| Sunday, 17 May 2009 | |
| Krisis bisa dilalui perusahaan.Syaratnya,dibutuhkan kecerdasan dan kecekatan.Kecerdasan perusahaan dalam menjalankan bisnis adalah kunci agar bisnis dapat bertahan dan tumbuh dalam kondisi apa pun. Bagaimana cara menjalankan bisnis di tengah krisis? Itu sebuah pertanyaan yang kini jamak dilontarkan para pelaku usaha. Dampak krisis global membuat pelaku bisnis harus pintar mengatur strategi dalam menjalankan usahanya. Bukan hanya untuk bisa bertahan dan melalui krisis dengan aman, tetapi juga agar tetap bisa tumbuh mencapai target.Tentu bukan perkara mudah agar tetap tumbuh di masa krisis. Meski demikian, banyak para pemimpin perusahaan (CEO) di dunia yang optimistis perusahaan yang dipimpinnya tetap bisa meraih pertumbuhan kinerja di tengah krisis. Bagaimana caranya? Berdasarkan hasil riset Economic Intelligence Unit (EIU) berjudul Organisitional Agility: How Bussines Can Survive and Thrive in Turbulent Time, kecerdasan perusahaan merupakan kunci untuk bertahan dari dampak krisis. Selain itu, kecerdasan menjadi alat ampuh untuk tetap tumbuh. Sebagaimana dilansir Economist (2 April 2009),pergolakan pasar akibat dampak krisis global bisa memberi sinyalemen babak baru globalisasi. Di dalamnya, ketidakmenentuan terjadi demikian konstan. Setelah masa resesi ekonomi membuat sektor energi, harga komoditas, dan nilai mata uang berfluktuasi tak menentu,kompetitor baru semakin banyak dan permintaan konsumen semakin meningkat. Kondisi tersebut menuntut perubahan paradigma operasi bisnis perusahaan yang menerapkan cara-cara tradisional. Agar menjadi lebih kompetitif, perusahaan harus menemukan keunikan mereka.Istilahnya,perusahaan harus bertindak seperti Harry Houdini, pesulap ternama yang mampu lolos dari rintangan berbahaya apa pun.Artinya,perusahaan harus mampu merespons secara cepat dan cekatan perubahan lingkungan— yang ekstrem sekalipun–– tanpa terjebak. Saat ini, kemampuan untuk menangkap informasi tentang perubahan pasar adalah kunci keberlanjutan bisnis.Perusahaan harus berpikir cara untuk berproses menjadi lebih fleksibel. Dari hasil riset ini, kecerdasan perusahaan adalah kunci untuk meraih keunikan agar sigap menanggapi perubahan pasar. Hampir 90% kalangan eksekutif yang menjadi responden meyakini, kecerdasan perusahaan adalah kunci penting demi kesuksesan bisnis. Sementara 50% responden chief executif officer (CEO) dan chief information officer (CIO) setuju bahwa pembuatan keputusan serta eksekusi yang cepat tidak hanya penting, tetapi juga merupakan hal utama untuk membuat perusahaan menjadi kompetitif.Kecerdasan pun berkorelasi dengan pertumbuhan kinerja perusahaan. Riset Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkapkan, perusahaan yang cerdas mencatat 37% pertumbuhan pendapatan dan 30% keuntungan lebih besar dibandingkan perusahaan yang tidak cerdas. Meski demikian, belum banyak perusahaan fleksibel, padahal ini penting untuk mencapai keberhasilan optimal. Sementara mayoritas eksekutif menilai kecerdasan perusahaan merupakan kebutuhan utama untuk menjadi unggul. Selain itu,kesigapan dalam berbisnis juga sangat menopang. Lebih dari 27% responden menyatakan, perusahaan mereka berada di wilayah kompetisi yang tidak menguntungkan karena belum cukup cerdas untuk mengantisipasi pergantian pasar fundamental. Survei EIU yang dilakukan selama Desember 2008 dan Januari 2009 ini juga menemukan fakta bahwa hambatan internal perusahaan terletak pada keengganan perusahaan melakukan perubahan. Lebih dari 80% responden menyatakan, sejak tiga tahun lalu telah melaksanakan sejumlah inisiatif untuk memperbaiki kecerdasan perusahaan.Sementara 34% responden menyatakan mereka gagal untuk menerjemahkannya ke dalam kinerja bisnis yang mendatangkan keuntungan. Hambatan untuk memperbaiki kesiapsiagaan dalam berbisnis adalah karena lambatnya pembuatan keputusan. Selain itu juga karena pertentangan prioritas tujuan dan target antardepartemen, budaya menentang risiko, dan tertutup dalam hal informasi. Artinya, perusahaan harus terbuka mengenai kondisi riil perusahaan. Hal ini bisa membangkitkan pola kebersamaan dalam mencari cara untuk keluar dari krisis. Riset ini juga mengungkapkan, teknologi berperan penting dalam membantu perusahaan menjadi lebih cerdas.Perusahaan harus mampu memfungsikan teknologi sebagai agen perubahan.Perusahaan juga harus mampu melakukan proses transfer teknologi sehingga perusahaan bisa memperbaiki penggunaan data-data penting. Riset yang dilakukan EIU bekerja sama dengan EMC Corporation ini melibatkan 349 responden dari kalangan eksekutif perusahaan di seluruh dunia. Di antaranya 60 responden dari Inggris, Prancis (59), Jerman (53), Singapura (53), Amerika Serikat (49), Australia (46),Kanada (18),dan Selandia Baru (11).Eksekutif yang menjadi responden dalam survei ini berasal dari perusahaan dengan beragam latar belakang sektor industri.Di antaranya 44% dari perusahaan yang memiliki pendapatan USD500 juta ke bawah, 31% memiliki omzet di atas USD5 miliar. Jabatan responden dalam perusahaan juga beragam. Di antaranya 43% dari jajaran anggota pengurus dan 31% dari jajaran direksi. Riset ini menyimpulkan, kecerdasan perusahaan sangat mungkin membuat perubahan positif, di antaranya mampu menghindari ketidakefisienan dan menemukan kembali keunikan dari keunggulan perusahaan. Apabila target-target pertumbuhan yang ada menjadi tampak menakutkan, ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan untuk melakukan perubahan. Di antaranya fokus pada proses inti, yakni dengan meminimalkan pengeluaran berlebihan yang tidak sesuai dengan program utama. Umumnya, perusahaan menerjemahkannya dengan membatasi ketersediaan sumber daya manusia. Dalam arti melakukan pengurangan karyawan.Padahal, seharusnya karyawan yang ada bisa digunakan untuk mengoptimalkan kepuasan konsumen. Caranya itu tadi, fokus pada proses inti. Cara ini diyakini tidak hanya akan membuat perusahaan dalam kondisi baik selama masa resesi,tetapi juga bisa tumbuh secara berkelanjutan. Langkah selanjutnya adalah meminimalkan ketidakterbukaan informasi. Sebab hal ini menjadi penghambat untuk melakukan perubahan apabila terjadi pertentangan target dan prioritas antardepartemen dalam perusahaan. Selain itu,masalah budaya yang tidak berani mengambil risiko dan saling tertutup satu sama lain juga menjadi faktor lain yang kerap menjadi penyebab terpuruknya sebuah perusahaan. Dengan ketransparanan informasi, para pemimpin perusahaan bisa memperbaiki bentuk kerja sama di dalam maupun di luar perusahaan.Transparansi informasi juga bisa digunakan untuk meluruskan target pencapaian perusahaan dan ukuran kinerja dengan strategi menyeluruh. Terakhir, perusahaan juga harus mampu mengintegrasikan proses berbagi pengetahuan dasar antara berbagai komponen. Integrasi pengetahuan akan membantu perusahaan memecahkan masalah, memperbaiki proses pembuatan keputusan, dan mengubah informasi menjadi pengertian bersama.Kekacauan situasi ekonomi saat ini mengakibatkan ketidakmenentuan menghantam sejumlah perusahaan. Itulah yang terjadi pada sejumlah perusahaan besar di AS yang sudah berusia ratusan tahun akhirnya ambruk. Keuntungan kompetitif hanya bisa diraih perusahaan yang menjalankan bisnis mereka secara benar, yakni sigap dan tanggap terhadap perubahan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/239074/ |
Selasa, 19 Mei 2009
Strategi Bisnis Tetap Tumbuh di Masa Krisis - Meniru Gaya Houdini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment