Selasa, 02 Desember 2008

Ramai-Ramai Berkaca

Monday, 01 December 2008
DAMPAK krisis global cukup terasa bagi industri di dalam negeri. Akhirnya mereka terpaksa mengkaji kembali pertumbuhan pendapatan maupun keuntungannya.


Jika sebelumnya banyak pihak demikian optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia bakal naik,kini semua harus ditinjau kembali. Sebab dampak krisis global membuat pemerintah maupun kalangan industri harus berhitung ulang dengan target-targetnya.

Jika sebelumnya pendapatan maupun keuntungan bersih dipatok pada angka tertentu, kini harus direvisi ulang. Beruntung jika tidak mengalami kerugian atau bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada karyawan. Imbas krisis global ternyata dirasakan semua sektor industri.

Tidak hanya sektor manufaktur dan pertanian yang sebelumnya disebutsebut akan mengalami dampak paling parah,tapi juga sektor lain,terutama yang mengandalkan bahan baku impor, termasuk perusahaan yang tujuan ekspor utamanya ke Amerika Serikat (AS). Maklum, saat ini AS tengah mengetatkan permintaan ekspor akibat krisis.

Bagi perusahaan yang mengandalkan bahan baku dari impor akan sangat terpukul.Sebab krisis finansial global tak pelak membuat pasar modal dan keuangan di dalam negeri gonjang-ganjing. Nilai tukar rupiah naik turun tak menentu sehingga sulit untuk dijadikan patokan pada angka berapa harga bahan baku akan dianggarkan.

Ini semakin sulit terutama bagi kalangan industri farmasi di dalam negeri. Sebab hingga saat ini sebagian besar bahan baku industri ini masih impor, sedangkan pemasarannya di dalam negeri. Masalah ini tentu sulit bagi kalangan industri farmasi untuk bisa membuat kinerja perusahaannya berjalan stabil dan sehat.

”Kami tentu sangat merasakan dampak krisis global, sebab bahan baku kita impor sementara kita jualnya untuk pasar domestik yang sulit untuk menaikkan harga jual di tengah menurunnya tingkat daya beli masyarakat saat ini,” ungkap Direktur PT Kalbe Farma Vidjongtius saat jumpa pers pada Investor Summit & Capital Market Expo 2008 di Jakarta (26/11).

Padahal, secara fundamental, bisa jadi kondisi Kalbe Farma masih lebih bagus dibandingkan perusahaan lain.Meski begitu,perusahaan farmasi yang pabriknya berada di Lippo Cikarang Bekasi itu tetap harus berhitung bagaimana menjalankan bisnis di tengah masa krisis global saat ini.

Vidjongtius mengungkapkan, sebagaimana biasanya stok bahan baku obat Kalbe Farma hanya untuk jangka waktu 2–3 bulan. Hitung-hitungannya, jika hingga 2–3 bulan mendatang nilai tukar rupiah tak kunjung stabil, bahan baku tetaplah harus dibeli meskipun berharga mahal akibat kurs nilai rupiah yang semakin anjlok kisaran angka Rp12.700 per dolar (30/11).

”Kita akan reviu lagi apakah tiga bulan lagi kita akan naikkan harga jual atau tidak.Yang jelas dampak krisis global mengakibatkan kami harus mengorbankan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan bahan baku,sebab biaya operasional naik tajam,”tambahnya.

Meski demikian, PT Kalbe Farma memastikan tidak akan terjadi pemutusan hubungan kerja pada karyawannya selain kembali menghitung dan mengatur ulang strategi agar bisa bertahan menjalankan bisnis di tengah krisis saat ini.Tercatat PT Kalbe Farma telah melakukan pembelian kembali sa-ham mereka dua kali,yakni senilai Rp529,5 miliar (497 juta saham) dan Rp9,3 miliar (16,6 juta saham).

Sementara dalam menghadapi krisis global saat ini, Kalbe Farma mengambil beberapa langkah.Di antaranya pengeluaran barang modal (capex) yang lebih selektif, peningkatan efisiensi biaya operasional dan modal kerja,menjaga likuiditas kas perusahaan, dan peningkatan produktivitas sumber daya manusia.

Meski demikian, di tengah maraknya gelombang ancaman PHK di beberapa sektor industri, tidak sedikit perusahaan di dalam negeri yang optimistis mampu melewati masa krisis saat ini.PT Aneka Tambang Tbk (Antam) misalnya,meski belum ada catatan kalkulasi berapa total penurunan pertumbuhan untuk triwulan terakhir 2008 ini,tetap optimistis.

Sebab catatan hingga per September 2008, kinerja perusahaan pertambangan ini mengalami pertumbuhan yang cukup positif.Di antaranya untuk produksi feronikel mencatat kenaikan 15% per September 2008 dibandingkan periode yang sama pada 2007.

Demikian juga komoditas lain, meskipun mencatat angka pertumbuhan tidak terlalu besar seperti bijih nikel (2%), emas (3%), perak (3%), bauksit (9%). Sementara komposisi pendapatannya 73% dari nikel,25% emas dan perak,serta 2% dari bauksit.”Ini agak bergeser dari tahun lalu, sebab dulu 80%- nya pendapatan kami dari nikel,” ujar Direktur Utama PT Antam, Alwinsyah Loebis.

Meski begitu, Antam terpaksa mereviu kembali target produksi feronikel pada 2009 mendatang. Sebab anjloknya harga nikel di pasar internasional memaksa Antam untuk memangkas target produksinya pada 2009 menjadi 12.000 ton atau turun 29,4% dibandingkan 2008 sebanyak 17.000 ton.

Toh,Alwinsyah sudah bersiap jika penerimaan Antam tahun depan akan menurun akibat permintaan yang menurun seiring melambatnya perekonomian global. Tidak berbeda halnya dengan perusahaan yang bergerak di sektor hulu migas PT Elnusa Tbk. Menurut Sekretaris Perusahaan PT Elnusa Heru Samodra,Elnusa mencatat pertumbuhan pendapatan 16% atau menjadi Rp2,5 triliun pada 2008 ini.

Pendapatan Elnusa 66% dikontribusi dari jasa hulu migas. Sementara laba bersih perseroan diperkirakan meningkat menjadi Rp151 miliar atau tumbuh 51% dibandingkan pada 2007. Demikian optimistis Elnusa memproyeksikan pendapatan 2009 yang diperkirakan mencapai Rp3,02 triliun dan laba bersih tahun depan sebesar Rp216 miliar.

”Peningkatan pendapatan tersebut karena sudah mulai beroperasinya alat-alat produksi yang belanja modalnya sudah dilakukan sejak 2008 serta peningkatan keuntungan dari jasa hulu migas,”paparnya. Begitu juga perusahaan jasa konstruksi PT Adhi Karya Tbk yang tetap optimis melewati masa krisis ini.

Meski kondisi nasional diperkirakan belum pulih sepenuhnya akibat krisis keuangan global, Adhi Karya tetap mencanangkan pertumbuhan kinerja 15% pada 2009. ”Selain di dalam negeri akan ada banyak proyek yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan pada 2009,juga ekspansi kami di luar negeri menunjukkan tren peningkatan.

Tahun 2008 ini kontribusi proyek kami di luar negeri terhadap pendapatan sebesar 5%. Operasi ini difokuskan ke wilayah Timur Tengah seperti Qatar dan Oman,” ungkap Direktur PT Adhi Karya Indrajaja Manopol. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/191626/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment