Sunday, 18 January 2009
Desakan reformasi di DPR begitu menggema beberapa waktu lalu.Desakan ini akibat adanya sejumlah anggota parlemen yang terseret kasus korupsi.
Kini, seiring desakan reformasi Senayan tersebut, justru bermunculan banyak artis yang ikut bursa calon legislatif (caleg). Parpol beramai-ramai memasang nama-nama artis sebagai pancingan untuk mendulang suara pemilih.Tujuannya, untuk meraih kursi kekuasaan di parlemen.Pesimisme demikian akan menggelayuti kinerja parlemen hasil Pemilu 2009 ini.
Jangankan berharap adanya reformasi kinerja parlemen, untuk berharap perbaikan saja rasanya sulit apabila ternyata sistem pengaderan di parpol tidak berjalan semestinya. Sebab, anggota dewan bukan hanya seorang politisi,tapi juga dituntut memiliki jiwa amanah terhadap tugas dan jabatannya.
Meskipun dari sisi integritas dalam pekerjaan, kalangan artis tidak diragukan, tapi tidak demikian dari sisi kapasitas. Padahal, jika sistem pengaderan di dalam tubuh parpol berjalan dengan baik, tidak perlu ada fenomena maraknya para bintang terjun menjadi caleg.
Paling tidak, hanya kalangan artis yang benar-benar ingin total mengabdikan dirinya di dunia politiklah yang boleh maju ke kursi parlemen. Bukan sekedar sebagai pemanis, pemancing suara, atau bahkan hanya penggembira. Popularitas, sistem suara terbanyak, serta kondisi profil pemilih yang ada sangat mendukung para artis untuk bisa memenangi pertarungan dalam pemilihan wakil rakyat 2009.
Meski tidak ada jaminan bahwa popularitas satu-satunya modal untuk meraih kemenangan, tetapi ketenaran itu bisa membantu seorang caleg untuk dipilih. Direktur Eksekutif Center For Electoral Reform Hadar Nafis Gumay mengatakan,seorang caleg yang bukan dari kalangan artis harus bekerja dua kali lipat lebih keras dibanding artis.
”Karena caleg harus berhadapan dengan sistem suara terbanyak, sementara kompetitornya adalah figur yang populer,” ungkapnya kepada SINDO. Dengan demikian,banyak kalangan memprediksi bahwa pemilu legislatif 2009 ini adalah ”milik” para artis.
Meski begitu, menurut Hadar, bukan berarti kemenangan akan mutlak diperoleh para artis. Sebab, selain masalah popularitas, masyarakat akan tetap mempertimbangkan program dan kontrak politik para caleg dengan masyarakat konstituennya. Sehingga para caleg yang bukan dari kalangan artis,tidak perlu terlalu risau akan hal ini.
Namun, Hadar menyayangkan minimnya peran parpol dalam melakukan pengaderan. Padahal,saat ini aturan yang ada belum membolehkan seseorang untuk mencalonkan diri secara independen, harus melalui parpol.Dengan demikian, kunci untuk memunculkan figur caleg yang layak adalah menjadi tugas parpol.
Sayangnya,seperti sudah menjadi tradisi parpol yang selalu menggandeng artis untuk bisa mendulang banyak suara.Bukan mengader seorang anggotanya yang memang sudah dididik dan disiapkan untuk menjadi caleg. ”Jika ingin mewujudkan kinerja parlemen yang lebih baik,termasuk mendapatkan figur-figur anggota dewan yang andal, kuncinya berada di tangan parpol,”ungkapnya.
Selain itu,banyak kalangan menyayangkan peran parpol dalam menjalankan tugasnya melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Karena itu kecerdasan politik masyarakat dalam menentukan pilihannya terkadang masih labil dan bukan didasari pertimbangan yang rasional.
Seperti masyarakat memilih bukan atas dasar mereka percaya bahwa calon yang dipilih bisa memperjuangkan aspirasinya, melainkan atas per-timbangan lain,seperti money politics, besarnya dana kampanye, atau popularitas. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maswadi Rauf mengungkapkan, maraknya artis yang berpartisipasi sebagai caleg merupakan bentuk perwujudan kemalasan parpol dalam melakukan kaderisasi.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang, termasuk artis, memiliki hak untuk berpolitik.Namun, semua harus melalui proses kaderisasi sebagaimana mestinya. Bukan hanya instan direkrut parpol guna menggaet suara pemilih. Jika demikian halnya, inisiatif biasanya datang dari si artis sehingga kemudian dia berkomitmen untuk terjun total di dunia politik dengan merintis kariernya dari bawah.
”Parpol cenderung berperilaku instan dengan merekrut caleg dari kalangan artis.Mereka malas untuk melakukan kaderisasi. Bahkan,menurut saya perlu kita kampanyekan, jangan pilih parpol yang hanya mengandalkan figur artis,” tuturnya kepada SINDO. Artis Rieke Diah Pitaloka juga sepakat bahwa kunci keberhasilan kaderisasi berada di tangan parpol.
Perempuan yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya ini juga belum melihat sistem kaderisasi berjalan dengan baik di dalam tubuh partai politik. Sehingga tidak salah saat masa pendaftaran,nama caleg sudah menjadi rahasia umum dan parpol terkesan sembarangan merekrut orang.
Padahal, belum tentu orang yang direkrut memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menjadi wakil rakyat. ”Sistem pengaderan di parpol memang belum berjalan dengan baik. Sehingga tidak heran,direkrutlah orangorang yang belum tentu memiliki kapasitas,”ujarnya.
Menurut Rieke, parpol harus mulai memperbaiki sistem kaderisasinya.Sebab,kewajiban dalam melakukan pendidikan pemilih nantinya bukan hanya merupakan tugas parpol atau Komisi Pemilihan Umum (KPU) saja.Akan tetapi,itu juga tugas caleg dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat konstituennya.
Di sisi lain,caleg perlu meluruskan niatnya untuk berkiprah di dunia politik. Apakah benar-benar ingin mengabdi kepada masyarakat atau hanya sekedar bertujuan meraih kekuasaan atau kekayaan pribadi belaka. ”Kalau dia masuk partai, memangnya mau ngapain? Tujuannya apa? Sebab, ketika kaderisasi gagal dan hanya diisi orang-orang luar secara instan,bagaimana bisa memperoleh kader yang memiliki kapasitas?”ungkapnya.
Kini, masyarakat berharap hadir figur-figur anggota parlemen andal hasil pemilu 2009. Masyarakat pun semakin cerdas dalam mempertimbangkan pilihan rasionalnya. Sementara parpol juga diharapkan segera mengubah paradigmanya dalam berpolitik.
Sebab, jika tidak, rasanya lagu Wakil Rakyat yang dilantunkan penyanyi balada Iwan Fals pada era 1980-an masih kuat relevansinya, yakni wakil rakyat bukan paduan suara yang hanya tahu nyanyian lagu setuju.Artinya, masyarakat berharap, wakil rakyat adalah benarbenar mewakili dan memperjuangkan suara rakyat. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205614/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment