Sunday, 21 December 2008
Akibat krisis global,diprediksikan kinerja industri automotif nasional bakal menurun 30–40% pada 2009. Banyak kalangan berpendapat,industri mobil lebih rentan,sementara industri sepeda motor lebih kebal.
Dampak krisis global sudah semakin nyata terjadi di Indonesia. Industri automotif adalah salah satu industri yang harus berhitung ulang dengan kinerjanya akibat krisis ini. Sebab, selain sebagian bahan bakunya impor,saat ini pasar ekspor untuk tidak banyak yang bisa diharapkan. Di samping itu,ketatnya likuiditas perbankan juga menambah panjang daftar sulitnya industri tumbuh pada 2009.
Kemudian, fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak menentu melengkapi hambatan industri ini untuk bisa berkembang,tahun depan. Meski demikian,untuk industri sepeda motor, Menteri Perindustrian Fahmi Idris optimistis masih memiliki masa depan yang cerah. Keyakinan Fahmi ini didasarkan pada data yang ada.
Dari tahun ke tahun, angka penjualan sepeda motor mencatat angka pertumbuhan yang cukup mengesankan. Tercatat pada 2007, angka penjualan motor mencapai angka 4,7 juta unit, yang berarti tumbuh 6% dibanding 2006.Sementara tahun ini Fahmi optimistis target penjualan motor mencapai angka 6 juta unit.
Pertumbuhan ini terjadi karena untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri ataupun untuk ekspor.Tercatat,penjualan sepeda motor Indonesia selama periode Januari–November 2008 mencapai 5,813 juta unit. Jadi, untuk mencapai angka 6 juta unit, tinggal menunggu hasil penjualan bulan Desember. Fahmi juga optimistis karena 97% komponennya berasal dari produk lokal.
Dengan demikian,tidak terpengaruh dengan terjadinya gejolak nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. Bahkan, Fahmi mencatat ada beberapa produsen, seperti Yamaha dan Bajaj yang melakukan ekspansi.Selain itu,untuk distribusi penjualan,kemudahan yang ditawarkan lembaga pembiayaan,yakni dengan hanya menggunakan uang muka Rp200.000–300.000 sudah bisa memiliki motor, juga berkontribusi terhadap pertumbuhan industri ini.
Profil konsumen sepeda motor antara lain sebanyak 29% karyawan swasta, 27% wiraswasta, 24% pelajar dan mahasiswa, 8% PNS,dan 12% lain-lain. Keoptimisan Fahmi ini menjadi semakin bertambah jika melihat catatan pertumbuhan ekspor produk sepeda motor dan komponennya yang mencapai angka 99% dibanding tahun lalu.Per September 2008,tercatat lebih dari 51.000 unit sepeda motor diekspor ke berbagai negara.
Sementara pada 2007,angka ekspor hanya berkisar 25.600 unit.Fahmi mencatat industri sepeda motor saat ini terdiri atas 40 industri perakitan, 195 industri komponen lapis pertama, 600 industri komponen lapis kedua, 18.000 agen penjualan dan servis resmi, dan 12.000 gerai lainnya.
”Dengan demikian, industri ini mampu menyerap 400.000 tenaga kerja yang terdistribusi pada seluruh rantai bisnis sepeda motor mulai dari industri perakitan sampai tenaga tambal ban,” kata Fahmi kepada wartawan (10/12). Namun,keoptimisan Fahmi ini berbanding terbalik dengan prediksi yang diungkapkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Motor Indonesia (AISI).
Menurut kedua lembaga wadah bagi industri mobil dan motor ini, angka pertumbuhan industri automotif pada 2009 mendatang tidak banyak yang bisa diharapkan.Alih-alih bisa tetap bertahan dengan angka penjualan 2008 yang secara total memang diprediksikan bakal mengalami pertumbuhan signifikan,yang ada justru banyak kalangan sepakat akan terjadi penurunan hingga mencapai 30–40%.
Kekhawatiran banyak kalangan ini juga cukup beralasan. Sebab, berdasarkan data AISI, penjualan sepeda motor untuk Oktober 2008 tercatat mengalami penurunan sebesar 7,8%, yakni sebanyak 516.071 unit dibanding September yang mencatat 521.000 unit.Namun, jika dibandingkan angka penjualan periode yang sama pada tahun lalu memang masih mengalami pertumbuhan sebesar 18% atau sebesar 422.382 unit untuk penjualan Oktober 2007.
Kondisi serupa juga terjadi pada industri mobil yang terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan Danusasmita pun pesimistis. Menurutnya, industri mobil akan lebih rentan ketimbang industri sepeda motor akibat dampak krisis global saat ini. Diperkirakan, angka penjualan mobil 2009 mendatang menurun dari 600.000 unit (target 2008) menjadi 330.000–450.000 unit (target 2009).
Penurunan target penjualan mobil itu bukanlah target pesimis, melainkan target realistis,mengingat kondisi perekonomian yang sedang tidak mendukung terjadinya pertumbuhan. ”Bisa jadi industri motor lebih kebal dibandingkan mobil. Sebab, dengan kondisi menurunnya daya beli masyarakat seperti sekarang,masyarakat akan memilih-milih untuk belanja. Motor tentu pilihan alat transportasi yang lebih realistis ketimbang membeli mobil untuk kondisi ekonomi yang sulit,”ungkapnya kepada SINDO.
Meski begitu, industri mobil ataupun motor tidak akan bisa lolos dari dampak krisis global saat ini. Sebab, dampak krisis global memang menggerus pertumbuhan semua sektor industri. Industri automotif termasuk salah satu sektor yang mengalami dampak buruk sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat (AS).
Meski Fahmi begitu optimistis industri sepeda motor akan tetap cerah, Executive Vice President PT Astra Honda Motor (AHM) Siswanto Prawiroatmodjo justru sebaliknya.AHM selama ini selalu mencatat angka penjualan sepeda motor di dalam negeri dengan cukup mengesankan dan selalu tertinggi.
Siswanto mengakui,meski kandungan komponen lokal sepeda motor mencapai sekitar 97–98%, dari sisi kualitas masih belum bisa menekan produk impor dari China.Menurut Siswanto,kandungan komponen lokal sejatinya masih mengandung kandungan impor bahan baku.
”Seperti baja, aluminium, dan plastik yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh harga komoditi tersebut secara global serta pengaruh nilai tukar mata uang asing,”ujarnya kepada SINDO. Dengan demikian, kenaikan kurs mata uang asing dipastikan menyebabkan naiknya biaya produksi. Ini berarti nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekitar 30%.Kondisi ini dipastikan membawa pengaruh pada biaya produksi sehingga berpengaruh atas kenaikan harga jual produk.
”Perhitungan turunnya pasar sepeda motor sebesar 30% adalah akibat dari turunnya daya beli masyarakat secara langsung yang bukan merupakan akibat naiknya harga sepeda motor yang signifikan,” paparnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/197889/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment