Kamis, 18 Desember 2008

Bagaimana Mengelola Aliran Modal?

Monday, 15 December 2008
JIKA di Thailand diberlakukan sistem devisa kontrol, di China, sejak 2003 diberlakukan kebijakan ”sulit untuk masuk dan mudah untuk keluar. Sementara di Indonesia, aliran modal demikian mudahnya untuk masuk dan keluar.


Kebijakan sistem finansial antara China,Thailand,dengan Indonesia amatlah berbeda. Di Indonesia, karena menganut sistem devisa bebas, modal bebas masuk dan keluar kapan saja tanpa halangan.Padahal, kebijakan untuk mencegah tergerusnya nilai mata uang dari ulah spekulan adalah sah saja di lakukan, sebagaimana yang telah dicontohkan Malaysia.

Berdasarkan hasil studi Yu Yongding dari Lembaga Kajian Ekonomi dan Politik Dunia Chinese Academy of Social Sciences (November 2008) dijelaskan bahwa selama lebih dari 28 tahun, China telah menunjukkan kinerja perekonomian dengan pertumbuhan rata-rata 9%.

Sejak 1979, Negeri Tirai Bambu itu merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat bukan hanya secara total,melainkan juga pendapatan per kapita dan produktivitas ketenagakerjaan. Pada akhir 2007, dengan GDP USD3,6 triliun, volume perdagangan USD12,7 triliun, dan cadangan devisa mencapai angka USD1,6 triliun.

China telah menjelma sebagai negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia,negara perdagangan terbesar ketiga,serta perolehan cadangan devisa terbanyak di dunia. Meskipun mengalami pasang surut,secara keseluruhan,kondisi perekonomian China menurut Yu, sangat stabil.

Selama 28 tahun terakhir,meskipun mengalami angka pertumbuhan yang cukup fantastis, China tidak pernah mengalami kesulitan keseimbangan keuangan maupun krisis keuangan.Padahal, krisis keuangan telah menghancurkan perekonomian beberapa negara. Buktinya, China merupakan salah satu negara di Asia yang paling tahan banting ketika terjadi krisis 1997 silam.

Meskipun setelah krisis yang melanda regional Asia 1997 tersebut, mata uang China berhasil lolos dari serangan para spekulator akibat pengendalian devisa yang diberlakukan negara itu.Namun setelah masa krisis berlalu, pengendalian terhadap devisa ini mulai dilonggarkan sebagai bagian dari upaya untuk berintegrasi dengan sistem finansial global dan komitmen pada liberalisasi.

Meski demikian, sejak 2003, Beijing memberlakukan kebijakan ”sulit masuk dan mudah keluar” yang diadopsi otoritas pemerintah setempat guna mengurangi tekanan terhadap nilai tukar mata uang yuan. Namun, kini dengan meningkatnya angka inflasi, peranan penting regulasi yang mengatur aliran dana lintas negara merupakan isu yang paling diperdebatkan di China saat ini.

Menurut Yu, secara garis besar, sistempengendaliandevisadiChina saat ini diimplementasikan dalam beberapa bentuk, yakni bagi perusahaan asli China dan bank komersial diizinkan untuk tetap menyimpansejumlahvalutaasingsecara proporsional yang didapatkan dari transaksi.

Hingga saat ini ketentuan ini belum ada ketentuan batasan. Kemudian, warga China diizinkan menukarmatauangyuanke dolar AS maksimal USD50.000 per tahun.Kini masyarakat pun bebas untuk membuka rekening valuta asing. Perusahaan China yang berinvestasi di luar negeri kini tidak terlalu dikekang ketimbang di masa lalu.

Warga negara China diizinkan membeli saham asing melalui lembaga investasi domestik (QDII). Skema QDII ini telah diperkenalkan sejak Juni 2006, yakni mengizinkan bank-bank lokal yang memenuhi syarat untuk mengembangkan bisnis manajemen investasi bagi klien mereka maupun sekuritas.

Bagi yang bukan warga negara China juga diizinkan untuk membuka rekening dalam mata uang yuan.Masih banyak lagi kebijakan pemerintah China yang sudah mulai longgar. Sementara sistem nilai tukar valuta asing juga telah dibuat. Dengan sistem ini, aliran modal masuk demikian diperketat. Ini dengan asumsi bahwa semua aliran modal masuk harus didasarkan pada transaksi riil.

Aliran valuta asing yang masuk juga tidak diizinkan untuk mengambil keuntungan dari terjadinya apresiasi nilai mata uang yuan. Sementaradi Thailand,berdasarkan hasil studi Thawatchai Jittrapanun and Suthy Prasartset dari Fakultas Ekonomi Chulalongkorn University, Bangkok (November 2008), disimpulkan bahwa tantangan ekonomi yang dihadapi negeri itu saat ini berbeda dengan era 1990-an.

Menurut Tawatchai, aliran modal yang masuk dalam jumlah besar sejak krisis 1997 telah memberikan dampak apresiasi yang signifikan terhadap nilai mata uang Baht. Bahkan, halinijuga ditudingamatterkaitpertumbuhan angka defisit tahun ini. Banyak hal sudah dilakukan. Termasuk sterilisasi intervensi dan akumulasi dari jumlah besar saham dan devisa.

Dengan ukuran jangka waktu pendek sebagaimana liberalisasi dari aliran modal keluar yang dilakukan investor yang merupakan warga negara Thailand. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menilai, jika kontrol devisa diberlakukan di Indonesia dengan kaku, dikhawatirkan justru akan membuat takut para investor asing.

Sebab, saat ini sudah ada pengawasan seperti pembatasan transaksi sebesar USD100.000 yang dilakukan pengusaha guna mencegah spekulasi nilai tukar. Lewat sejumlah masukan, tampaknya pemerintah sudah saatnya berupaya bekerja keras mengatasi krisis.Sebab,pemerintah wajib mengontrol keadaan agar tidak disalahgunakan pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan sesaat. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195897/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment