Selasa, 20 Januari 2009

NPL - Siaga Kredit Bermasalah

Sunday, 18 January 2009
Setelah sektor riil mendapatkan getah gejolak pasar global,kini sektor perbankan pun siaga terhadap ancaman melonjaknya kredit macet.

Sektor perbankan adalah salah satu indikator terpenting dalam menjaga kinerja perekonomian suatu negara. Sebab, kolapsnya sektor ini bisa jadi merupakan kiamat bagi perekonomian. Karena itu, menghadapi dampak krisis global yang bersumber dari Amerika Serikat (AS) itu, banyak negara yang jauh-jauh hari berupaya menyelamatkan perbankan masing-masing.

Kalanganperbankannasional sendiri siaga menghadapi ancaman lonjakan kredit macet (nonperforming loan/ NPL). Apalagi, banyak pengamat memprediksi akan terjadi lonjakanNPLpada2009iniakibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Untuk itu tidak heran apabila kalangan perbankan pun mulai berstrategi untuk bisa selamat dari jeratan NPL,terutama dalam hal kinerja penyaluran kredit.

Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk Sukoriyanto Saputro mengakui,ancaman dampak krisis global memang cukup mengkhawatirkan. Menurut dia, risiko kredit macet akan meningkat pada 2009 karena resesi ekonomi dunia dan pelemahan daya beli. “Sehingga walaupun BI Ratemungkin turun 125 bps dari 9,25% ke 8,0%–8,5%,suku bunga kredit mungkin tidak turun sebanyak itu (BI Rate) karena bank bermaksud mengurangi pertumbuhan kredit demi kehati-hatian,” ungkapnya.

Demi mengantisipasi terjadi memburuknya kinerja kredit ini,banyak perbankan lebih memilih sikap berhatihati dalam menyalurkan kredit. Bukan bermaksud mempersulit persetujuan kredit yang diajukan nasabah, tapi dampak krisis global tidak bisa dianggap main-main.

Demikian juga dengan Bank Mandiri.Menurut Sukoriyanto, adanya tingkat risiko kredit yang lebih tinggi membuat pihak perbankan agak enggan menurunkan suku bunga kredit maupun suku bunga pinjamannya. Karena itu diperkirakan, pada 2009 ini suku bunga kredit masih akan tetap bertahan di level 13,5%– 15,5%. Sedangkan untuk bunga simpanan akan berada di kisaran 9,5%–10,5%.

Menghadapi 2009, pihak perbankan kini meningkatkan kehati-hatiannya.Pasalnya, kredit yang disalurkan bisa menjadi bumerang. Menyikapi kondisi ekonomi global akhir-akhir ini,Bank Mandiri mengambil kebijakan lebih berhati-hati dalam penyaluran kredit di segmen konsumsi dan ekspor.

“Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, kami lebih fokus pada segmen marketyang bisa dikategorikan tidak terlalu rentan terhadap perubahan kondisi perekonomian yang kurang baik,”ungkap Sukoriyanto. Selain itu, Mandiri akan melakukan penerapan manajemen risiko yang baik sehingga setiap keputusan kredit selalu dilakukan analisa bersama-sama dengan risk management.

Hal ini mereka lakukan untuk menjaga agar kualitas portofolio yang mereka miliki tetap dalam kondisi baik. Sebenarnya, berdasarkan catatan selama 2008, Bank Mandiri memang tidak menemui masalah dalam kinerja penyaluran kreditnya.Tercatat, total kredit per kuartal III/2008 tumbuh 33,73% dari sebesar Rp121,7 triliun pada September 2007 menjadi Rp162,8 triliun per September 2008 dengan rasio NPL gross 4,44 % dan nett 0,56%.

Tentu saja angka ini masih membuat Bank Mandiri berada di titik aman dari alarm Bank Indonesia (BI), bahwa bank yang mencatat NPL gross di atas 5% akan dilakukan pengawasan secara ketat. Toh, seiring pertumbuhan kredit, total aset Bank Mandiri meningkat Rp44,9 triliun dari Rp273,8 triliun pada September 2007 menjadi Rp318,7 triliun.

Sedangkan penghimpunan dana murah serta giro dan tabungan mencapai Rp143,8 triliun, naik tumbuh 17,5% dari posisi September 2007 sebesar Rp122,3 triliun. Dengan demikian, Bank Mandiri boleh percaya diri akan mampu melewati tahun 2009 dengan aman.

Serupa dengan Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk pun melakukan hal serupa.Corporate Secretary BNI Intan Abdams Katoppo menyatakan, jauhjauh hari semenjak krisis global mulai menghantam, BNI sudah melakukan peng-awasan dan monitoring terhadap kinerjanya.

Ini termasuk monitoring dalam kinerja penyaluran kredit. Bukan apaapa, ini juga merupakan bentuk kesiagaan BNI untuk menghadapi ancaman dampak krisis global. Sebab, buktinya, untuk 2009 ini BNI akan lebih memprioritaskan penyaluran kredit produktif atau modal kerja kepada industri skala mikro kecil dan menengah (UMKM).

Jika pada 2008 perbandingan antara penyaluran kredit BNI untuk korporasi dengan UMKM sebesar 35%–65%,pada 2009 ini menjadi 30% (korporasi) dan 70% (UMKM).Lampu kuning dari BI akan melakukan peng-awasan ketat kepada perbankan dengan NPL di atas 5% pun telah dijawab oleh BNI.Sama dengan 2008, pada 2009 ini BNI menargetkan NPL gross berada di bawah angka 5%.

“Kebijakan penyaluran kredit ini tentu akan disesuaikan sektornya. Jika potensi NPL selama ini dari industri manufaktur, penyalurannya pun akan kami sesuaikan. Yang jelas, target kami tetap ingin meningkatkan penyaluran kredit sektor UMKM,” paparnya kepada SINDO.

Berdasarkan pernyataan resminya,BNImemangmencatat angka NPL yang tidak mengecewakan. Tercatat,hingga akhir September 2008, coverage ratio (rasio pencadangan/ NPL) telah melampaui level 100% yang ditargetkan, yaitu mencapai 104%. Dengan angka tersebut, tingkat kredit bermasalah (NPL-Net) BNI membaik dari 4,7% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 1.06%.

“Membaiknya kualitas kredit tersebut merupakan hasil dari turunnya jumlah NPL yang disertai dengan ekspansi kredit di semua segmen,” kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo. Pada triwulan III/2008, BNI telah berhasil menyelesaikan restrukturisasi kredit Bosowa senilai Rp584 miliar, yang merupakan nilai NPL terbesar dalam portofolio kredit macet BNI.

Ekspansi pinjaman yang tinggi juga mengangkat posisi loan to deposit ratio (LDR) dari 59,42% pada Triwulan III/2007 menjadi 73,2% pada Triwulan III/2008. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 13,85% atau tetap jauh di atas persyaratan minimum Bank Indonesia (8%).

Upaya efisiensi yang dilakukan menampakkan hasil, sebagaimana tercermin dari membaiknya Cost to Income Ratio (CIR) dari 60,05% menjadi 50,6%.BNI juga mencatat kenaikan Biaya Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional (BOPO) menjadi 91,51%, seiring dengan naiknya biaya penyisihan penghapusan aktiva (PPA).

Namun, sejak awal 2008, BOPO menunjukkan tren penurunan dari 95,1% menjadi 91,51%.Penurunan laba bersih berdampak pada penurunan return on asset dari 1,74% menjadi 0,94%,dan return of equity dari 19,81% menjadi 8,11%. Meski demikian, dalam kondisi likuiditas yang cukup ketat,dana masyarakat di BNI pada akhir Triwulan III/2008 meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komposisi dana yang cukup sehat masih dapat dipertahankan, tabungan dan giro (current account saving account/ CASA) atau dana murah sebesar 59% dan deposito sebesar 41%. Di sisi aktiva, kredit tumbuh pesat sebesar 34% menjadiRp106.85triliun dari Rp79,52 triliun pada Triwulan III/2007.

Upaya rekomposisi di sisi aset dan liabilities, dengan meningkatkan pinjaman dan menurunkan lowyielding asset, menghasilkan struktur aset yang lebih baik, sehingga Marjin Bunga Bersih (NIM) yang telah diperoleh pada triwulan sebelumnya masih dapat dipertahankan hingga periode ini. (faizin aslam/abdul malik/islahudin)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205810/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment