Organisasi Pangan Dunia (FAO) mengungkapkan,hingga saat ini ada sekitar 854 juta penduduk dunia atau satu dari tujuh penduduk di muka bumi masih kekurangan pangan. Selain itu, setiap tahun diperkirakan 5 juta anak di bawah umur 5 tahun meninggal terkait dengan masalah nutrisi.
ROMA (SINDO) –Padahal,FAO menyatakan hak masyarakat untuk mendapatkan pangan tidak sekadar secara ekonomis, moral, atau politis,juga secara hukum. Badan Dunia PBB untuk urusan pangan itu telah mengumumkan laporan tahunan pada peringatan Hari Pangan Sedunia dalam gerakan untuk memerangi kelaparan dengan slogan,’’Hak pada Pangan: Wujudkan Menjadi Kenyataan’’.
Namun, Koordinator Unit Pangan FAO Roma Berbara Ekwall menyatakan bahwa hak untuk mendapatkan pangan bukanlah sebuah utopia. ’’Itu bisa berlaku untuk semua orang. Beberapa negara sedang mewujudkannya,tapi setiap orang harus berperan untuk membuatnya menjadi kenyataan,”tuturnya, seperti dikutip AFP.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki Moon menyatakan bahwa semua pihak perlu melakukan lebih jauh untuk menempatkan integritas dan hak setiap manusia menjadi pusat dari segala upaya negara-negara anggota PBB. Sekitar 854 juta penduduk,itu berarti satu dari tujuh orang di dunia kekurangan pangan.
’’Pada banyak bagian di dunia situasi seperti ini adalah tidak dapat diterima. Dunia memiliki sumber dayanya,baik pengetahuan dan peralatan untuk mewujudkan hak pada pangan menjadi sebuah kenyataan bagi semua pihak,”ujarnya dalam teks pidatonya.
Sementara itu, FAO memang menyatakan bahwa hak pangan merupakan hak asasi yang melekat bagi setiap perempuan, laki-laki, dan anak-anak di mana pun mereka berada. Badan dunia ini menekankan agar masalah hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan harus berjalan beriringan.
’’HAM bisa mendorong pengembangan dan keyakinan tentang kelanjutan secara jangka panjang dari pembangunan. Masyarakat yang berhak atas pangan akan menyadari tentang lebih produktifnya dan investasi untuk strategi hidup jangka panjang mereka,”ujarnya.
FAO menyesalkan, meskipun hasil pertemuan World Food Summit pada 2006 telah menargetkan untuk mengurangi angka masyarakat kekurangan pangan menjadi kurang dari separuh pada 2015, kenyataannya angka kelaparan masih tetap meningkat.
’’Kita ingin mengurangi angka orang kurang makan sekitar 31 juta orang per tahun hingga 2015. Namun, kenyataannya malah meningkat sekitar 4 juta orang per tahun,” demikian diungkapkan laporan tahunan FAO pada 2006.
Negara-negara berkembang mengurangi angka kekurangan pangan itu sekitar 3 juta menjadi 820 juta pada periode 1990–1992. Namun, jumlah itu dikurangi 100 juta pada 1980 dan 37 juta pada dekade sebelumnya. Berdasarkan angka statistik yang dipaparkan dalam The State of World Food Insecurity 2006, angka kekurangan pangan mencapai 35,2 juta pada 2001–2003.
Di wilayah Asia Pasifik dari sekitar 68% dari populasi dunia ketiga, sebanyak 64%-nya merupakan populasi yang kekurangan pangan. Dalam jangka 1990–1992 dan 2001– 2003, angka masyarakat yang kekurangan pangan di wilayah ini menurun dari 570 juta menjadi 524 juta. Diperkirakan,angka kekurangan pangan itu menurun 16–20%.
Sementara itu, untuk mencegah kasus kurang gizi pada anak-anak, sebuah kelompok internasional dokter kemanusiaan telah memperkenalkan cara baru, yakni terapi makanan siap santap (ready to use food).Jenis makanan ini bertujuan untuk mencegah gizi buruk. Biasanya, makanan itu merupakan makanan manis yang dibuat dari kacang,susu kering,gula,sayuran, mineral, dan vitamin.
Sementara itu, untuk mencegah kasus kurang gizi pada anak-anak, sebuah kelompok internasional dokter kemanusiaan telah memperkenalkan cara baru, yakni terapi makanan siap santap (ready to use food).Jenis makanan ini bertujuan untuk mencegah gizi buruk. Biasanya, makanan itu merupakan makanan manis yang dibuat dari kacang,susu kering,gula,sayuran, mineral, dan vitamin.
Makanan-makanan ini tidak perlu dicampur dalam air karena pada beberapa negara bisa jadi airnya kotor. Doktor Milton Tectonidis, seorang ahli nutrisi menyatakan secara tradisional, tepung susu atau campuran jagung dan kedelai sudah umum digunakan untuk meningkatkan nutrisi anak. Namun, makanan ini kurang membantu memberikan cukup kalori dan nutrisi untuk mencegah gizi buruk.
Tectonidis menyatakan,penelitian ini menunjukkan bahwa makanan siap santap lebih efektif menjaga anak-anak dari kekurangan gizi.Estimasi WHO,sekitar 20 juta anak-anak pada beberapa waktu kelaparan dari pada kekurangan gizi. Dia menyatakan, hanya 3% di antara mereka yang akan menerima makanan siap santap tahun ini. Untuk itu, pihaknya mengupayakan bantuan donor, badan dunia PBB,dan pemerintah setempat untuk mendukung program ini.
Pada negara-negara berkembang, lebih dari 125 anak juta usia prasekolah,dan 85 juta anak usia sekolah menderita kekurangan vitamin A.Tanpa kecukupan vitamin A dalam makanan harian mereka, sebanyak 500.000 dari anak-anak ini akan menjadi buta setiap tahunnya. Padahal, berdasarkan penelitian, infeksi parasit pada anak-anak bisa dicegah dengan penyerapan gizi dasar,termasuk vitamin A.
Ratusan juta anak-anak di negara berkembang menderita infeksi parasit, termasuk 320 juta anak-anak menderita cacing gelang, 233 juta menderita cacing pita,dan 239 juta cacing tambang yang semuanya bisa diobati dengan satu pil obat cacing.
Mengurangi infeksi parasit juga telah terbukti untuk mencegah anemia, kurang gizi, dan perkembangan fisik dan mental terlambat pada anak-anak. ’’Program ini akan mengurangi angka kurang gizi,” tutur penasihat nutrisi Save the Children Tobias Stillman. (AFP/BBC/abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/854-juta-orang-di-dunia-masih-kekurangan-p-3.html
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/854-juta-orang-di-dunia-masih-kekurangan-p-3.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment