Minggu, 08 Juni 2008

Hujan Duit ala Tung

Hujan Duit ala Tung
Saturday, 07 June 2008
HUJAN duit.Selama ini situasi itu hanyalah ungkapan atas kondisi yang menggambarkan melimpahnya rezeki. Tetapi,awal Juni lalu hujan duit benar-benar terjadi di Lapangan Grup I Kopassus,Taman Taktakan,Kecamatan Taktakan,Kota Serang,Banten,pukul 09.30 WIB.
Rezeki dari langit itu ditebar Tung Dasem Waringin, inspirator dan motivator ternama.Sedikitnya uang senilai Rp100 juta disebar pria kurus berkacamata itu dari pesawat. Semula rencana ini akan dilakukan di Parkir Timur Senayan,yang banyak dikunjungi masyarakat pada hari Minggu.Apalagi,saat itu juga bertepatan adanya peringatan lahirnya Pancasila yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun,rencana itu tidak mendapat izin karena dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.Acara pun dipindahkan ke luar Jakarta.Motif Tung menyebar duit ini dalam rangka promosi buku terbarunya Marketing Revolution. Tak pelak,hujan duit ala Tung ini ibarat oase di gurun gersang bagi masyarakat.
Sebab,di tengah impitan kesulitan hidup akibat naiknya harga bahan bakar minyak,masih ada orang yang berpikiran ”gila”untuk menyebar uang.Wajar jika sebagian orang menyebut cara aneh Tung itu sebagai bentuk bantuan langsung tunai (BLT) ala Tung.Bahkan,ada yang menyebutnya sebagai sindiran bagi program BLT yang dilakukan pemerintah yang banyak mendapat penolakan.
Tetapi,ada juga suara sumbang yang menyebut langkah Tung ini sebagai bentuk kepongahan orang kaya yang ingin pamer kekayaannya di tengah kondisi masyarakat yang terimpit.Ini dianggap langkah yang tidak bijak. Namun,Tung sendiri tidak pernah memedulikan suarasuara sumbang itu.Dia juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai Robin Hood.Motifnya semata-mata untuk proses marketingbuku barunya.
”Saya sekarang memberikan contoh bagaimana marketingyang bagus dan efisien.Selama ini orang menulis buku tentang marketing,tetapi tidak di-marketing-kan. Menulis buku marketingseharusnya juga di-marketing-kan dong,”ujar Tung kepada SINDO Cara ”aneh”Tung dalam mempromosikan buku hasil karyanya bukanlah pertama kali dilakukan.Pada 2005 Tung mempromosikan buku Financial Marketing dengan mengendarai kuda menelusuri Jalan Sudirman.
Dia menggunakan blangkon serta berjas rapi ala Jenderal Soedirman. Terbukti strategi ini berhasil,pada hari pertama, 10.115 buku laku terjual.Rekor ini pun dicatat Museum Rekor Indonesia (Muri) mengalahkan penjualan buku Harry Potter I yang beredar pada saat itu. Selain menyebar uang,Tung juga menyebarkan 1200 lembar tiket seminarnya selama tiga hari pada saat yang sama.Selembar tiket harganya Rp5 juta.Jadi,nilai total yang disebar Tung mencapai Rp6 miliar.
Sebenarnya acara sebar uang itu difokuskan untuk wartawan. Karena itu,Tung tidak terlalu berpikir apakah seluruh uang dan tiket bisa sampai ke masyarakat atau tidak.Menurutnya, asal media massa bisa melihatnya,itu sudah lebih dari cukup,sebagai desain promosi yang memerlukan perhatian media. Tetapi, lebih dari itu,”hujan duit”yang dilakukannya adalah bentuk protes atas strategi marketingyang selama ini dipraktikkan perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Menurutnya,perusahaan hanya menghamburkan uang tanpa memperoleh hasil yang maksimal.Inilah yang diibaratkan dalam penyebaran uang dari udara. Tetapi,sebagai objek,Tung masih berharap masyarakat juga bisa menikmati uang yang disebarkan,terutama tiket seminarnya. Walaupun tempat penyebaran tiket di kalangan masyarakat yang masih asing dengan dunia seminar motivasi, Tung optimistis akan ada masyarakat yang menyambut baik.
Dari 1200 tiket,dia optimis sekitar 50–200 tiket akan dipergunakan masyarakat untuk mendapatkan ilmu darinya. Terlepas dari pro dan kontra dengan hujan duit buatannya,Tung memberikan pelajaran dan memacu orang untuk berani melakukan terobosan (breakthrough) baik personal maupun bisnis,meskipun terobosan itu dianggap gila dan aneh oleh banyak orang.Sebab, menurutnya,keberanian mengambil keputusan yang terukur dengan perhitungan cermat menjadi kunci sukses.Keberanian untuk berubah itulah yang telah membawa kesuksesan kepadanya sampai saat ini. (abdul malik)