Senin, 22 Desember 2008

Ancaman Krisis Otomotif 2009 - Tergantung Empat Instrumen

Sunday, 21 December 2008
BANYAKkalangan memprediksi,industri automotif dalam negeri pada 2009 akan buram. Sebab,tidak satu pun instrumen yang mendukung pertumbuhannya.

Setidaknya ada empat indikator penting yang mendukung pertumbuhan industri automotif di dalam negeri, yakni likuiditas, suku bunga,nilai tukar rupiah,serta perkembangan dunia bisnis. Dari sisi likuiditas,banyak perusahaan di dalam negeri yang terancam krisis likuiditas akibat dampak krisis global.

Di sebut-sebut perbankan merupakan yang paling rentan sehingga saat ini banyak bank yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya.Perbankan kini juga berhati-hati untuk menyalurkan kredit automotif karena takut gagal bayar.Sementara industri automotif juga terancam karena distribusi pemasarannya juga terganggu.

Sementara suku bunga,meskipun Bank Indonesia telah mengumumkan penurunan BI Rate25 basis poin dari 9,75% menjadi 9,5%,ini belum banyak memberikan pengaruh positif. Sebab,tetap saja kalangan perbankan masih menunggu perkembangan kondisi perekonomian dan tidak akan gegabah menurunkan suku bunga kredit pinjaman konsumtif, seperti untuk kredit automotif.

Berdasarkan asumsi tersebut, banyak kalangan sepakat bahwa pemasaran untuk produk automotif diprediksi bakal menurun drastis pada 2009. Mengenai nilai tukar rupiah,jelas instrumen ini sedang tidak mendukung pertumbuhan industri automotif.

Fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak menentu akhir-akhir ini yang sempat menembus angka di atas Rp12.000 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan diprediksikan nilai rupiah tidak akan turun dari kisaran angka Rp11.000 per dolar AS pada 2009 mendatang. Kondisi ini jelas membuat industri automotif harus berhitung ulang akan kinerja bisnisnya.

Sementara itu, meskipun perkembangan dunia bisnis automotif 2008 ini banyak dikabarkan cukup menggembirakan, pesimisme tentang kinerja 2009 masih saja menggelayuti industri ini. ”Tidak ada satu pun instrumen pendukung pertumbuhan industri automotif yang mendukung.Maka,kami pesimistis realisasi kinerja 2009 mendatang bisa lebih baik atau paling tidak sama dengan 2008 ini,” ujar Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan Danu-sasmita kepada SINDO.

Secara global, industri mobil terbesar Jepang, Toyota Motor Corp, berencana menurunkan target penjualannya untuk 2009 mendatang.Tidak tanggung-tanggung, penurunan target mencapai lebih dari 1 juta unit,menjadi kurang dari 8,5 juta unit untuk penjualan 2009.Sebagaimana disebutkan dalam laporan resmi perusahaan itu, terjadi penurunan permintaan dari pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Sementara penjualan mobil Toyota di Indonesia untuk 2008 ini mencatat prestasi cukup mengagumkan.Diprediksikan, hingga akhir 2008 ini bisa terjual 209.000 unit.Angka penjualan ini disebut-sebut sebagai rekor baru dan mampu mengantarkan Indonesia masuk lima besar penjualan mobil Toyota di seluruh dunia.

Selama ini penjualan mobil Toyota yang masuk lima besar di dunia adalah AS, Jepang, China,Thailand,dan Australia.Namun,seiring memburuknya perekonomian dunia, penjualan mobil mengalami penurunan di berbagai negara tersebut. Penjualan mobil Toyota di Indonesia justru mengalami peningkatan.

Pada Januari–November 2008, penjualan TAM telah mencapai 194.232 unit atau naik 42,1% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 136.674 unit.Ter-catat, penjualan terbesar TAM masih dari varian Avanza sebanyak 76.826 unit atau naik 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 57.280 unit. Disusul Kijang Innova yang terjual sebanyak 47.862 unit atau naik 32% dibanding periode yang sama 2007 yang mencapai 36.315 unit.

”Hingga saat ini angka penjualan kami masih jalan, itu karena masih banyak order yang outstanding. Sementara untuk pemesanan baru, kami akan sangat pesimistis pada 2009 mendatang,”ujar Johnny. Executive Vice President Astra Honda Motor (AHM) Siswanto Prawiroatmodjo menegaskan, keadaan berimbang antara empat instrumen (likuiditas,suku bunga,nilai tukar rupiah, perkembangan dunia bisnis) sempat terjadi pada semester awal 2008.

Kondisi ideal seperti itulah yang sangat diharapkan masyarakat.Sebab,kelangkaan likuiditas akan menyebabkan naiknya suku bunga pinjaman. Sementara likuiditas yang berlebih akan menyebabkan spekulasi pada mata uang asing. ”Nilai tukar,suku bunga pinjaman,serta likuiditas yang berimbang dan stabil akan banyak membantu industri ini,” ungkapnya kepada SINDO. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/197886/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment