Sabtu, 27 Oktober 2007

Indonesia Kembangkan Fuel Cell Skala Rumah Tangga

Indonesia Kembangkan Fuel Cell Skala Rumah Tangga
Selasa, 02/10/2007
Langkah-langkah terobosan baru pencarian sumber energi alternatif dan baru sedang gencar dilakukan,termasuk penggunaan energi fuel cell (hidrogen). Indonesia menargetkan fuel cell akan penuhi kebutuhan energy mix nasional 5% pada 2025.
JAKARTA(SINDO) –Saat ini, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) mengembangkan fuel cell untuk sumber energi skala rumah tangga. Sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006, dicanangkan terwujudnya bauran energi (energy mix) primer pada 2025 meliputi bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih 5%, panas bumi lebih 5%,dan EBT lain –khususnya biomassa,nuklir, tenaga air, surya, angin, hidrogen atau fuel cell menjadi lebih 5%, serta batu bara yang dicairkan lebih 2%.
’’Fuel cell adalah perangkat atau alat yang mereaksikan H2 langsung dan O2 dari udara dengan cara reaksi kimia sehingga yang dihasilkan adalah listrik,air,dan panas. Dalam jangka menengah Agenda Riset Nasional (ARN) 2009, target komponen EBT dari energi hidrogen (fuel cell) adalah penguasaan teknologi produksi,penyimpanan, distribusi, dan keamanan hidrogen,” papar Deputi Bidang Informasi, Energi, dan Teknologi Materi, BPPT, Eniya L Dewi Secara jangka panjang, ujar Eniya, hingga 2025 hidrogen ditargetkan penguasaan teknologi Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC) kapasitas hingga 50 kW dan kapasitas terpasang nasional hingga 250 megawatt.
Menurut dia, teknologi material BPPT telah melakukan kegiatan penguasaan teknologi fuel cell yang merupakan energi alternatif masa depan meliputi penguasaan teknologi material untuk pembuatan komponen fuel cell, energinya sendiri, serta teknologi penyimpanan dan distribusi hidrogen.
’’Saat ini telah dilakukan pengembangan prototipe pembangkit listrik skala kebutuhan rumah tangga.Dengan dikuasainya teknologi material untuk fuel cell ini,pada masa depan BPPT dapat berperan dalam pengembangan produk fuel cell skala industri dengan kandungan lokal yang tinggi,”ujar Eniya.
Dia menjelaskan, saat ini, teknologi fuel cell banyak digunakan sebagai sumber energi untuk perangkat elektronik, yakni charger, laptop, PDA, telepon seluler, dan lain-lain. Selain itu, fuel cell digunakan sebagai energi untuk generator stasioner pada industri,rumah tangga, rumah sakit,dan vehicle –baik sepeda motor,bus,mobil,dan lain-lain.
’’Banyak contoh-contoh hasil produksinya, misalnya Honda dengan FCX-nya, Toyota, dan Daimler Chrysler. Bahkan, perusahaan elektronik, seperti NEC,Toshiba,Panasonic dengan perangkat elektroniknya. Tak ketinggalan perusahaan, yakni Tokyo Gas,Sanyo, Shell,dan lain-lain,”papar orang yang mengaku tertarik meneliti sejak di bangku SMA karena melihat katalis pengubah oksigen menjadi air ini.
Saat ini, untuk pengembangan fuel cell yang hanya memiliki limbah air ini,BPPT telah melakukan kegiatan pengembangan dan pembuatan prototipe Polymer Electrolyte Fuel Cell(PEFC) 5 cell stack. Itu mulai formulasi graphite bipolar plate komposit sebagai separator, pembuatan prototipe direct methanol fuel cell (DMFC) single cell stack, pembuatan separator gas Pd/SUS pengubah gas metana menjadi hidrogen, dan kajian teknologi pembuatan membrane electrode assembly( MEA).
Kemajuan yang telah dicapai,di antaranya formulasi graphite bipolar plate, prototipe PEFC 5 cell 36cm2,prototipe single cellDMFC 5 cm2, serta prototipe housing reformer. Ke depan, BPPT merencanakan untuk optimasi pembuatan dan kinerja single cell PEFC dan DMFC. Kemudian, pengembangan teknik manufaktur komponen fuel cell, yakni endplate,graphite bipolar plate, membrane electrolyte assembly (MEA),uji kinerja reformer gas metana untuk produksi hidrogen, peningkatan kandungan lokal material dan pembuatan fuel cell PEFC, serta penguasaan teknologi penyimpanan dan distribusi hidrogen.
Meskipun masih tergolong teknologi baru, banyak negara maju telah menyiapkan infrastruktur pengembangan energi ini. Pasalnya, banyak pihak yang melihat peluang bisnis dari teknologi itu. Seperti di Jepang,para penggiat teknologi fuel cell adalah para pebisnis, seperti industri elektronik, gas/bahan bakar, automotif, bahkan LSM yang bekerja sama dengan perguruan tinggi.
’’Karena itu, kita perlu mempersiapkan penguasaan teknologi yang ada agar kita tidak menjadi penonton saja. Kita harus mempunyai tools agar kita bisa bergabung dalam dunia bisnis hidrogen atau hidrogen ekonomi nantinya,”ujar Eniya.
Menurut Eniya, efisiensi energi ini tinggi mencapai 40%–70% melebihi IEC yang hanya 20%–25%. Limbahnya pun hanya air yang ramah lingkungan.Sementara itu, mesin yang menggunakan hidrogen tidak bising dan bisa dibuat dalam berbagai ukuran power,mulai 0 hingga puluhan megawatt. Dengan kelebihan ini, tentu fuel cell bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah dampak dari pemanasan global. Sebab,masyarakat pengguna tidak lagi bergantung pada minyak dari fosil.
Saat ini,memang teknologi fuel cell pada beberapa negara memang sedang menunggu untuk dipasarkan. Salah satu penyebabnya adalah gerakan ekonomi dunia masih bergantung pada minyak bumi.Selain itu, harga teknologi ini masih relatif mahal.
’’Sosialisasi tentang energi ini di negara maju telah mencapai sekolah kanak-kanak. Para praktisi pemerintah, misalnya di Jepang, banyak dibuat acara, demo, atau rumah teknologi yang di dalamnya telah ada pendidikan pengenalan fuel cell,”ujarnya. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/indonesia-kembangkan-fuel-cell-skala-rumah-t.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment