Migrasi ”Ikan Besar”
Saturday, 07 June 2008
Bagi sebagian orang,mundur dari posisi strategis untuk mencari peruntungan sendiri mungkin dianggap sebagai tindakan bodoh.Akan tetapi, tidak demikian bagi para inspirator.
Nama-nama seperti Rhenald Kasali,MarioTeguh,dan Hermawan Kartajaya adalah sosok yang tidak asing lagi bagi dunia entrepreneur.Ya,mereka adalah inspirator di dunia bisnis. Petuah-petuah mereka tidak jarang dimanfaatkan sejumlah perusahaan untuk memotivasi pegawai perusahaannya. Demi meningkatkan kualitas SDM-nya, perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak segan-segan merogoh kocek lebih dalam untuk memanfaatkan jasa para tokoh ternama ini.
Namun, para inspirator kondang ini melewati jalan berliku nan panjang untuk mencapai ketenaran. Bahkan, sebelum mereka menjejakkan kaki sebagai inspirator–masyarakat umum biasanya menyebut motivator,tidak jarang mereka harus berjibaku di dunia kerja untuk meraih sukses sebagai pegawai di sebuah perusahaan.
Mungkin dalam benak masyarakat awam muncul pertanyaan, mengapa harus keluar dari tempat bekerja setelah mendapat sukses dan posisi strategis? Hermawan misalnya, sebelum menjadi ahli strategi pemasaran (marketing), dia pernah menjabat Direktur Distribusi PT HM Sampoerna,sebuah perusahaan rokok ternama.
Kepada SINDO,Hermawanmengisahkan,perlu keberanian tinggi untuk meninggalkan posisinya yang sudah ditekuni bertahun- tahun untuk kemudian memutuskan mendirikan MarkPlus&Co, sebuah konsultan bisnis yang bergerak di bidang marketing research dan pendidikan pada 1989.Perusahaan inilah yang kemudian membawanya menuju puncak ketenaran sehingga dia menjadi ikon pemasaran di Indonesia dan dunia.
Kini, selain menduduki posisi sebagai President Mark- Plus&Co, dia juga dikenal sebagai salah satu guru dari 25 guru pemasaran bisnis di kawasan Asia Tenggara. Lantas, apakah motif Hermawan hengkang dari PT HM Sampoerna karena ketidakpuasannya bekerja di perusahaan rokok tersebut atau disebabkan semata-mata karena penghasilan yang tidak memuaskan? Secara tegas Hermawan menampik hal itu.
Dia menuturkan,alih profesi yang dilakukannya bukan disebabkan masalah materi, melainkan didorong motivasi untuk dapat lebih memberikan kontribusinya kepada masyarakat sebagai bentuk dari self expression (ekspresi diri). ”Saya pribadi didorong keinginan dan cita-cita yang kuat untuk memopulerkan konsep pemasaran di Tanah Air yang masih sangat jarang dikenal pada saat itu,”ungkapnya.
Padahal, saat itu dia sedang menduduki posisi ”basah” di perusahaan rokok tersebut. Dia pun menemukan tempat ”bermain” yang baru. ”Saya mengambil keputusan berani dengan meninggalkan posisi sebagai direksi di sebuah perusahaan besar nasional untuk kemudian mendirikan Mark- Plus&Co pada 1989, ”tuturnya.
Dengan mendirikan MarkPlus&Co, Hermawan teluh menemukan samuderanya sendiri.Sebab,selama ini dia merasa hanya hidup di dalam ”kolam”.Wujud pengekspresian diri inilah yang membawa namanya dicatat sebagai salah satu tokoh marketing tingkat dunia. Sejak 2002, pria yang drop out dari Institut Teknologi Surabaya itu menjabat sebagai Presiden World Marketing Association,dan oleh The Chartered Institute of Marketing (Inggris), dia dinobatkan sebagai 50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing.
Hal serupa dialami Arif Isnaini, seorang motivator asal Malang, Jawa Timur. Sebelum menjadi motivator, Arif malang melintang menggeluti profesinya sebagai staf penjualan (sales).Selama lima tahun dia menjadi sales panci di PT Zenco Almasindo, Jakarta,perusahaan yang bergerak di bidang direct sales. Dia tidak pernah jenuh dengan pekerjaannya menawarkan peralatan dapur itu ke berbagai tempat.
Pekerjaan ini dilakoninya semenjak menjadi mahasiswa. Tak jarang, dosen-dosennya ditawari panci. Karena keuletannya, dia pun menduduki posisi general manager (GM) di perusahaan tersebut.Namun, lama-kelamaan dia menyadari bahwa posisi GM adalah puncak dari kariernya. Dia tidak mungkin lagi mendapat posisi lebih tinggi, sebab posisi tersebut ditempati pemilik perusahaan.
Menyadari hal tersebut,pada 2005 dia mengikuti pelatihan pengembangan bisnis dan wirausaha. Setelah lulus, dia pun mendirikan perusahaan yang bergerak dalam pelatihan bisnis dan pengembangan kewirausahaan. Dia melihat sektor pelatihan bisnis adalah masa depan kariernya.“Setiap manusia pasti membutuhkan kehidupan yang lebih cerah, termasuk saya,karena kehidupan juga terus berjalan.Saya juga melihat masa depan yang cerah itu di dunia pelatihan,” ungkapnya kepada SINDO.
Melihatpotensiinilah,kemudiandia memberanikan diri untuk keluar dari ”kolam” tempatnya mencari nafkah untukberenangke samudera.Hasilnya, selain namanya semakin dikenal masyarakat, uang pun mengalir ke koceknya.Dia mengungkapkan,pemasukan yang diterimanya lebih banyak bersumber dari pelatihan-pelatihan yang dia lakukan.Bahkan,dari sekali pelatihan,penghasilan yang diterimanya jauh lebih besar bila dibandingkan saat dia bekerja.
”Banyak hal saya dapatkan hanya dengan sekali pelatihan yang dilakukan pada suatu perusahaan. Belum lagi dari sistem pelatihan yang telah diwaralabakan,” ungkapnya. Melepaskan posisi sebagai top manager di salah satu perusahaan memang diperlukan keberanian yang besar.Namun,demi mewadahi obsesi pribadi yang lebih besar, tidak salah jika diperlukan tempat tersendiri.
Setidaknya, istilah inspirator ternama Indonesia Rhenald Kasali, ”ikan besar harus mencari kolam yang lebih besar” bisa menjadi ungkapan yang tepat bagi mereka yang berani mengambil keputusan untuk mundur dari perusahaan dan mencari peruntungan baru. (islahuddin/faizin aslam/a malik)