| Saturday, 06 June 2009 | |
| Kemandirian finansial tidak selamanya dimiliki mereka yang berduit.Persoalannya bukan diukur dari jumlah uang,tetapi lebih kepada kedisiplinan menggunakan uang secara bijak. Pakar motivasi Mario Teguh pernah mengungkapkan, kemandirian finansial adalah prasyarat dasar untuk bisa mencapai kebahagiaan. Sayangnya, saat ini banyak masyarakat masih menunda untuk mencapai kemandirian finansial. Alasannya klasik, masih banyaknya daftar kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Padahal, hidup sehat dan bahagia harus berjalan beriringan dengan kemandirian finansial. Karena itu,selama ini banyak masyarakat yang dihadapkan pada persoalan pembiayaan kebutuhan hidup seperti pendidikan misalnya. Mereka sering kebingungan karena biaya pendidikan yang tinggi. Sebetulnya, masalah ini tidak perlu terjadi ketika masyarakat membiasakan diri mengantisipasinya sejak dini. Caranya, dengan merencanakan keuangan keluarga secara cermat dan arif. “Selama ini banyak pemikiran umum terbalik, kemandirian finansial nanti. Menabung nanti.Itu yang membuat seseorang terjebak pada rutinitas,” ungkapnya. Akhirnya, banyak orang yang harus bersaing dengan biaya hidupnya sendiri.Tidak jarang setiap akhir bulan,seseorang hanya membayar tumpukan tagihan bulanan dan tidak bisa menikmati hasil kerja kerasnya sendiri bersama keluarga. Pemikiran ini sering disebabkan penilaian yang selalu menekankan pendapatan kecil untuk mencukupi kebutuhan yang besar. Seharusnya, pemikiran yang ada bukan untuk mencari gaji atau pendapatan yang besar dari bekerja sebagai pegawai atau karyawan, melainkan kemandirian finansial yang memberikan keleluasaan dalam mengatur keuangan sendiri. Hal itu bisa dengan memperkecil kebutuhan yang sesuai dengan pendapatan. “Sekarang, betapa banyaknya orang yang mengeluhkan kecilnya gaji.Namun, tidak banyak orang yang mau melihat kesempatan bisnis yang ada di hadapannya. Atau paling tidak, mencari dan menciptakan dengan kreatif,”ujar Mario Teguh. Akibat kondisi ini,muncul paradigma untuk mencukupi kebutuhan makan saja sulit, apalagi untuk membayar biaya pendidikan anak.Menurut perencana keuangan TGRM Financial Planning Services Taufik Gumulya, masyarakat harus melek finansial sehingga mampu menghitung secara seimbang antara pendapatan dan pengeluaran. Apalagi sudah umum menjadi fenomena di Indonesia,setiap menjelang tahun ajaran baru, jasa layanan pegadaian begitu ramai oleh konsumen. Perum Pegadaian mengestimasikan omzet dana yang dipinjam nasabah menjelang tahun ajaran baru sekolah akan meningkat 10–20%. Peningkatan ini seperti sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Sebab, masyarakat membutuhkan dana untuk membiayai sekolah anak mereka. Selain menjelang tahun ajaran baru,Perum Pegadaian juga akan mengalami peningkatan omzet pada saat menjelang hari raya atau masa tanam petani. Tercatat, total omzet Pegadaian per triwulan I 2009 sebesar Rp10,6 triliun yang diperkirakan akan meningkat 10–20% pada Juni–Juli ini. Selain itu,menurut Taufik Gumulya, setiap bulan Juni penyumbang terbesar angka inflasi adalah dari sektor pendidikan. Hal ini sudah menjadi hukum alamiah, setiap tahun ajaran baru masyarakat akan berlomba-lomba menggadaikan barang miliknya demi memperoleh pinjaman uang.“Jadi,masyarakat seharusnya sadar tentang hal ini. Pendidikan itu memang perlu dan mahal.Terutama pada saat masuk universitas,” kata Taufik. Menurut dia, dana utama pendidikan yang wajib dipersiapkan orang tua adalah uang pangkal, uang sekolah baik bulanan atau semesteran sebesar 100%. Sisanya adalah dana tambahan dengan kisaran penambahan 10–20%.Berdasarkan hasil penelitian internal TGRM Financial Planning Services, kenaikan biaya pendidikan adalah melebihi inflasi tahunan. “Sebagai contoh, inflasi tahunan Indonesia Juli 2008 adalah 11,90%. Maka, dalam penghitungan biaya pendidikan di Indonesia, wajib kita hitung dengan kisaran peningkatan sebesar 1,5–2 kali inflasi negara, yakni sebesar 17,85% hingga 23,8%,”papar Taufik. Dia menjelaskan, penghitungan dana pendidikan yang akurat adalah jika menggunakan metode tanggal lahir. Banyak cara bisa dilakukan untuk mempersiapkan dana pendidikan, bisa melalui investasi di reksa dana atau lainnya. Sebagai proteksi, selain reksa dana, orangtua perlu melakukan perlindungan terhadap risiko yang mungkin terjadi dengan asuransi jiwa. Jika terjadi risiko yang terburuk yakni kematian, maka anak tetap dapat mencapai pendidikan yang tertinggi. “Kami menyarankan memilih asuransi jiwa tipe YRT (yearly renewable term),di mana premi meningkat setiap tahun. Sebagai contoh,jika seorang laki-laki tidak merokok usia 35 tahun uang pertanggungan (UP) Rp1.000.000.000,- (satu miliar rupiah), maka memiliki kisaran premi sebesar Rp2.300.000 hingga Rp3.700.000 per tahun,”paparnya. (abdul malik /islahuddin/faizin aslam) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/244830/ |
Senin, 08 Juni 2009
Merencanakan Dana Pendidikan Anak - Kuncinya, Melek Finansial
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Artikel yang menarik dan bermanfaat sejujurnya belum ada artikel yang selengkap ini jika berbicara dana pendidikan, trims...
BalasHapus