Sabtu, 27 Oktober 2007

Deteksi Virus HIV dalam 15 Menit


Deteksi Virus HIV dalam 15 Menit
Sabtu, 29/09/2007

Untuk mengetahui hasil diagnosis HIV positif atau tidak, tak perlu menunggu lama. Dengan metode immunochromatography (IC), diagnosis sudah bisa diketahui dalam 15 menit.

JAKARTA(SINDO) –Metode IC dikembangkan oleh laboratorium Hepatitis Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Metode deteksi cepat (rapid test) immunochromatography (IC) yang dikembangkan oleh peneliti dalam negeri telah ditemukan sejak 1996 silam dan telah digunakan untuk pemeriksaan tes kesehatan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan diberangkatkan atau baru pulang dari luar negeri.

Direktur Laboratorium Hepatitika NTB Profesor Mulyanto menjelaskan, metode cepat deteksi HIV ini seperti tes hepatitis biasa. Bahkan, prinsipnya sama seperti tes dengan kehamilan.Bedanya,jika tes kehamilan sampelnya urine, sedangkan untuk HIV sampelnya adalah serum atau plasma dalam darah. Bila positif, akan tampak dua garis datar, bila negatif hanya satu garis.

“Salah satu kendala dalam penelitian penyakit yang disebabkan virus adalah mahalnya harga reagensia yang merupakan alat untuk mendeteksi adanya antigen atau antibodi virus.Sebab,reagensia- reagensia tersebut masih diimpor. Selain mahal, tentu saja membutuhkan lebih banyak devisa untuk mengimpor,”kata Mulyanto.

Dia menjelaskan, tes IC relatif praktis dan cepat karena dalam 10 sampai 15 menit hasil sudah bisa dibaca. Tidak memerlukan keterampilan khusus dan bisa diketahui secara visual serta tidak memerlukan perangkat instrumen yang mahal seperti metode Elisa dan lainnya.Awalnya, metode ini digunakan untuk mendeteksi hepatitis, kemudian Laboratorium Hepatika NTB mengembangkannya sebagai pendeteksi HIV.

“Metode ini sudah lama ada.Kami menggunakan sekitar 1994 untuk test HBsAg IC, dengan lisensi PATH Seattle, Amerika Serikat (AS). Namun, setelah itu, kami kembangkan sendiri untuk mendeteksi anti-HIV,”ujarnya.

Sementara untuk melakukan tes uji pada virus hepatitis B,lanjut Mulyanto, permukaan yang dideteksi adalah antigen. Sehingga bagian yang dilekatkan pada bahan pembuatnya (nitrosellulose) yaitu antibodi virus tersebut. Sedangkan untuk tes HIV, Pendeteksian antibodi terhadap virus HIV dilakukan dengan cara melekatkan nitrosellulose antigen dari virus HIV.

Bila seseorang mengidap HIV, maka dalam tubuh orang tersebut terdapat anti-HIV, jadi yang dideteksi adalah antibodi terhadap virus HIV tersebut. Dia mengisahkan,pada awalnya ketika tahun 1987,hanya dijual reagensia (alat untuk mendeteksi antibodi dan antigen virusi hepatitis B) dengan metode hemagglutinasi. Kemudian, pada 1992, pihaknya mendapat tawaran dari PATH (Program for Appropriate Technology in Health) untuk membuat reagensia guna mendeteksi HIV, dengan metode dot immunoassay (Dipstick).

“Tawaran tersebut kami terima dan selanjutnya kami mendapat lisensi untuk membuat dan memasarkan reagensia HIV.Mulai tahun 1996–1987,reagensia tersebut mulai dipasarkan, antara lain dibeli oleh Depkes RI secara rutin tiap tahun serta beberapa Rumah Sakit di Indonesia. Selain itu, juga pernah beberapa kali diekspor ke Thailand dan Filipina.Dengan metode dot immunoassay tersebut,pemeriksaan bisa diselesaikan dalam 60 menit,”katanya.

Namun, itu belum berakhir, tahun 1999 Laboratorium Hepatitika Mataram kembali mendapat tawaran dari PATH untuk alih teknologi pemeriksaan antigen permukaan virus hepatitis B (HBsAg) dengan metode immunochromatography (IC anti-HIV). Meskipun metode pemeriksaan ini prinsipnya sama dengan metode hemagglutinasi, yaitu reaksi atau ikatan antigen dengan antibodi yang diberi penanda sehingga bisa terlihat atau terbaca.

Hasil metode pemeriksaan ini bisa diketahui/dibaca dalam waktu 15 menit saja. “Kit untuk mendeteksi HIV dikemas dalam kaset dengan merek Anti-HIV Cassette yang pemakaiannya sangat mudah. Seperti halnya kit anti-HIV Dipstick, diharapkan kit Anti-HIV Cassette dapat dipakai secara luas dalam rangka penanggulangan penyebaran infeksi HIV di Indonesia,”paparnya.

Menurut Mulyanto, perkembangan dan prospek teknologi IC ini akan terus meningkat. Di antaranya telah dilakukan kerja sama dengan J Mitra Laboratory, India dan Vista laboratory, Seattle, AS. Prospek ke depan, teknologi ini sangat menjanjikan. Dengan harga yang lebih terjangkau dan penggunaannya yang mudah serta mutunya yang baik, maka masyarakat mempunyai peluang lebih besar untuk melakukan pemeriksaan HIV. (abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/deteksi-virus-hiv-dalam-15-menit-3.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment