rasio kecukupan modal (CAR) akan turut tergerus akibat pemenuhan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Meski itu sebenarnya bertujuan untuk mengurangi risiko kreditnya.

Hal ini merupakan konsekuensi logis peningkatan rasio NPL, sehingga CAR bank diperkirakan akan menyusut hingga 14,3% dari posisi saat ini yang masih kokoh di atas 16%. Sebelumnya,BI juga memprediksi bahwa tahun ini akan diwarnai pelemahan pertumbuhan kredit.

Pelemahan ini cukup signifikan jika dibanding pertumbuhan kredit pada 2008 yang melesat hingga di atas 30%. Bahkan,estimasi BI dikoreksi dari sebelumnya di level 22% menjadi 18%–20%. Koreksi ini dilakukan mengingat persoalan likuiditas masih membayangiperbankanpada2009. Meski pertumbuhan kredit mengalami kontraksi, BI memperkirakan adanya kenaikan rasio NPL.

Kendati begitu, BI masih menjaga kenaikan rasio NPL agar tetap berada di ambang batas toleransi, yakni 5%. Itu sebabnya, jika ada bank yang memiliki rasio NPL lebih dari 5%, BI akan mengawasinya secara intensif. Secara gross, berdasarkan Laporan Statistik Perbankan per November 2008 ini,jumlah bank dengan gross NPL di atas 5% bertambah dari 22 bank per Desember tahun 2007, menjadi 23 bank pada November 2008.

Namun, jika dibandingkan pada November 2007 sebanyak 25 bank, kinerja NPL gross perbankan Indonesia mengalami perbaikan. Rinciannya,per November 2008 ini rasio NPL di atas 5% sebanyak 23 bank di antaranya tertinggi oleh Bank Umum Swasta Nasional (BUSN)Devisa sebanyak tujuh bank.

Kemudian diikuti Bank Asing (5), BUSN Non-Devisa (4), Bank Campuran (3), serta BPD regional dan Bank Persero masing-masing (2). Sementara untuk rasio NPL di bawah 5% ada103bank.Diantaranya untuk bank persero sebanyak 3 bank, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa (29 bank),BUSN Non-Devisa (29 bank), BPD regional (24 bank). Dengan demikian, paling tidak ada 23 bank yang saat ini akan mendapatkan pengawasan intensif dari BI.

Menurut Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC) Ahmad Deni Daruri, NPL sangat sensitif dengan perlambatan ekonomi. Karena itu,menurut Deni,penurunan pertumbuhan ekonomi yang rendah menciptakan potensi pertambahan kredit macet. Hal itu telah terbukti dari sejarah krisis pada 1997– 2001.

Saat ini indikasinya sudah tampak dari peningkatan kredit bermasalah yang sangat tajam pada Oktober 2008 dibandingkan bulanbulan sebelumnya, terkait perkembangan perekonomian dunia. “Di Amerika Serikat, pengangguran mulai melonjak diatasrata-rataterjadipadatiga bulan terakhir, khususnya pada November (2008),di mana angka pengangguran sebesar 530.000.

Sedangkan di China, per November 2008 pertumbuhan ekspor -2,2%,”paparnya kepada SINDO (12/1). Deni menuturkan, sektor manufaktur nasional yang selama ini tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan nilai tambah nasional akan mengalami tekanan sangat berat.

Sementara itu, sektor jasa yang selama enam tahun terakhir ini mengalami pertumbuhan cukup besar akan mengalami tekanan akibat penurunan permintaan domestik. Namun, berdasarkan statistik perbankan yang diterbitkan Bank Indonesia (BI), per Oktober 2008 hanya kelompok bank asing yang mengalami lonjakan peningkatan NPL untuk sector manufaktur, yakni sebesar 178,2% dari Rp800 miliar pada Oktober 2007 menjadi Rp2,226 triliun.

Peningkatan NPL tercatat sudah tampak sejak Juli 2008, yakni sebesar Rp1,625 triliun lalu menjadi Rp1,650 triliun pada Agustus dan September menjadi Rp1,932 triliun. Sementara itu, kelompok bank umum pada periode yang sama justru menunjukkan penurunan NPL sebesar 3,6% dari Rp16,203 triliun pada Oktober 2007 menjadi Rp15,617 triliun.

Penurunan NPL juga dialamikelompokbankBUMN pada periode yang sama,yakni sebesar 17,9% dari Rp11,523 triliun pada Oktober 2007 menjadi Rp9,450 triliun pada Oktober 2008.Kendati selama 2008 terjadi penurunan NPL, kalangan perbankan tetap mewaspadai potensi kenaikan NPL tahun ini akibat perlambatan ekonomi. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205804/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment