Kamis, 18 Desember 2008

Pendidikan Keluarga sebagai Fondasi

Sunday, 14 December 2008
DUNIA olahraga Indonesia mengenal kakak beradik Mainaky yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara dalam cabang bulutangkis.


Salah satu yang paling fenomenal adalah Rexy Mainaky yang bersama pasangannya, Ricky Subagja, berhasil mempersembahkan medali emas nomor ganda putra pada Olimpiade Atlanta 1996. Prestasi saudara-saudaranya seperti Marleve dan Richard juga tak kalah hebat.Marleve,misalnya, adalah tulang punggung tim Indonesia saat merebut Piala Thomas.

Setelah pensiun, mereka meneruskan kiprahnya di dunia bulutangkis sebagai pelatih dan tetap berprestasi.Richard sebagai pelatih pelatnas ganda campuran sukses membawa Nova Widianto dan Lilyana Natsir menjadi juara dunia serta Flandy Limpele dan Vita Marissa meraih beberapa gelar juara turnamen super-series.

Marleve Mainaky menjadi pelatih tunggal putri,sementara Rexy sendiri melatih di Malaysia. Fenomena kesuksesan anggota keluarga tentu saja tidak terbatas hanya dalam dunia olahraga. Dalam dunia bisnis kita mengenal nama Hendra B Sjarifudin.Dia bersama beberapa saudaranya mendirikan Kenari Djaja yang sejarahnya dimulai dengan dibukanya sebuah kios kecil di salah satu sudut Pasar Kenari,Salemba,pada 1965.

Kenari Djaja merupakan perusahaan terkemuka dalam distribusi kunci serta peralatan pintu dan jendela bagi merek-merek ternama. Hendra adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara yang lima di antaranya kini bergabung di Kenari Djaja. Dalam dunia akademis kita mengenal Andi dan Rizal Mallarangeng yang terkenal sebagai ilmuwan politik.

Daftar di atas masih bisa diperpanjang lagi.Mereka semua memiliki satu kesamaan. Mereka adalah contoh dari keluarga-keluarga yang sukses membangun prestasi dengan merintis karier dari bawah. Sukses yang diraih setelah merasakan beratnya perjuangan.

Kesuksesan sejati yang diperoleh melalui perjuangan yang tak kenal lelah tanpa mengandalkan koneksi, hubungan kekerabatan, dan keistimewaan dalam memperoleh fasilitas. Inilah kesuksesan yang sebenarnya, bukan kesuksesan semu sebagai hasil praktik nepotisme.

Pada umumnya orang-orang yang meraih kesuksesan sejati memiliki pola sikap positif dalam menghadapi berbagai hal, termasuk dalam menghadapi rintangan dan kegagalan.Mereka juga cenderung untuk tidak mau didikte keadaan, tidak mudah menyerah,dan fleksibel dalam menghadapi perubahan.

Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang kuat,kemauan, serta kemampuan untuk bekerja dengan siapa saja. Mereka akan berusaha untuk menyelesaikan suatu masalah dengan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki sendiri. Terpenting, mereka memiliki integritas dan kejujuran.

Namun perlu diingat bahwa sifat-sifat atau karakter tersebut tidak terbentuk begitu saja, melainkan harus dibangun sejak awal. Dalam hal ini pendidikan di dalam keluarga memainkan peran yang sangat penting.Bukan dalam arti pendidikan formal demi mengejar prestasi akademi yang tinggi, tetapi lebih dalam rangka membangun karakter generasi muda.

Sebagai contoh, Hendra B Sjarifudin bukanlah seseorang dengan pendidikan formal yang tinggi.Namun pendidikan orangtuanya yang mengutamakan nilai-nilai seperti kerja keras, kedisiplinan, serta kreativitas dan inovasi membentuk dia dan saudara-saudaranya menjadi seseorang yang berkarakter kuat sehingga mampu membesarkan Kenari Djaja.

Karakter-karakter penting yang dibangun dalam pendidikan keluarga demi tercapainya kesuksesan sejati di masa depan di antaranya mencakup independensi,kepercayaan diri dan ketegaran, bertanggung jawab, kedisiplinan, menghargai dan menghormati hak-hak orang lain,kreatif dan inovatif, semangat untuk bekerja keras, serta integritas dan kejujuran.

Berkaitan dengan pembangunan karakter ini,keluarga menjadi fondasi. Pada masa awal pertumbuhan (balita), proses pembentukan karakter yang paling penting diperoleh melalui peniruan (imitation). Keteladanan orangtua merupakan landasan terpenting dalam pendidikan keluarga.

Selain peniruan, terdapat sederet cara lain yang dapat dimanfaatkan secara efektif oleh keluarga, yakni pembelajaran sosial (social learning), instruksi langsung, story telling, dan experiential learning. Dalam pembelajaran, mereka yang menunjukkan karakter yang baik akan menularkan secara efektif nilai-nilai yang mereka miliki dengan menjadi contoh bagi tindakan-tindakan dan pilihanpilihan yang harus ditempuh guna menjadi seseorang dengan karakter yang baik.

Melalui hal ini,anak-anak akan menyadari pentingnya nilai-nilai seperti kejujuran,kerja keras,pantang menyerah, serta menghargai hak-hak orang lain. Kesemuanya akan menimbulkan rasa senang, puas,dan damai. Dalam instruksi langsung, orangtua perlu menjelaskan alasan seputar kesalahan perilaku-perilaku tertentu pada saat melakukan koreksi.

Tentukanlah nilai-nilai yang ingin diajarkan berdasarkan perilaku tertentu. Instruksi langsung ini membantu anak-anak dan generasi muda belajar seputar masalah kedisiplinan dan tanggung jawab bahwa seseorang harus selalu bersedia menerima segala konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya.

Penyampaian cerita merupakan salah satu cara yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai moral tertentu,terutama bagi anak-anak, meski pada dasarnya hampir setiap orang menyukai cerita. Ceritakanlah hal-hal seputar pengalaman hidup dan dunia sekitar kita dan bimbing mereka untuk meresapi moral cerita sebagai proses pembangunan karakter .

Diskusi seputar ceritacerita tersebut akan memberikan pemahaman yang mendalam serta mengurangi gaya indoktrinasi dalam menyampaikan nilai-nilai pembangun karakter. Sementara dalam experiential learning, seseorang mempraktikkan hal-hal yang sudah dia pelajari sehingga benar-benar melekat dalam dirinya.

Hal ini bertujuan agar anggota keluarga merasakan sendiri betapa pentingnya mereka memiliki karakter-karakter tertentu. Sebagai contoh, berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun terjun dalam dunia bisnis, Hendra B Sjarifudin misalnya menyadari bahwa ada enam filosofi yang harus dipegang untuk menjadi seorang pengusaha yang berhasil, yakni jejaring (networking),kejujuran, kerja keras, kreatif dan inovatif, komitmen, dan terakhir barulah uang.

Namun di samping faktor keluarga, faktor budaya masyarakat dan lingkungan sekitar juga memainkan peran yang tak kalah penting. Banyak orang yang terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang buruk justru akibat faktor lingkungan. Oleh karenanya perlu diciptakan budaya dan lingkungan yang menjadikan masyarakat menghargai nilai-nilai seperti kerja keras, pantang menyerah, tanggung jawab,serta kejujuran dan integritas.

Jangan sampai nilai-nilai yang dibangun keluarga menjadi mandul tatkala menghadapi situasi yang tidak kondusif.Misalnya nilainilai nepotisme dapat mengabaikan faktor-faktor selain kompetensi dan prestasi dalam melakukan perekrutan, penilaian kinerja,dan pemberian kompensasi .

Mereka yang dipilih sematamata karena hubungan kekerabatan atau koneksi dengan orangorang yang berpengaruh tanpa mempertimbangkan kompetensi dan prestasi cenderung akan memiliki kinerja dan mengambil keputusan yang buruk sehingga merugikan orang banyak.

Mereka cenderung mendahulukan kepentingan individu dan kelompoknya ketimbang kepentingan yang lebih luas. Praktik seperti ini jelas akan mengecewakan mereka yang telah sungguh-sungguh berjuang dan menunjukkan prestasinya. Dalam pembentukan karakter sebagai penentu kesuksesan, pendidikan keluarga berperan sebagai fondasinya, pendidikan lingkungan akan memahatnya lebih lanjut.(*)

AB Susanto,
Managing Partner
The Jakarta Consulting Group

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/195615/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment