Jika pemerintah dan masyarakat bahu membahu membangun pendidikan di dalam negeri. Kini sudah waktunya sektor swasta ikut berperan membangun pendidikan.
Peran swasta dalam bidang pendidikan ini bukan hanya mereka mendirikan lembaga pendidikan dengan orientasi profit. Melainkan swasta melalui peran sertanya harus ikut serta membangun pendidikan dalam bentuk kemitraan atau berkontribusi dalam hal pendanaan.
Berdasarkan hasil survei Econonomist Intelligence Unit (EIU) tentang Global Education 20/20 : What Role for The Private Sector yang dipublikasi 10 Maret 2009 ini menemukan tren global di masa mendatang, peran swasta dalam mengembangkan pendidikan akan semakin signifikan.
Penelitian yang melibatkan 211 responden yang 123 responden diantaranya kalangan eksekutif perusahaan swasta dan 80 sisanya dari lembaga pendidikan, menyimpulkan bahwa peran perusahaan dalam bidang pendidikan akan semakin meningkat.
Bisa jadi perusahaan berkeinginan untuk bisa mewarnai kebijakan dalam hal pendidikan. Bahkan juga ingin menggantikan peran pemerintah dalam membangun pendidikan. Berdasarkan survei yang dilakukan selama Februari 2009 ini, menemukan benang merah bahwa pendidikan yang lebih baik menjadi cita-cita semua kalangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Kim Anderson, Nigel Holloway dan kawan-kawannya ini menyatakan meskipun semua pihak sepakat pendidikan adalah penting. Namun kontribusi pemerintah akan semakin menurun, terutama anggaran pendidikan akan semakin diturunkan.
Sehingga peran serta swasta dalam pengembangan pendidikan di masa mendatang sangat dibutuhkan. Bahkan berdasarkan hasil survei sebelumnya yakni pada September 2008 kepada 566 kalangan eksekutif di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 78% responden sepakat investasi dibidang pendidikan bisa memperbaiki kinerja bisnis mereka dalam 20 tahun.
Namun krisis ekonomi global saat ini mengakibatkan banyak perusahaan yang berstrategi untuk bertahan ketimbang berkontribusi dalam pendanaan pendidikan. Dari hasil survei terungkap hanya 21% responden dari riset Februrai 2009 menyatakan keterlibatan swasta dalam sektor pendidikan.
Sementara 46% diantaranya peran swasta semakin menurun, dan 27% lainnya tidak dua-duanya. Namun ketika ditanya apa tren global pendidikan pada dekade mendatang? Hanya 14% responden memprediksi pendidikan akan semakin dikembangkan sektor swasta. Namun responden dari kalangan lembaga pendidikan menyatakan pertukaran pelajar antara negara akan menjadi tren di masa mendatang.
Sedangkan 40% responden di kalangan eksekutif swasta menyatakan inovasi teknologi akan menjadi kunci pemicu di masa depan dan 27% responden dari lembaga pendidikan menyetujui pendapat ini. Faktanya akselerasi dalam bidang teknologi akan diperhatikan oleh lembaga pendidikan dan menjadi jawaban dari 35% responden dari dua kalangan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi internet, ternyata memberikan hasil cukup mengejutkan. Internet telah mempengaruhi dalam proses pembelajaran pada semua level. Kini pola pengajaran pendidikan secara tradisional maupun online berlomba-lomba menawarkan program pendidikannya. Universitas-universitas pun mulai berlomba-lomba menawarkan paket program e-learning. Tren ini akan terus berlanjut.
Mengenai hal ini, 80% responden menyatakan teknologi dan inovasi, seperti e-learning dan pengajaran metode jarak jauh akan menjadi penting atau bahkan sangat penting dalam 10 tahun mendatang. Meski demikian pola pengajaran tradisional masih tetap relevan diberlakukan. 60% responden, pola pengajaran tradisional masih sangat penting dalam 10 tahun mendatang.
Mengenai ketrampilan yang dianggap bakat paling penting di masa mendatang diantaranya, 48% responden menyatakan ketrampilan untuk hidup (life skill) adalah sangat penting. Diantaranya ketrampilan untuk memecahkan persoalan (29%), kepemimpinan (28%), pemikiran kritis (27%). Sementara ketrampilan lainnya seperti sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM) hanya 22% responden yang menyatakan penting. Demikian juga kemampuan berkomunikasi secara lisan (5%) dan tulis (3%).
Bagaimanapun sebanyak 76% responden sepakat keterlibatan swasta dalam bidang pendidikan akan semain meningkat adalah sesuatu yang positif. Sementara hanya 5% responden dari kalangan eksekutif dan 8% dari lembaga pendidikan menyatakan bahwa pelibatan swasta adalah sesuatu yang negatif.
Namun responden sepakat bahwa kondisi pendidikan yang lebih baik akan menghasilkan lulusan yang nantinya akan bekerja menjadi lebih baik dan produktif. Hasilnya 92% responden menyatakan adalah sangat penting bagi swasta untuk memberikan masukan bagi kebijakan terkait pendidikan yang dikeluarkan pemerintah. Meski demikian sejak kebijakan pemerintah diatur oleh pemerintah, namun peran swasta dalam sektor ini bisa dalam beragam bentuk.
Sebanyak 70% responden menyatakan dalam 10 tahun mendatang, peran swasta sangat penting untuk mendukung kebijakan pembangunan lembaga pendidikan publik. Meskipun peran swasta ini bisa dalam berbagai bentuk. Jika di Swedia, banyak orang tua siswa bisa mengirimkan anak mereka ke beragam pilihan sekolah, termasuk sekolah swasta yang berorientasi profit. Sementara tidak semua negara memperbolehkan swasta menyelenggarakan sekolah, dan tidak semua perusahaan yang mau membuka sekolah dengan keinginan untuk membangun pendidikan, bukan profit semata.
Ketika ditanya tentang bagaimana swasta akan memberikan pengaruh dalam kebijakan pendidikan, 94% responden menjawab peran itu sangat besar.sementara 41% lainnya menyatakan pengaruh itu akan sangat luas. Diantara responden yang percaya bahwa swasta bisa mempengaruhi kebijakan pendidikan, 96% diantaranya menyatakan adalah sangat penting bagi swasta untuk mendampingi peningkatan kualitas pendidikan.
Namun mengenai interaksi antara swasta dan lembaga pendidikan, 13% responden menyatakan akan terjadi interaksi. Catatanya perusahaan harus lebih menghabiskan waktunya untuk mengkritis kebijakan pendidikan sebagai oposisi. Selain itu ketika ditanya apa peran utama yang seharusnya diambil swasta dalam pendidikan? 43% responden menyatakan harus ada kemitraan antara swasta dan publik, menyediakan kontribusi pendanaan (39%), dan menginformasikan kepada sekolah tentang tren pekerjaan (36%).
“Ada sebanyak 44% responden menyatakan perusahaan akan membantu meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, namun hanya 15% responden dari eksekutif swasta yang menyatakan hal ini sebagai prioritas,” ungkap peneliti Kim Anderson yang penelitiannya ini melibatkan responden dari semua wilayah, mulai Eropa, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Amerika Utara. (abdul malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment