Jumat, 15 Mei 2009

Krisis Global dan Inovasi

Sunday, 10 May 2009
Dampak krisis global mengakibatkan banyak negara mengencangkan ikat pinggang, termasuk investasi untuk inovasi.Tren angka pertumbuhan sejumlah negara menurun, tetapi inovasi tetap dilakukan.

Laporan indeks inovasi global (global innovation index) versi Economist Intelligence Unit (EIU) menyebutkan, selama lima tahun mendatang,kinerja inovasi hanya akan tumbuh 2%. Pertumbuhan ini untuk jangka 2004–2008 dan 2009–2013 pada 82 negara. Kalkulasi ini menurun dibanding perkiraan sebelumnya, kinerja inovasi akan tumbuh ratarata 6% pada 2007–2011.

EIU memprediksi,pelambatan pertumbuhan kinerja inovasi terjadi baik dari sisi inputmaupun kinerja. Laporan penelitian yang dilansir Economist (24/4/09) ini menyebutkan, resesi global telah memberikan dampak pada penurunan anggaran penelitian dan pengembangan (litbang) pemerintah maupun swasta.

Selain itu, banyak negara juga mulai meninjau kembali kebijakan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan serta dukungan terhadap inovasi. Perubahan lain pun disebabkan oleh perubahan iklim investasi, merosotnya makroekonomi,stabilitas politik,dan kondisi fiskal di banyak negara.

Prediksi EIU ini bukan didasarkan pada skenario terburuk,melainkan dalam kondisi seperti ini inovasi masih mungkin dilakukan. Berdasar hasil penelitian tim EIU, dalam indeks inovasi global 2009 ini Jepang kembali menjadi negara nomor satu paling inovatif di dunia dengan nilai skor 10,00.

EIU memprediksi hingga 2013 Jepang masih akan tetap bertahan sebagai negara paling inovatif sebab pada 2004–2008 Jepang terbukti menjadi juara inovasi. Sementara di posisi kedua untuk prediksi 2009–2013 ditempati Swiss dengan skor 9,70 atau berada di posisi yang sama 2004–2008.

Finlandia pada periode 2009–2013 diprediksi bertahan menempati urutan ketiga dengan skor 9,53, sama dengan periode sebelumnya. Jerman diprediksi bakal naik dua peringkat untuk kinerja inovasi pada 2009–2013 ini dengan skor 9,49 dibanding periode 2004–2004 yang berada di posisi keenam.

Sementara Amerika Serikat (AS) turun satu peringkat menjadi kelima pada 2009–2013 dengan skor 9,44. Pada periode sebelumnya (2004– 2008) Negeri Paman Sam ini berada di posisi keempat. Posisi keenam ditempati Taiwan dengan skor 9,44, naik satu peringkat dibanding periode 2004–2008 yang berada di urutan ketujuh.

Swedia merosot dua peringkat ke posisi ketujuh untuk periode 2009–2013 dengan skor 9,44 dibanding periode 2004–2008 yang berada di posisi kelima.Sementara Israel naik satu peringkat ke urutan kedelapan pada 2009–2013 dengan skor 9,20. Pada periode 2004–2008, Israel berada di urutan kesembilan.

Sementara itu,Belanda berada di posisi kesembilan untuk periode 2009–2013 dengan skor 9,16 atau menurun satu peringkat dibanding periode 2004–2008.Posisi terakhir dalam 10 besar untuk periode 2009–2013 ditempati Denmark dengan skor 9,06 yang bertahan di posisi yang sama dengan periode sebelumnya.

Pemeringkatan yang dilakukan tim EIU ini menggunakan penilaian skala 1–10 dengan menggunakan dua indikator utama yakni input inovasi dengan bobot 75% dan iklim inovasi dengan bobot 25%. Untuk input inovasi indikator penilaiannya berdasarkan kalkulasi persentase litbang terhadap produk domestik bruto (PDB), kualitas infrastruktur riset,kondisi pendidikan angkatan kerja, keterampilan teknis angkatan kerja, kualitas infrastruktur teknologi, informasi dan komunikasi, serta lainnya.

Sementara untuk iklim inovasi di antaranya menilai kestabilan politik, peluang pasar, kebijakan agar perusahaan lebih kompetitif, kendali perdagangan luar negeri dan devisa, pajak, anggaran, pasar tenaga kerja,dan infrastruktur. Menurut Economist, beberapa negara Eropa seperti Finlandia dan Swiss berada di posisi puncak karena dianggap menjadi negara paling kondusif untuk melakukan inovasi.

Economist mencatat, Finlandia secara signifikan telah melakukan perbaikan iklim bisnis dalam beberapa tahun terakhir. Sementara AS merosot disebabkan dampak krisis ekonomi yang melanda negara itu. Sementara China melakukan lompatan cukup jauh. Dari posisi ke-59 dua tahun lalu menjadi peringkat ke-54 untuk periode 2009– 2013.

Sementara India juga melakukan perbaikan dari posisi ke-58 menjadi ke-56 untuk periode 2009–2013.“Prediksi peringkat ini bisa dilakukan karena berdasarkan pada data paten. Kami harapkan ini bisa membantu mendorong terhadap dampak kinerja inovasi. Kenyataannya, upaya ini telah membantu memengaruhi kedua negara pemenang seperti China dan India.

Atau sebaliknya bagi negara kalah seperti Bulgaria, Yordania, dan Thailand,” seperti dilansir Economist. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Pada pemeringkatan versi EIU, Indonesia untuk periode 2009–2013 tidak beranjak dari posisi ke-74 dengan skor 4,12,atau berada di posisi yang sama pada periode 2004–2008.Posisi Indonesia bahkan berada di bawah Singapura yang berada di urutan ke-16,Malaysia ke-35,Thailand ke-57,dan Filipina ke-58.

Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang berada di peringkat ke-78 dengan skor 3,20. EIU memaparkan, dengan menggunakan perbandingan antara input dan kinerja inovasi,negara- negara bisa menunjukkan kinerja inovasinya secara efisien. Jepang dinilai memiliki kinerja inovasi sangat efisien. Jepang yang merupakan negara miskin sumber daya alam justru terlecut untuk terus melakukan inovasi dengan slogan “inovasi atau mati”.

Banyak negara mulai berlombalomba berinvestasi untuk litbang dan banyak industri di AS dan Eropa juga melakukan hal serupa.Negara bahkan memberikan kebijakan lebih ketat, termasuk peningkatan standar pendidikan bagi warganya. Secara paralel dengan perkembangan teknologi internet,juga terjadi penyebaran teknologi tinggi (high tech).

Perusahaan-perusahaan high tech menikmati kue ekonomi sehingga cenderung mengandalkan inovasi secara intensif. Gambaran lain adalah untuk sektor usaha kecil menengah (UKM),yang sangat dituntut untuk berinovasi agar bisa bertahan. Jika dalam pemeringkatan EIU, Jepang meraih nomor satu, namun pemeringkatan indeks inovasi internasional 2009 versi Boston Consulting Group (BCG),Singapura justru menjadi negara paling inovatif di dunia.

Singapura meraih skor 2,45 dengan rincian input inovasi 2,74 dan kinerja inovasi 1,92. Sementara pada posisi kedua ditempati Korea Selatan dengan skor 2,26. Swiss menempati urutan ketiga dengan skor 2,23. Posisi keempat dan selanjutnya dalam 10 besar di antaranya Islandia (4), Irlandia (5), Hong Kong (6), Finlandia (7),AS (8),Jepang (9), dan Swedia (10).

sementara Indonesia hanya berada di posisi ke-71 dengan skor 0,57.Tentu saja posisi Indonesia jauh di bawah beberapa negara tetangga seperti Malaysia (21),Thailand (44), dan Filipina (54). Bagaimanapun harus diakui, untuk berinvestasi dalam inovasi di saat krisis bukan hal mudah.Meski demikian, inovasi harus tetap dilakukan apapun keadaannya.

Posisi negara atau perusahaan yang tidak melakukan inovasi di masa sulit akan semakin terpuruk dibanding negara atau perusahaan lain. “Inovasi itu target yang mudah sebab perusahaan tidak ingin mengalami kegagalan di masa sulit,” ungkap Profesor Dartmouth’s Tuck School of Business Vijay Govindajaran sebagaimana dikutip BusinessWeek (20/04/09). (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/237256/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment