| Sunday, 10 May 2009 | |
| PARADIGMAinovasi di dalam negeri masih memprihatinkan. Selain anggaran pemerintah untuk penelitian dan pengembangan (litbang) cekak,minat swasta juga masih minim. Asumsi itu diperkuat berdasarkan sejumlah fakta pemeringkatan yang dilakukan lembaga global,di mana indeks inovasi Indonesia masih rendah dibanding negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Filipina, atau Thailand.Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh paradigma berinovasi di dalam negeri masih minim. Selain itu,dukungan pemerintah terhadap budaya inovasi, terutama dalam anggaran juga setali tiga uang. Karena itu, wajar jika belum banyak hasil penelitian yang bersifat aplikatif dan siap dikembangkan industri dalam skala komersial. Yang ada umumnya sebatas penelitian dasar dan kurang sesuai kebutuhan industri. “Minimnya paradigma inovasi di Indonesia bisa dilihat dari dua sisi,baik dari sisi peneliti atau sektor swasta,” kata Kepala Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto kepada Seputar Indonesia. Menurut Bambang, peneliti masih belum mampu menangkap objek penelitian yang dibutuhkan industri sehingga pola pikir para peneliti perlu diubah untuk melakukan penelitian yang bersifat aplikatif. Agar hasil penelitiannya sesuai kebutuhan masyarakat sehingga menguntungkan apabila dikembangkan dalam skala komersial. Sementara jika ada hasil penelitian yang bersifat aplikatif dan memiliki prospek untuk dikembangkan dalam skala komersial, minat swasta untuk membelinya minim sebab investasi di bidang litbang masih dianggap sebagai biaya bukan investasi jangka panjang. Apalagi, paradigma di kalangan pengusaha yang masih berpikir keuntungan sesaat, bukan keberlanjutan usaha melalui inovasi produk. Tidak sedikit pengusaha yang membeli teknologi dari luar negeri karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Dengan demikian,hal ini merugikan pengusaha karena harus membayar mahal royalti. Selain itu,langkah pengusaha yang mengandalkan produk asing pun mengurangi angka devisa negara. Akhirnya, kebiasaan umum para pelaku bisnis yang semacam itu akan sangat mungkin menurunkan semangat litbang di dalam negeri. “Dari sisi peneliti, selain anggaran minim,juga peralatan laboratorium kebanyakan sudah tua dan usang. Sementara pengusaha lebih banyak memiliki mental pedagang, bukan wirausaha yang memiliki pemikiran jangka panjang akan keberlanjutan usahanya,” paparnya. Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemeneg Ristek) melansir, anggaran ristek di dalam negeri sejak 1969–2001 dari anggaran pemerintah untuk aktivitas keilmuan dan teknologi di Indonesia menurun tajam. Pada 1986– 2002 anggaran riset yang dialokasikan pemerintah menurun rata-rata 0,18% dari produk domestik bruto (PDB).Pada 1986, anggaran riset sekitar 0,052% dari PDB, namun pada 2002 hanya 0,036% dari PDB. Pada 2006, anggaran iptek hanya Rp1,76 triliun dan 2007 Rp2,2 triliun, sangat minim dibanding pos anggaran untuk bidang lainnya seperti pemilihan umum yang mencapai puluhan triliun rupiah. Coba bandingkan anggaran litbang di negara-negara maju. Berdasarkan data OECD, sebagaimana dilansir Economist (24/4/09) pada 2007,Swedia masih memimpin besaran anggaran dari PDB yakni sebesar 3,6%. Kemudian diikuti Finlandia (3,4%), Jepang dan Korea Selatan pada 2007 belum terdata namun pada 2006 sebesar 3,3% dan 3,2%. Amerika Serikat menempati urutan selanjutnya dengan 2,6% dari PDB. Kemudian Jerman (2,5%), Denmark (2,5%), Austria (2,5%),Prancis (2,0%),Kanada (1,8%),Belgia (1,8%),dan Belanda (1,7%). Sementara Inggris pada 2006 mengalokasikan anggaran iptek sebesar 1,7%. Berdasarkan prediksi Economist Intelligence Unit (EIU),peringkat Indonesia dalam indeks inovasi global pada 2009–2013 tidak akan beranjak dari posisi ke- 74 dengan skor 4,12, sama dengan periode 2004-2008. Penilaian EIU ini berdasarkan pada input inovasi langsung yang memiliki bobot 75% dan iklim inovasi 25%.Posisi Indonesia bahkan berada di bawah Singapura yang berada di peringkat ke-16,Malaysia (35), Thailand (57), dan Filipina (58). Sementara berdasarkan penilaian Boston Consulting Group yang bekerja sama dengan The National Association of Manufacturers (NAM) dan The Manufacturing Institute (MI), peringkat Indonesia berada di urutan ke-71 secara global dengan skor -0,57. Indonesia juga berada di posisi paling bawah kedua setelah Brasil, sebagai negara besar yang diukur berdasarkan PDB.Dari 20 negara yang dinilai Indonesia berada di posisi ke-19 dan Brasil di posisi ke-20. Bagaimanapun,menurut Bambang, minimnya penelitian aplikatif di dalam negeri bukan murni disebabkan oleh peneliti yang belum memiliki paradigma penelitian aplikatif. Belum adanya aturan terkait pemberian royalti dan minimnya kompensasi bagi peneliti juga turut mendukung lemahnya litbang. Padahal jika aturan pemberian royalti ini sudah ada, permasalahan kesejahteraan peneliti ini bisa dijembatani. Minimal diatur dengan surat keputusan Menteri Keuangan. Minimnya penghasilan peneliti di Indonesia tak urung membuat para peneliti itu menjadi tidak fokus dengan penelitian yang dilakukan, padahal secara kualitas sumber daya manusia peneliti lokal cukup andal. Ini terbukti tidak sedikit peneliti Indonesia yang direkrut lembaga penelitian di luar negeri seperti Jepang,Australia, Filipina, dan lainnya untuk melakukan kajian di sana. “Ini yang sedang kita upayakan yakni remunerasi bagi para peneliti. Sebab jika sudah ada remunerasi, mereka tidak boleh lagi menerima penghasilan dari lembaga lain dan harus fokus pada penelitiannya di dalam negeri,” paparnya. Meski demikian,Kemeneg Ristek telah berupaya menjembatani kebuntuan komunikasi antara peneliti, pemerintah, dan dunia usaha melalui pembentukan Pusat Inovasi Bisnis (Businees Innovation Center/BIC) pada April 2008. BIC setiap tahun menyeleksi hasil penelitian yang dianggap layak dikembangkan secara komersial sehingga tercipta iklim inovasi bisnis yang sehat. Pada 2008 dipilih sebanyak 100 inovasi dari sebanyak 600 kontributor dan pada 2009 ini sedang diseleksi 1001 jenis inovasi. Mulai dari bidang pangan, energi, transportasi, komunikasi dan informasi, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan obat-obatan, serta lainnya. Meneg Ristek Kusmayanto Kadiman dalam buku Indonesia Innovations menyatakan, untuk menghasilkan inovasi yang bernilai ekonomi tidaklah mudah.Harus ada langkah konkret antara stakeholder yakni antara akademisi, bisnis,dan pemerintah. “Seleksi terhadap 100 macam inovasi yang dibukukan ini untuk memberikan gambaran nyata tentang kemampuan putra-putri bangsa ini dalam menghasilkan inovasi yang prospektif,”ujarnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/237254/ |
Jumat, 15 Mei 2009
Dampak Krisis Global Terhadap Inovasi - Anggaran Cekak,Minat Swasta Minim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment