Sunday, 14 December 2008
Tinggal di lingkungan keluarga Betawi dengan kondisi perekonomian seadanya,membuat kedua bocah gembala harus berbagi tugas membantu orangtuanya Dua bocah lelaki kakak beradik yang masih duduk di sekolah dasar asyik menggembalakan kerbau sambil menenteng buku di sepanjang perjalanan dari Kampung Pinang, Cipondoh,Kota Tangerang hingga Batuceper-Benda (sekarang Bandara Soekarno Hatta).
Menggembala kerbau adalah pekerjaan rutin kedua bocah tersebut selepas pulang sekolah. Di sela-sela menggembala kerbau, keduanya kerap bersenangsenang, mandi di Kali Angke yang kala itu airnya masih bening dan bersih. Namun, siapa sangka kedua bocah gembala kini menjadi orang yang sukses dalam kariernya.
Sang kakak adalah Nur Hassan Wirajuda yang kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) dan adiknya,Wahidin Halim, adalah Wali Kota Tangerang. Kebiasaan lain yang juga sering dilakukan dua bersaudara itu ketika kecil adalah mengejar arah pesawat terbang yang tengah melintas di atas rumah mereka sambil melambailambaikan tangan.
”Kapal,minta duit! Aku minta kueee,”teriakWahidin.Lantas, Hassan menimpali, ”Kapal, tungguuu! Aku mau ikut!” Melihat tingkah laku kedua anaknya, sang ibu tak kuasa menahan tawa. Ibunya pun berujar ”Gue doain mogamoga elu,San (Hassan Wirajuda),bisa naik pesawat terbang ke luar negeri dengan ongkos gratis.
Elu juga Din (Wahidin Halim), emak doain nanti banyak makanan,” begitu Wahidin mengenang doa sang ibu. Kini doa sang ibu terkabul.Hassan yang meniti karier sebagai diplomat di jajaran Departemen Luar Negeri itu menjadi Menlu sejak 2001. Dengan menjadi diplomat,keinginan masa kecilnya pun terkabul.
Sementara Wahidin yang menjabat Wali Kota Tangerang sejak 2003 hingga sekarang tentu tidak kekurangan makan dan uang sebagaimana keinginannya dulu ketika mengejar-ngejar pesawat terbang. Hassan dan Wahidin masingmasing adalah adalah anak kedua dan ketiga dari sembilan bersaudara pasangan H Djiran Bahjuri dan Hj Siti Rohana.
Kedua sosok ini dibesarkan dalam lingkungan sederhana.Ayahnya adalah seorang guru SD di Poris Plawad, Tangerang, sedangkan sang ibu tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. ”Bagi kami,Kak Hassan dan Kak Wahidin adalah anutan,”kata Enny Suryani,sang adik yang merupakan anak ketujuh,kepada SINDO.
Menurut Enny,tinggal di kalangan keluarga Betawi dengan kondisi perekonomian seadanya membuat kedua kakaknya (Hassan dan Wahidin) harus berbagi tugas membantu orangtuanya. Sepulang sekolah,Wahidin bertugas memandikan kerbau di Kali Angke.
Sementara Hassan diberi mandat oleh ayahnya untuk mencari rumput untuk makanan kerbau.Tidak jarang,untuk mendapatkan rumput, keduanya menggembala ternak hingga Selapajang, Rawalele, ataupun Rawabokor yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah mereka.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, baik Hassan maupun Wahidin diajari disiplin oleh orangtuanya. Menurut penuturan kakak sulung Hassan dan Wahidin,Hj Rukiyati,disiplin yang diterapkan ayahnya cukup keras.” Kalau sudah pukul lima sore Wahidin belum memandikan kerbau, ayah kami tak segan-segan memarahinya habis-habisan.
Sama halnya dengan Hassan, kalau dia tidak mendapatkan rumput untuk makanan kerbau, ia bakal terkena dampratan ayah,” kata Rukiyati, 62, seperti dituturkan dalam buku Fajar Merekah di Kota Tangerang. Meski demikian,menurut Rukiyati, kedua adiknya tetap diam dan tidak membantah perkataan ayahnya.
”Mereka diam saja tak berani menjawab, apalagi sampai berbantah-bantahan. Mereka anak yang penurut,”ujarnya. Meski dua bocah itu memiliki karakter yang berbeda, ada satu kesamaan di antara mereka. Keduanya gemar membaca. Buku, koran, majalah bekas atau apa pun jadi asal ada bahan bacaan.
Membaca dilakukan sembari naik punggung kerbau atau ketika menunggui kerbau yang sedang merumput. ”Sambil menggembalakan kerbau,Wahidin selalu membaca buku,apalagi Hassan,dia itu kutu buku,ke mana pun dia pergi tak pernah ketinggalan membawa dan membaca buku,”paparnya.
Itu sebabnya,Hassan yang lahir 9 Juli 1948 silam itu pandai menulis.Tidak sedikit teman-teman sebayanya waktu kecil yang meminta bantuannya untuk membuat karangan atau tulisan.Kedisiplinan dan perjuangan keras dalam hidup memang menjadi faktor utama yang diajarkan H Djiran kepada anakanaknya.
Seperti dituturkan Wahidin, pria kelahiran 14 Agustus 1954,meski tanpa alas kaki, dia dan sang kakak (Hassan) harus tetap bersekolah di SD Pinang yang berdinding bambu dan berlantai tanah. Bahkan,ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP),keduanya hampir setiap hari berjalan kaki ke sekolah yang terletak di Ciledug, yang jaraknya puluhan kilometer.
Keduanya memahami kondisi ekonomi orangtua mereka.Jangankan membeli sepeda, untuk membeli sepatu saja sulit.Wahidin berkisah, ia sempat merasakan belajar di sekolah sambil berdiri karena tidak ada bangku. Demi kenyamanannya belajar, dia membawa bangku sendiri dari rumah dan digendongnya sambil berjalan kaki.
Wahidin mengaku tak jarang ia terkantuk-kantuk saat mengikuti pelajaran di sekolah. ”Bagaimana nggak ngantuk? Waktu itu saya benar-benar kurang tidur. Saban hari selepas dini hari saya mengantar cabai ke pasar.Habis itu, saya langsung berangkat ke sekolah,” kenang Wahidin.
Wahidin mengisahkan, pekerjaan menjual hasil pertanian untuk membantu ayahnya itu dia lakukan pada 1967 silam. Dengan mengumpulkan cabai dari para petani di kampungnya, Wahidin kecil kemudian membantu ayahnya menjualnya ke Pasar Anyar. ”Pada waktu itu ayah saya bersama para tetangga kalau panen cabai menjualnya ke pasar.
Pukul empat pagi sudah berangkat, mandi dan salat subuh di Masjid At-Taqwa (sekarang sebelah SMA 2 Tangerang),” paparnya. Sulitnya kehidupan tak membuat kedua saudara itu patah semangat. Terbukti, keduanya bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di Universitas Indonesia (UI) hingga sukses dalam karier.
Selain Hassan dan Wahidin, adik-adiknya juga berhasil. Di antaranya Achmad Suwandhi (anak keempat) yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang. Lantas, Umi Sumiyati (anak kelima) sebagai guru di Tangerang, Ardi Subandri (anak keenam) sebagai anggota kepolisian di Tangerang, Enny Suryani (anak ketujuh) kini mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah di daerah pemilihan Provinsi Banten untuk Pemilu 2009, dan sang bungsu Abdul Syukur menjabat sebagai anggota DPRD Kota Tangerang. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195616/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment