Jum'at, 19/10/2007
Keberhasilan uji klinis vaksin Mosquirix pada bayi berusia di bawah satu tahun di Mozambik, Afrika, menghadirkan harapan baru untuk mengobati malaria.
SEATTLE (SINDO) –Studi yang dipublikasi jurnal kesehatan Inggris The Lancet itu menunjukkan bahwa uji klinis yang dilakukan kepada 214 bayi berusia 10–18 minggu di Mozambik, Afrika, bahwa vaksin tersebut aman digunakan untuk anak-anak.
Bahkan, menunjukkan indikasi infeksi malaria berkurang 65% setelah rangkaian tiga kali suntikan vaksin. Uji klinis terakhir memperlihatkan, bayi berusia seminggu yang diberi vaksin selama masa imunisasi itu memberikan perlindungan lebih baik dan tidak ada efek samping.
’’Saat ini, kita semakin dekat untuk merealisasikan vaksin yang bisa melindungi balita di Afrika dan dunia dari malaria. Ini memang bukan satu-satunya cara, tapi harus dilihat secara menyeluruh sebagai bagian dari program melawan malaria,” ujar Dr Pedro Alonso dari Universitas Barcelona, yang memimpin uji klinis untuk vaksin GlaxoSmithKline (GSK).
Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap ketiga uji klinis vaksin ini akan melibatkan 16.000 anak dari tujuh negara. Uji klinis itu akan dimulai pada akhir tahun dan berlangsung selama dua tahun. Jika ini berhasil, GSK akan membuatkan lisensi dengan harapan vaksin tersebut akan bisa didistribusikan ke penjuru Afrika.
Vaksin ini diketahui dengan nama kode RTS,S/ AS02D dan secara tentatif akan diberi nama Mosquirix. Vaksin ini dibuat dengan memadukan sedikit protein bagian luar dari parasit malaria strain falciparum yang mematikan dengan sedikit virus hepatitis B dan tambahan bahan kimia.
Dua tambahan terakhir guna membangkitkan reaksi imun yang lebih kuat. Glaxo telah mengolahnya selama 20 tahun dan pembiayaannya ditargetkan USD600 juta hingga calon vaksin ini siap dipasarkan. Hingga saat ini,penelitian itu habis USD100 juta yang dibayarkan oleh Yayasan Bill and Melinda Gates Foundation melalui PATH Malaria Vaccine Inititaive (MVI).
Namun, belum ada keputusan berapa harga yang akan diberlakukan bagi vaksin ini jika dijual ke negara miskin dan badan kesehatan internasional. ’’Jika vaksin ini bermanfaat bagi anak-anak,harga tidak akan menjadi masalah,”ujar Direktur Vaccine Initiative Dr Christian Loucq.
Menurut para peneliti,vaksin ini manjur diberikan kepada orang dewasa maupun anak-anak. Setidaknya, ada sembilan kandidat vaksin malaria yang sedang dikembangkan. Namun, Mosquirix yang mampu mencapai proses paling jauh. Vaksin itu dirancang diberikan dalam tiga kali injeksi. Namun, meski baru diberikan satu kali dosis, itu sudah memberikan efek perlindungan.
Sayang, belum diketahui efektivitas dan jangka waktu perlindungan yang diberikan. Sementara itu, para peneliti Australia dari The George Institute for International Health menyatakanbahwapenelitianterhadapobat dan vaksin malaria telah menjadi tren.Tercatat telah diumumkan ada 16 kandidat vaksin baru malaria yang saat ini sedang dalam masa uji klinis,enam obat malaria baru telah dilempar ke pasaran.
Pada 2011 akan ada 12 jenis obat malaria yang akan memperoleh registrasi. Menurut para peneliti ini,tidak semua riset dan pengembangan obat dan vaksin itu berjalam baik dan mulus. Bagaimanapun, tren penelitian terhadap obat dan kandidat vaksin malaria ini tidak semuanya merupakan berita baik. Pada 2004 silam, Alonso juga menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa vaksin bisa melindungi anak-anak untuk melawan infeksi atau kematian.
Studi yang dilakukan pada waktu itu kepada 2.022 anak-anak yang berusia 1–4 tahun menunjukkan bahwa vaksin mampu melindungi hingga 45%.Namun, karena efektivitasnya untuk melindungi bayi masih rendah,belum bisa diterima negara-negara barat. Menurut salah satu peneliti,Dr Mary Moran, upaya pengembangan vaksin seharusnya bisa menyisakan sekitar USD20 juta selama lima tahun dan mencegah 3.000 vaksinasi yang tidak perlu yang dilakukan pada anak-anak di Afrika.
’’Penemuan paling menggiurkan ini memang telah memberikan dampak intervensi kebijakan.Kita butuh sistem yang meyakinkan bahwa lebih sedikit uji klinis akan lebih baik untuk mendapatkan vaksin malaria,”paparnya.
Berdasarkan catatan WHO, dilaporkan ada sekitar 300–500 juta kasus malaria baru per tahun, dengan kematian mencapai 1.2 juta kasus per tahun. Mayoritas korban dari infeksi infeksi protozoa dari genus Plasmodium yang berakhir kematian ini rata-rata adalah anak-anak dibawah usia 5 tahun dan ibu hamil.
Badan Dunia PBB Untuk Perlindungan Anak-anak (UNICEF) menyatakan bahwa 80% kasus kematian akibat malaria, terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di wilayah Sub-Sahara Afrika.( berbagai sumber/abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/mosquirix-harapan-baru-melawan-malaria.html
Keberhasilan uji klinis vaksin Mosquirix pada bayi berusia di bawah satu tahun di Mozambik, Afrika, menghadirkan harapan baru untuk mengobati malaria.
SEATTLE (SINDO) –Studi yang dipublikasi jurnal kesehatan Inggris The Lancet itu menunjukkan bahwa uji klinis yang dilakukan kepada 214 bayi berusia 10–18 minggu di Mozambik, Afrika, bahwa vaksin tersebut aman digunakan untuk anak-anak.
Bahkan, menunjukkan indikasi infeksi malaria berkurang 65% setelah rangkaian tiga kali suntikan vaksin. Uji klinis terakhir memperlihatkan, bayi berusia seminggu yang diberi vaksin selama masa imunisasi itu memberikan perlindungan lebih baik dan tidak ada efek samping.
’’Saat ini, kita semakin dekat untuk merealisasikan vaksin yang bisa melindungi balita di Afrika dan dunia dari malaria. Ini memang bukan satu-satunya cara, tapi harus dilihat secara menyeluruh sebagai bagian dari program melawan malaria,” ujar Dr Pedro Alonso dari Universitas Barcelona, yang memimpin uji klinis untuk vaksin GlaxoSmithKline (GSK).
Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap ketiga uji klinis vaksin ini akan melibatkan 16.000 anak dari tujuh negara. Uji klinis itu akan dimulai pada akhir tahun dan berlangsung selama dua tahun. Jika ini berhasil, GSK akan membuatkan lisensi dengan harapan vaksin tersebut akan bisa didistribusikan ke penjuru Afrika.
Vaksin ini diketahui dengan nama kode RTS,S/ AS02D dan secara tentatif akan diberi nama Mosquirix. Vaksin ini dibuat dengan memadukan sedikit protein bagian luar dari parasit malaria strain falciparum yang mematikan dengan sedikit virus hepatitis B dan tambahan bahan kimia.
Dua tambahan terakhir guna membangkitkan reaksi imun yang lebih kuat. Glaxo telah mengolahnya selama 20 tahun dan pembiayaannya ditargetkan USD600 juta hingga calon vaksin ini siap dipasarkan. Hingga saat ini,penelitian itu habis USD100 juta yang dibayarkan oleh Yayasan Bill and Melinda Gates Foundation melalui PATH Malaria Vaccine Inititaive (MVI).
Namun, belum ada keputusan berapa harga yang akan diberlakukan bagi vaksin ini jika dijual ke negara miskin dan badan kesehatan internasional. ’’Jika vaksin ini bermanfaat bagi anak-anak,harga tidak akan menjadi masalah,”ujar Direktur Vaccine Initiative Dr Christian Loucq.
Menurut para peneliti,vaksin ini manjur diberikan kepada orang dewasa maupun anak-anak. Setidaknya, ada sembilan kandidat vaksin malaria yang sedang dikembangkan. Namun, Mosquirix yang mampu mencapai proses paling jauh. Vaksin itu dirancang diberikan dalam tiga kali injeksi. Namun, meski baru diberikan satu kali dosis, itu sudah memberikan efek perlindungan.
Sayang, belum diketahui efektivitas dan jangka waktu perlindungan yang diberikan. Sementara itu, para peneliti Australia dari The George Institute for International Health menyatakanbahwapenelitianterhadapobat dan vaksin malaria telah menjadi tren.Tercatat telah diumumkan ada 16 kandidat vaksin baru malaria yang saat ini sedang dalam masa uji klinis,enam obat malaria baru telah dilempar ke pasaran.
Pada 2011 akan ada 12 jenis obat malaria yang akan memperoleh registrasi. Menurut para peneliti ini,tidak semua riset dan pengembangan obat dan vaksin itu berjalam baik dan mulus. Bagaimanapun, tren penelitian terhadap obat dan kandidat vaksin malaria ini tidak semuanya merupakan berita baik. Pada 2004 silam, Alonso juga menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa vaksin bisa melindungi anak-anak untuk melawan infeksi atau kematian.
Studi yang dilakukan pada waktu itu kepada 2.022 anak-anak yang berusia 1–4 tahun menunjukkan bahwa vaksin mampu melindungi hingga 45%.Namun, karena efektivitasnya untuk melindungi bayi masih rendah,belum bisa diterima negara-negara barat. Menurut salah satu peneliti,Dr Mary Moran, upaya pengembangan vaksin seharusnya bisa menyisakan sekitar USD20 juta selama lima tahun dan mencegah 3.000 vaksinasi yang tidak perlu yang dilakukan pada anak-anak di Afrika.
’’Penemuan paling menggiurkan ini memang telah memberikan dampak intervensi kebijakan.Kita butuh sistem yang meyakinkan bahwa lebih sedikit uji klinis akan lebih baik untuk mendapatkan vaksin malaria,”paparnya.
Berdasarkan catatan WHO, dilaporkan ada sekitar 300–500 juta kasus malaria baru per tahun, dengan kematian mencapai 1.2 juta kasus per tahun. Mayoritas korban dari infeksi infeksi protozoa dari genus Plasmodium yang berakhir kematian ini rata-rata adalah anak-anak dibawah usia 5 tahun dan ibu hamil.
Badan Dunia PBB Untuk Perlindungan Anak-anak (UNICEF) menyatakan bahwa 80% kasus kematian akibat malaria, terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di wilayah Sub-Sahara Afrika.( berbagai sumber/abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/mosquirix-harapan-baru-melawan-malaria.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment