Sabtu, 27 Oktober 2007

BATU BARA CAIR Mengolah Si Hitam Menjadi Bahan Bakar Alternatif

BATU BARA CAIR Mengolah Si Hitam Menjadi Bahan Bakar Alternatif
Sabtu, 22/09/2007
Potensi cadangan batu bara Indonesia diperkirakan mencapai 36,3 miliarton. Namun, potensi yang besar itu belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menjadi produk yang lebih bermanfaat.
JAKARTA (SINDO)– Padahal, batu bara bisa diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM), seperti bensin, solar, minyak tanah,dan aspal.Pengolahan BBM dikenal dengan teknologi batu bara cair. Kepala Divisi Teknologi Energi Fosil Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sumbogo Murti menyatakan, hingga saat ini pemanfaatan jenis batu bara ini masih terbatas untuk pembangkit listrik di mulut tambang.
Untuk itulah, Indonesia belajar dari keberhasilan Afrika Selatan (Afsel) dalam mengembangkan batu bara cair yang digunakan sebagai minyak mentah untuk kemudian diolah menjadi BBM. “Kami sudah melakukan penelitian tentang batu bara cair ini sejak 1990-an. Diprediksikan, pada suatu saat minyak pasti akan habis, sementara cadangan selain minyak yang bisa dijadikan sumber energi adalah batu bara,”katanya.
Terobosan itu dilakukan karena berdasarkan penelitian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),85,2% batu bara Indonesia kualitasnya rendah dengan kadar air lebih dari 35% dan nilai kalor kurang dari 4000 kkal/- kg.Kondisi itu membuat batu bara muda sulit dijadikan komoditas ekspor dan akan lebih baik jika diolah menjadi batu bara cair untuk dijadikan BBM.
Apalagi,hasil studi BPPT tahun 2003 menunjukkan, teknologi pencairan batu bara berpotensi untuk diaplikasikan dalam skala semikomersial atau komersial. Menurut Sumbogo, penelitian tentang batu bara cair ini tidak hanya dilakukan di laboratorium (Coal Liquefaction Center/CLC) di Serpong Jawa Barat, namun juga sempat dibawa ke Jepang.
Berbagai macam batu bara muda telah diuji di CLC, di antaranya batu bara Banko selatan dan tengah,Musi Rawas, Berau Ulati,Berau Kerai,Wara, Mulia dan Satui,serta Kideco. Studi kelayakan untuk aplikasi pun dilakukan di tiga lokasi, yaitu Muara Enim-Banko PT Bukit Asam untuk batu bara yang lokasinya jauh dari bibir pantai (inland), Satui asam PT Bumi Resources Kalimantan Selatan,dan Berau Lati PT Berau Coal Kalimantan Timur untuk batu bara yang lokasinya dekat bibir pantai (costal case).
BPPT bekerja sama dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang menggunakan metode pencairan langsung (brown coal liuefaction/BCL). Batu bara yang telah dicairkan dengan menggunakan katalis limonit soroako diubah menjadi bubur encer layaknya minyak mentah kemudian diolah menjadi minyak.
Berbeda dengan teknologi pencairan batu bara di Afrika Selatan mengadopsi teknologi dari Jerman, yakni pencairan tidak langsung. Proses ini mengubah batu bara menjadi gas terlebih dahulu baru kemudian baru dicairkan. Setelah itu didestilasi dengan suhu tertentu menjadi BBM.
Menurut Sumbogo, saat ini perkembangan teknologi BCL akan memasuki tahap pembangunan unit semi komersial (demo plant) dengan kapasitas 13.500 barel per hari. Tahap ini merupakan tahap lanjut setelah lolos uji laboratorium dan sebelum tahap skala komersial. “Secara prinsip, teknologi BCL dapat dikatakan almost proven technology.
Namun, masih memerlukan beberapa proses fine tune yang merupakan bagian akhir dariproses industrialisasi prototipe,”jelasnya. Pembangunan demo plant ini, lanjut Sumbogo, membutuhkan investasi sekitar USD1,3 miliar, bekerja sama dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC).
Saat ini, prosesnya sedang menunggu proses regulasi dari pemerintah yang nantinya menjadi dasar pelaksanaan kegiatan produksi batu bara cair ini. Misalnya untuk pengurangan pajak. “Ini memang bisa menjadi potensi ekspor migas kita. Meski demikian, belum ada hitunghitungan berapa potensi ekspor migas batu bara cair ini,”ujarnya.
Sesuai Roadmap, ditargetkan pada 2025 pencairan batu bara lebih dari 2% dari total cadangan guna mencapai target minimal pembangun sebanyak 7 pabrik dengan kapasitas 27 ribu barel per hari.Menurut Sumbogo,meskipun biaya produksi 50% lebih murah ketimbang pengolahan minyak bumi, hingga saat ini para calon investor masih menunggu hasil uji coba BPPT dengan Jepang. Padahal, China sudah mulai mengembangkan teknologi yang sama dengan mengadopsi teknologi dari Amerika Serikat.
Kepulauan Marshall Kembangkan BBM dari Kelapa MENINGKATNYA biaya produksi dan semakin mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) fosil, seperti bensin dan solar, membuat masyarakat di Kepulauan Marshall,di Samudera Pasifik, berinisiatif membuat BBM dari buah kelapa. Pasalnya, pohon kelapa banyak tumbuh disini sehingga harganya terjangkau dan ramah lingkungan.
“Ide tersebut berdasarkan uji coba yang dilakukan Tuan Rudolf Diesel untuk mencari sumber bahan bakar lain. Dia menggagas menggunakan minyak kacang sebagai bahan bakar mesin,” kata Jerry Kramer,pemilik Pacifik International, sebuah perusahaan pionir yang menggunakan BBM dari kelapa di Kepulauan Marshall.
Pengusaha dari Australia,Tony Deamer, juga telah melakukan uji coba di Vanuatu, menggunakan bahan bakar dari kelapa untuk beberapa motor dan mobilnya.Hal itu untuk memastikan bahwa kelapa bisa dijadikan alternatif bahan bakar disel untuk kendaraan bermotor, generator,dan kapal.
”Kami menggunakan minyak kelapa selama beberapa tahun dan belum menemui masalah setelah 4 atau 5 tahun, bahkan untuk beberapa mesin, kombinasi dengan disel hasil sempurna,”paparnya.
Kramer mengaku melakukan pencampuran BBM dari kelapa dengan bahan bakar disel mulai 10–90%.Hasilnya kebanyakan mesin bisa menoleransi jika campurannya 50-50. Sebab, beberapa mesin disel modern kurang toleran terhadap penggunaan BBM kelapa murni. Masalah lainnya, BBM kelapa bisa memulai memadat jika berada pada suhu di bawah 25 derajat Celsius, namun ini tidak masalah jika digunakan di daerah tropis.
Kramer akhirnya menemukan penyaring yang bisa digunakan untuk BBM kelapa untuk mengubah cara kerjanya agar sesuai dengan mesin diesel. Hal itu dibenarkan Asisten Manajer The Tolobar Copra Processing Plant di Pulau Marshall,Majuro.
“Baunya seperti biskuit kelapa yang baru keluar dari oven.Ini merupakan improvisasi besar karena kita biasanya melihat asap hitam tebal keluar dari pembakaran disel,” katanya.
Untuk menghasilkan satu liter BBM kelapa dibutuhkan sekitar 6–10 butir buah kelapa. Saat ini harga BBM kelapa masih elum stabil sekitar USD550 per ton. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/batu-bara-cair-mengolah-si-hitam-menjadi-bahan-bakar-alter-3.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment