Minggu, 21 Desember 2008

Profil Aburizal Bakrie - Penikmat Jazz yang Suka Berkawan

Saturday, 20 December 2008
Di sela-sela kesibukannya yang padat, Aburizal Bakrie sangat menyukai musik jazz dan tidak pernah melupakan hubungan pertemanan.

Kesibukan dan padatnya jadwal sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) tidak membuat Aburizal Bakrie kehilangan waktu luang untuk kehidupan pribadinya. Setiap akhir pekan, ketika sedang tidak menjalankan tugas negara, Ical –begitu sapaan akrabnya– biasa meluangkan waktu untuk menikmati konser musik favoritnya, jazz.

Java Jazz Festival adalah salah satu konser langganan Ical. Namun, dalam memenuhi hasrat hobinya ini,Ical enggan ditemani ajudan atau mendapatkan pengawalan ketat layaknya pejabat. “Ketika menonton konser musik jazz, Bapak tidak suka mendapatkan pengawalan ketat. Bahkan staf-stafnya terkadang diundang untuk ikut nonton,bukan untuk mengawalnya, melainkan sebagai teman yang diajak nonton bareng,” ujar juru bicara Aburizal Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa.

Selain musik jazz,Ical juga penyuka musik klasik.Alunan dari koleksi album musik klasik sering menemani Ical dalam menjalankan aktivitasnya. Alumnus Fakultas Elektro, Institut Teknologi Bandung, lulusan 1973 ini juga pernah menonton pertunjukan musik klasik opera di Kota Praha, Republik Ceko, demi cintanya dengan musik klasik.

Bahkan Bapak dari tiga anak ini ternyata juga pintar memainkan piano.Tidak jarang, demi menghilangkan rasa sepinya Ical mulai memainkan lagu favoritnya dengan menekan tuts-tuts piano.Kepia-waiannya ini sempat membuat staf-stafnya terheran-heran karena tidak menduga Ical mampu memainkan piano.

“Saya sempat terkejut, Pak Ical ternyata mampu memainkan piano karena sebelumnya saya tidak pernah menduganya,”ungkap Lalu. Selain bidang kesenian, putra sulung mendiang pengusaha Achmad Bakrie ini juga gemar berolah raga. Segudang keahlian berolahraga mampu dilakoninya. Mulai renang, latihan kebugaran (fitnes), tenis hingga karate.

Bahkan tidak jarang jika ada waktu luang, malam sepulang menjalankan tugasnya Ical langsung melakukan fitnes di Klub Rasuna Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah klub kebugaran milik keluarga Bakrie. Selain itu, setiap pagi sebelum bekerja Ical juga menyempatkan waktu meregangkan otot-ototnya dengan olahraga.

Tentang kegemarannya bermain tenis, meski usianya terbilang sudah tidak muda lagi,pria yang lahir di Jakarta,15 November 1946 itu sanggup berlatih tanding dengan mantan-mantan atlet nasional. “Untuk masalah olahraga, Bapak bisa melakukan kapan saja kalau ada waktu.Malam sepulang kerja beliau sering fitnes.Kemudian setiap pagi sebelum kerja juga beliau masih menyempatkan olahraga dulu,”ujar Lalu.

Untuk urusan pertemanan, bagi Ical adalah harga mati. Mantan Menteri Koordinator Perekonomian ini akan berjuang mati-matian untuk menjaga hubungan pertemanannya dengan kawankawannya sejak kecil hingga dewasa. Bahkan hubungan pertemanan Ical dengan kawan- kawannya sewaktu masihdibangkutamankanak- kanak (TK) hingga saat ini masih terjalin dengan baik.

Solidaritas terhadap teman ini ditunjukkan Ical ketika dia mengunjungi temannya semasa di bangku TK Adi Warsita Adinegoro di penjara.Adi mendekam dalam tahanan akibat tersangkut kasus korupsi. Meski Ical menjabat menteri, dia tetap menjenguk kawannya di masa kecil ini untuk menunjukkan rasa solidaritas.

Penghargaan terhadap pertemanan inilah yang membuat Ical tidak pernah melupakan jasa orang-orang di sekelilingnya. Insinyur yang pintar berwira usaha dan berpolitik ini masih menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan ibunya setiap hari Sabtu bersama saudara-saudaranya. Selain itu, dia juga menyediakan waktu untuk berkumpul dengan anakanaknya. Biasanya anakanaknyalah yang berkunjung ke rumah Ical.

Namun,menurut Lalu,Ical tidak pernah mengeluhkan pemberitaan media akhir-akhir ini yang sering menyudutkan posisinya atas kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, JawaTimur. “Pak Ical tidak terlalu merisaukannya karena sudah ditangani oleh manajemen.Dia jarang stres atau depresi karena selalu berpikir positif. Selain itu dia juga pekerja keras, disiplin, dan selalu patuh pada komitmen,”tambahnya.

Meski demikian,pria yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes ini juga pernah mengalami pengalaman tidak mengenakkan. Itu terjadi ketika dia masih menjabat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada 1999-an.Lalu yang saat itu mendampingi Ical untuk melakukan kunjungan ke daerah mengalami pengalaman buruk dengan petugas bandara.

Ketika mengantre pembelian tiket pesawat,Ical dan Lalu harus berbaris mengantre di antara calon penumpang lain. Sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia, seharusnya Ical bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas penerbangan secara mudah tanpa harus mengantre. Sebab, dari segi perusahaan, maskapai penerbangan adalah anggota Kadin Indonesia.

Namun kondisi perusahaan Ical saat itu memang sedang tidak bagus. Kinerja perusahaan Bakrie Brothers sedang anjlok.Tempat di mana Ical dan Lalu antre tidaklah terlalu mengenakkan karena tepat berada di bawah tangga,yang banyak orang lalu lalang naik turun tangga. Sebagai staf, kemudian Lalu mengambil inisiatif untuk mengajak Ical sedikit bergeser tempat sehingga menempati garis antrean maskapai lain.

Namun aksi yang dilakukan Lalu ini justru bermasalah,dia diusir petugas bandara untuk kembali ke garis antrean yang seharusnya. Padahal Lalu sudah menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk membantu kenyamanan Ical sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia. Namun tetap saja petugas bandara tidak peduli dan tetap mengusir Lalu dari barisan antrean.

“Melihat saya melakukan ini,bukannya Pak Ical marah kepada petugas bandara untuk membela saya. Namun dia malah balik memarahi saya,‘ Kamu itu lho, itu kan bukan hak kita’,”bebernya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment