Berikut hasil wawancara saya dengan Rhenald Kasali via telepon yang dimuat di Koran Sindo ;
Tidak Ada Cara Cepat Kaya!
Saturday, 07 June 2008
RHENALD Kasali dikenal sebagai manusia serbabisa. Bicara bedah bisnis,dia jagonya.Berbagai buku mengenai dunia bisnis sudah ditulisnya.
Peraih gelar doktor dari Universitas Illinois at Urbaha Champaign ini juga kerap menjadi bintang iklan.Tak pelak,dia pun disebut sebagai seorang entertainer selain sebagai entrepreneur. Mengomentari fenomena ”hijrahnya”para top manajer menjadi entrepreneur, Rhenald melontarkan sejumlah wejangan.“Peran motivator tidak terlalu memberikan pengaruh,”katanya.
Dia tidak sepakat dengan asumsi yang menyebutkan ada cara cepat untuk menjadi kaya. Sebab, menurutnya, tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya,kecuali dengan bekerja keras, kesungguhan,dan komitmen tinggi.
Bagaimana Anda melihat keberanian para top manajer yang mundur dari pekerjaannya dan memilih menjadi motivator entrepreneur?
Ini fenomena yang sudah lama terjadi.Awalnya didasarkan pada kebutuhan MLM (multilevel marketing) untuk meningkatkan pemasaran produk.Sebenarnya, untuk perusahaan yang terstruktur dari pusat,peran motivator tidak terlalu memberikan pengaruh.
Dalam praktik MLM, peran motivator sedemikian berhasil karena kebanyakan yang bergabung di dalamnya adalah orang-orang yang tidak memiliki dasar pengetahuan tentang pemasaran.Cara pemasarannya lebih didasarkan pada common sense(pengetahuan umum),bukan pada ilmu pengetahuan yang memang sudah terjamin (proven).
Selain itu,sebenarnya yang lebih dominan karena ada penghargaan (reward) dalam target pemasaran yang dicapai.Sementara pada perusahaan besar,pemasarannya didasarkan pada sistem dan bukan motivasi.Sebab,motivasi memberikan sentuhan kepada individu bukan pada sistem.
Apakah peran motivator itu bisa memberikan sumbangsih terhadap kinerja pemasaran pada sebuah perusahaan secara signifikan?
Para peserta itu hanya dipacu semangatnya ketika berada di dalam gedung saat pelatihan berlangsung. Namun, secara empiris,fakta,peningkatan penjualan tidak ada hubungannya dengan motivator. Sebab, motivasi itu memacu diri,bukan meningkatkan pemasaran.Marketing adalah sebuah sistem.
Berbeda dengan seorang konsultan yang mengajarkan teknik pemasaran. Memberikan pengetahuan bagaimana strategi pemasaran. Menggabungkan ilmu pengetahuan (knowledge) dengan pengetahuan umum (common sense) sehingga bisa memberikan analisa suatu teknik atau strategi lebih cocok di satu tempat dan tidak cocok di tempat lain.
Anda menganggap diri Anda sebagai motivator atau inspirator?
Saya sendiri lebih senang disebut inspirator,lebih tepatnya inspirator perubahan ketimbang motivator. Sebab, yang saya lakukan tidak hanya berdasarkan common senseatau kejadian kasuistik.Ini yang harus diluruskan.Mereka pikir pekerjaan meningkatkan target pemasaran itu gampang.
Banyak motivator yang memberikan target angka besarbesaran. Seolah-olah semua mudah dicapai.Apa pun jenis pekerjaan,kalau sudah melihatnya didasari karena uang,itu sudah tidak benar.Sebuah pekerjaan itu bukan sekadar uang,melainkan juga karena kecintaan (passion).Kalau tidak punya kecintaan terhadap pekerjaan,kecil sekali seseorang berhasil dalam pekerjaannya karena dia tidak menyelami pekerjaannya.
Motivator itu bukanlah cita-cita, melainkan sebuah konsekuensi. Ketika seseorang sudah mencapai tahap mumpuni pada suatu bidang,dia memiliki konsekuensi untuk memotivasi atau mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain.
Apa yang seharusnya dilakukan para motivator atau masyarakat yang akan menggunakan jasa motivator?
Terhadap motivator saya sarankan agar berhati-hati, jangan bicara yang mulukmuluk tentang uang. Misalnya, mengungkapkan cara cepat menjadi kaya.Itu tidak ada. Sebab,tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya,kecuali dengan bekerja keras, kesungguhan,dan komitmen tinggi.
Buku-buku cara kaya hanya dalam satu bulan atau bahkan dua jam itu hanya akan membodohi masyarakat.Tetap harus mengandalkan kerja keras,pemikiran yang cerdas, dan pemahaman yang luas untuk menjadi sukses.Mengiming- imingi masyarakat tentang cara cepat menjadi kaya itu hanya akan membentuk budaya materialisme pada masyarakat.
Ke depan,apakah kemunculan motivator-motivator baru akan semakin marak?
Ya,tetapi semuanya akan terseleksi oleh alam.Gunakanlah nasihat-nasihat yang sudah proven.Jangan justru memberikan pemahaman atau dorongan yang terbalik.Misalnya, banyak dari mereka (motivator) yang mencontohkan tidak perlu sekolah pun, orang bisa kaya.Contoh yang sering mereka gunakan adalah Bill Gates.
Mestinya mereka juga harus menjelaskan,meskipun tidak bersekolah,Bill Gates itu sejak kecil hidup di lingkungan keluarga yang memiliki tradisi membaca buku dan terdidik.Jadi,meskipun tanpa sekolah,Bill Gates sudah melahap banyak ilmu dari tradisi keluarganya.Berbeda dengan konteks masyarakat Indonesia.Kisah Bill Gates bersifat kasuistik.Hanya 1–2 kasus,tidak bisa digeneralisasi sebagai hukum umum.
Pengalaman selama menjadi top manajer,apakah sangat memberikan sumbangsih terhadap kinerja mereka menjadi motivator?
Pengalamannya sangat penting.Sebab,kalau dia tidak dikenal,orang akan bertanya siapa kamu? Sementara kalau dia sudah dikenal memiliki prestasi yang cukup baik,itu akan menjadi citra (brand) tersendiri. Misalnya,orang yang dulunya bekerja pada sebuah perusahaan besar yang memiliki citra yang cukup bagus,dia berprestasi dan riwayat kariernya cukup mengesankan.(*)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/tidak-ada-cara-cepat-kaya-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment