| Sunday, 07 June 2009 | |
| Banyak pihak meragukan efektivitas pengambilalihan General Motors Corp (GM) oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS).Namun,GM Autoworld Indonesia (GMAI) yakin Chapter 11 bisa menjadi kekuatan baru. Apa dampak kebangkrutan GM bagi industri automotif dunia? Mengapa banyak pihak menganggapnya sebagai sebuah bencana? Seorang kolumnis William J Holstein menulis tentang alasan mengapa kebangkrutan GM akan menjadi sebuah bencana.Menurut dia, keputusan untuk membuat status GM menjadi bangkrut sebagaimana pencatatan dalam Chapter 11 akan berakibat pasar GM AS anjlok 50% dalam kuartal I 2009 dari angka penjualan yang saat ini kurang menggembirakan. “Jika GM diumumkan bangkrut tercatat dalam Chapter 11, angka penjualan akan menurun sangat drastis,” ungkapnya sebagaimana dilansir BusinessWeek (21/5). Menurut Holstein,para praktisi hukum dan bankir penasihat Barack Obama tidak mengerti benar hal ini. Industri automotif adalah sangat unik sehingga membutuhkan waktu jangka panjang untuk membangunnya kembali menjadi mapan. Sebab, sudah menjadi siklus alamiah sebagian besar masyarakat bahwa memiliki kendaraan adalah pilihan kedua, setelah mereka punya rumah. Setidaknya, orang akan mau membeli sebuah produk (mobil) ketika dia tahu bahwa produsennya akan tetap eksis untuk jangka waktu yang panjang. Paling tidak 5–10 tahun mendatang. Jaminan ini untuk meyakinkan masyarakat (konsumen) bahwa produsennya masih akan terus berbisnis. Ini faktor psikologis dasar konsumen dalam memilih sebuah kendaraan. Lalu, ketika perusahaan dinyatakan bangkrut, sudah bisa dipastikan konsumen yang mungkin sebelumnya tertarik dengan produk tertentu akan berpaling ke produsen lain. Sebagaimana dilansir AP, konsumen yang kecewa (dengan pengumuman kebangkrutan GM) bisa beralih ke Toyota. Pencatatan dokumen kebangkrutan GM dalam Chapter 11 Pengadilan Niaga di New York telah membuat resah banyak kalangan,mulai dari pengusaha ruang pamer (show room), makelar, sampai pemilik kendaraan. Konsumen khawatir soal jaminan servis, dan purna jual. Tetapi, ada juga warga AS yang tetap optimistis GM bisa bangkit kembali. Harus diakui, sebagian besar warga AS meragukan kemampuan GM untuk bangkit kembali pascapengambilalihan oleh pemerintah. Status kepemilikan saham pemerintah 60%,memungkinkan untuk melakukan intervensi lebih jauh terhadap pengelolaan GM yang sedang membangun brandbaru sebagai new GM.Associate Director pada the Cato Institute’s Center for Trade Policy Studies Daniel J Ikenson adalah salah satunya. “Bagaimana bisa pemerintah federal secara berkelanjutan mengatur GM, melindungi bunga pajaknya serta mendorong memproduksi mobil yang sedang digemari masyarakat,”ungkap Daniel sebagaimana dilansir dalam Los Angeles Times (5/6). Dalam hal pajak misalnya, Ikenson menjelaskan, dengan tanggungan pajak USD50 miliar di permulaan saja, pemerintah akan melakukan apa saja untuk menunjukkan intervensi kebijakannya. Dengan demikian, minimal kinerja positif perusahaan ini harus tercapai. Setidaknya GM harus mampu meraup keuntungan USD83 miliar dengan pajak 60%-nya untuk mencapai USD50 miliar. Untuk mencapai ini,pemerintah diperkirakan akan mempersyaratkan GM harus mampu mencapai pertumbuhan keuntungan 38%. Sementara itu, kepada Seputar Indonesia, Direktur Marketing PT GM AutoWorld Indonesia (GMAI) Amelia Santoso menjelaskan, Chapter 11 bukanlah sebuah kelemahan bagi GM. Sebaliknya,justru memungkinkan GM bisa menjadi perusahaan yang jauh lebih kuat, punya masa depan yang panjang, serta menguntungkan seluruh shareholders,termasuk konsumen. Meski GM di AS masuk Chapter 11, pasar automotif di Indonesia tidak terpengaruh.Hal ini disebabkan, GMAI Indonesia yang merupakan bagian dari GM Asia Pasifik tidak termasuk dalam Chapter 11. Malah, Amelia menjelaskan angka penjualan GMAI justru mengalami pertumbuhan pada 2009. “Pada dasarnya kami tak terpengaruh. Dengan terus menunjukkan angka penjualan yang baik, pertumbuhan jaringan dealer dan servis, program-program marketing, sales, dan after-sales yang menarik dan menguntungkan bagi pelanggan secara konsisten, kami yakin kepercayaan konsumen kami tetap terjaga,”paparnya. Secara fundamental, menurut Amelia, reorganisasi GM AS tidak memengaruhi operasional GMAI. Sebab GMAI sebagai bagian dari GM Asia Pasifik, merupakan badan hukum yang berbeda dari GM AS. GM Asia Pasifik justru telah mencatat prestasi pertumbuhan penjualan 10% selama kuartal I 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara di Indonesia, penjualan ritel GMAI meningkat sampai15% selamakwartalI2009dibanding tahun lalu.Selain itu,GMAI juga memperluas jaringan dealer dengan fasilitas 3S (sales-service-spare parts).Dalam 2–3 bulan mendatang saja,akan dibuka tiga dealerbaru. “Target penjualan pun kami samakan dengan pencapaian tahun lalu,yaitu 2.600 unit dengan stretch target sebanyak 3.000 unit, di mana tulang punggung kami masih tetap Chevrolet Captiva yang berkiprah dengan baik di kelas Medium SUV,”ujarnya. Karena itu,GMAI juga optimistis target tersebut akan tercapai. Tercatat untuk penjualan Chevrolet Januari hingga April 2009 mengalami kenaikan sebesar 21% dibanding periode yang sama tahun lalu. Akumulasi hingga April 2009 ini mencapai 789 unit dibanding periode yang sama tahun lalu, sebanyak 675 unit. Sedangkan penjualan hingga Juni 2009 diperkirakan mencapai 1.220 unit. Memang, kepercayaan konsumen sempat menurun hingga 28% pada pertengahan April 2009. tetapi, kondisi itu bukan disebabkan faktor masalah yang tengah dihadapi GM di AS,tetapi salah satunya lebih disebabkan tingginya suku bunga kredit di dalam negeri. Sehingga penjualan sempat menurun. Meski begitu,Amelia memprediksi kinerja industri automotif di dalam negeri masih cerah.Dia juga meyakinkan rencana investasi GMAI untuk membangun pabrik perakitan di Bekasi tidak terganggu dengan status pailit GM AS. Hingga saat ini realisasi investasi tersebut sudah berjalan 50% dengan beberapa opsi sumber pembiayaan, mulai perbankan nasional, GM Asia Pasifik,hingga sumber lain.“Rencana investasi di Indonesia masih “on the track”.Semua berjalan sesuai jadwal semula,”tegasnya. Pembangunan pabrik GM di Bekasi sebenarnya sudah dimulai sejak 1993 dengan dana USD110 juta. Lalu berhenti operasi sejak Maret 2005.Untuk mengoperasikan kembali pabrik itu, GMAI membutuhkan dana USD80 juta. Hingga saat ini proses untuk menghidupkan kembali pabrik ini terus berjalan. Sebelumnya Managing Director GMAI Mukiat Sutikno juga telah meyakinkan pasar bahwa sebagai perusahaan dunia, GM tetap berkomitmen terhadap pasar di Indonesia. “Kami tetap optimistis terhadap perkembangan jangka panjang dari emerging market (pasar potensial berkembang) seperti Indonesia. Anda dapat pastikan bahwa kami akan terus bertanggung jawab terhadap semua layanan mulai dari sales, after-sales dan spare part. Kami akan tetap beroperasi guna melayani seluruh pelanggan dan dealer kami di seluruh Indonesia,” tandas Mukiat dalam pernyataan resminya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/245025/ |
Senin, 08 Juni 2009
Ambruknya General Motors - Sebuah Kekuatan Baru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment