Saturday, 07 February 2009
Sistem distribusi dianggap salah satu instrumen penting dalam kinerja Pertamina.Hingga saat ini banyak kalangan menganggap distribusi belum berjalan dengan baik.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di pasaran,sehingga mengakibatkan antrean masyarakat untuk mendapatkan bensin,solar,atau lainnya sempat menghiasi pemberitaan media masa akhir-akhir ini. Banyak penyebab dan alasannya. Jika menjelang pengumuman kenaikan atau penurunan harga BBM,hampir bisa dipastikan antrean di SPBU dan kelangkaan kerap terjadi. Akibatnya, terjadi gejolak di masyarakat.
Untuk minyak tanah yang penjualannya melalui agen-agen pun,harganya melambung tinggi.Pertamina selalu dituding sebagai pihak yang tidak becus menjaga sistem distribusinya. Mantan Direktur Utama Pertamina Ari H Soemarno mengatakan,salah satu hambatan utama dalam distribusi BBM masih berkutat pada masalah klasik, yakni ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai.Menurut Ari, ketersediaan infrastruktur belum mampu mengimbangi peningkatan distribusi dari tahun ke tahun yang seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan.
Karena itu, wajar apabila permasalahan ini selalu menjadi masalah yang selalu berulang setiap tahunnya, apabila ketersediaan infrastruktur tidak segera dipenuhi Pertamina. ”Kita tertinggal karena peningkatan konsumsi dari tahun ke tahun dan kita selalu mengejar terus,”ujar Ari dalam acara diskusi Polemik Radio Trijaya FM di Jakarta, Sabtu (7/2) kemarin. Menurut Ari,ketersediaan infrastruktur di Pertamina saat ini sudah sangat jauh tertinggal dibanding perusahaan minyak lain di dunia.
Apalagi, pertumbuhan pengadaan infrastruktur di Pertamina memangtergolonglambat.Sebenarnya, inilah salah satu program utama yang dilakukan Ari selama menjabat sebagai Dirut Pertamina selama tiga tahun lalu.Namun,Ari sudah keburu lengser dari jabatannya. Karena iu,Ari berpesan kepada jajaran direksi yang baru untuk meneruskan pembangunan infrastruktur.
Sebab, hal ini sudah masuk dalam program jangka panjang Pertamina dalam waktu lima tahun. ”Saya harapkan dalam tempo 2–3 tahun ini akan ada infrastruktur baru yang dapat meng-coverdan memberikan keandalan dalam distribusi BBM,”katanya. Dijelaskan Ari, beberapa pengadaan infrastruktur distribusi yang sudah dilakukan Pertamina selama masa kepemimpinannya, misalnya pembangunan beberapa depo BBM yang berkonsentrasi di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat, di antaranya Depo Balongan, Depo Cikampek, Depo Padalarang, Depo Ujungberung.
Dia menjelaskan, distribusi untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat sudah ditingkatkan, sedangkan Depo Tuban ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini atau awal 2010 mendatang. Permasalahan distribusi ini menjadi penting,sebab banyak kalangan berpendapat bahwa inilah salah satu rapor merah yang mengakibatkan pergantian direksi di jajaran direksi Pertamina,meskipun tidak sedikit pula kalangan berpendapat pergantian direksi lebih bersifat politis ketimbang bisnis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro pun mengakui masalah distribusi adalah instrumen krusial dalam kinerja Pertamina. Untuk itu, Purnomo pun menargetkan kepada jajaran direksi yang baru untuk menyelesaikan permasalahan ini. ”Di sektor hilir memang masalahnya cukup complicated sebab tidak hanya masalah teknis,terutama masalah distribusi BBM dan elpiji,” ujarnya seusai apel dengan jajaran pejabat Departemen ESDM,Kamis (5/2).
Purnomo mengakui, masalah distribusi bukan hanya masalah teknis dan sistemik bisnis, melainkan ada campur tangan di luar unsur bisnis. Bisa jadi di atas kertas,dijamin stok BBM aman untuk jangka waktu beberapa hari ke depan. Namun ketika dicek ke lapangan, yang ada justru kelangkaan BBM merebak di mana-mana. Unsur di luar bisnis inilah yang menuntut jajaran direksi Pertamina untuk lebih tangguh dan memiliki daya tahan dalam mengatasinya.
”Karena ini menyangkut masalah-masalah distribusi, secara sistemik bisa bagus, stoknya bisa memenuhi. Tapi ketika masuk ke distribusi mungkin terjadi kelangkaan, ‘kencing’ di manamana. Macam-macam itu kan, apakah itu bisa ditangani? Mereka katakan ini adalah team effort. Saya bilang memang team effort, tapi komandannya harus kuat,” ungkap Purnomo. Dengan begitu, urusan pengamanan distribusi ini bukan lagi berhitung-hitung angka matematis, melainkan banyak campur tangan yang ikut bermain.
Bisa oleh spekulan nakal, oknum aparat, atau bahkan skenario politis yang tidak bertanggung jawab. Sebab jika terjadi gangguan distribusi, diikuti kelangkaan BBM di pasaran,maka masyarakatlah yang kembali menjadi korban. Sudah semestinya Pertamina konsentrasi dalam menjalankan bisnisnya tanpa diganggu gugat oleh urusan-urusan nonbisnis atau bahkan oleh mafia yang berkedok aparat atau pengusaha.
Sebab, yang ditangani perusahaan plat merah ini adalah menyangkut komoditas untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup masyarakat banyak. Sebelumnya awal Januari 2009 ini,Pertamina pun telah mencoba melakukan terobosan dalam membenahi sistem distribusinya, yakni dengan membuka operasional depotdepot di Indonesia selama 24 jam. Tujuan pembukaan ini untuk memaksimalkan distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, Pertamina juga memberikan kredit kepada pengusaha SPBU yang belum memiliki delivery order selama bank libur Sabtu- Minggu.Kemudian,Pertamina juga telah menerapkan sistem administrasi pembayaran melalui sistem komputerisasi MySAP sejak 2 Januari 2009. Namun,banyak kalangan menilai persiapan Pertamina untuk melaksanakan sistem ini masih kurang, sehingga pada awal penerapannya sempat terjadi kekosongan stok BBM di SPBU beberapa waktu lalu.
Bagi Pertamina, menyediakan BBM murah (terjangkau) bukan hal mudah.Beberapa kendala utamanya antara lain harga minyak dunia yang tidak selalu stabil bahkan cenderung naik, sumber minyak dalam negeri yang cenderung menurun akhirakhir ini, krisis ekonomi global yang juga memengaruhi harga minyak, serta kondisi alam Indonesia yang geografis terdiri atas beribu pulau.
Kerumitan dan keunikan ini membuat distribusi BBM menjadi sangat rawan terhadap penyelewengan, yang mudah dimanfaatkan pula untuk mengganggu stabilitas politik, sosial-ekonomi dalam negeri. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/211687/
Masih Tersandung Masalah Klasik
Sistem distribusi dianggap sebagai salah satu instrumen penting dalam kinerja Pertamina. Namun hingga saat ini banyak kalangan menganggap sistem distribusi yang ada masih belum berjalan dengan baik. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya infrastruktur.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di pasaran, sehingga mengakibatkan antrean masyarakat untuk mendapatkan bensin, solar, atau lainnya sempat menghiasi pemberitaan media masa akhir-akhir ini. Banyak penyebab dan alasannya. Jika menjelang pengumuman kenaikan atau penurunan harga BBM, hampir bisa dipastikan antrean di SPBU dan kelangkaan kerap terjadi. Akibatnya, terjadinya gejolak di masyarakat. Untuk minyak tanah yang penjualannya melalui agen-agen pun harganya melambung tinggi. Pertamina selalu dituding sebagai pihak yang tidak becus menjaga sistem distribusinya.
Mantan Direktut Utama Pertamina Ari H Soemarno menyatakan salah satu hambatan utama dalam distribusi BBM masih berkutat pada masalah klasik. Yakni ketersediaan infrastruktur yang memadahi. Menurut Ari ketersediaan infrastruktur belum mampu mengimbangi peningkatan distribusi dari tahun ke tahun yang seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan. Sehingga wajar apabila permasalahan ini selalu menjadi masalah yang selalu berulang setiap tahunnya. Apabila ketersediaan infrastruktur tidak segera dipenuhi oleh Pertamina.
“Kita tertinggal karena peningkatan konsumsi dari tahun ke tahun dan kita selalu mengejar terus," ujar Ari, dalam acara diskusi Polemik Radio Trijaya FM di Jakarta, Sabtu (7/2) kemarin.
Menurut Ari ketersediaan infrastruktur di Pertamina saat ini sudah sangat jauh tertinggal jika dibandingkan perusahaan minyak lain di dunia. Apalagi pertumbuhan pengadaan infrastruktur di Pertamina memang tergolong lambat. Sebenarnya inilah salah satu program utama yang dilakukan Ari selama menjabat sebagai Dirut Pertamina selama tiga tahun lalu. Namun Ari sudah keburu lengser dari jabatannya. Sehingga Ari berpesan kepada jajaran direksi yang baru untuk meneruskan pembangunan infrastruktur. Sebab hal ini sudah masuk dalam program jangka panjang Pertamina dalam waktu lima tahun.
"Saya harapkan dalam tempo 2-3 tahun ini akan ada infrastruktur baru yang dapat meng-cover dan memberikan kehandalan dalam distribusi BBM," katanya.
Menurut Ari, beberapa pengadaan infrastruktur distribusi yang sudah dilakukan Pertamina selama masa kepemimpinannya diantaranya, pembangunan beberapa depo BBM yang berkonsentrasi di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Antara lain Depo Balongan, Depo Cikampek, Depo Padalarang, Depo Ujungberung dan lainnya. Sementara dia mengaku, distribusi untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat sudah ditingkatkan sedangkan Depo Tuban ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini atau awal tahun 2010 mendatang.
Permasalahan distribusi ini menjadi penting, sebab banyak kalangan berpendapat bahwa inilah salah satu rapor merah yang mengakibatkan pergantian direksi di jajaran direksi Pertamina. Meskipun tidak sedikit pula kalangan berpendapat pergantian direksi lebih bersifat politis ketimbang bisnis. Apapun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro pun mengakui masalah distribusi adalah instrumen krusial dalam kinerja Pertamina. Untuk itu Purnomo pun menargetkan kepada jajaran direksi yang baru untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Di sektor hilir memang masalahnya cukup complicated. Sebab tidak hanya masalah teknis. Terutama masalah distribusi BBM dan elpiji,” ujarnya usai Apel dengan jajaran pejabat Departemen ESDM kamis (5/2) lalu.
Purnomo mengakui, masalah distribusi bukan hanya masalah teknis dan sistemik bisnis. Melainkan juga ada campur tangan di luar unsur bisnis. Sebab bisa jadi secara di atas kertas, dijamin stok BBM aman untuk jangka waktu beberapa hari ke depan. Namun ketika dicek ke lapangan, yang ada justru kelangkaan BBM merebak di mana-mana. Unsur di luar bisnis inilah yang menuntut jajaran direksi Pertamina untuk lebih tangguh dan memiliki daya tahan dalam mengatasinya.
“Karena ini menyangkut masalah-masalah distribusi, secara sistemik bisa bagus, stoknya bisa memenuhi tapi ketika masuk ke distribusi mungkin terjadi kelangkaan, “kencing” di mana-mana. Macam-macam itu kan, apakah itu bs ditangani? Mereka katakan ini adalah team effort. Saya bilang memang team effort tapi komandannya harus kuat,” ungkap Purnomo.
Sehingga urusan pengamanan distribusi ini bukan lagi berhitung-hitung angka matematis, melainkan banyak campur tangan yang ikut bermain. Bisa oleh spekulan nakal, oknum aparat, atau bahkan skenario politis yang tidak bertanggungjawab. Sebab jika terjadi gangguan distribusi, diikuti kelangkaan BBM di pasaran, maka akhirnya masyarakatlah yang kembali menjadi korban. Apapun sudah semestinya Pertamina konsentrasi dalam menjalankan bisnisnya tanpa diganggu gugat oleh urusan-urusan non bisnis atau bahkan oleh mafia yang berkedok aparat atau pengusaha. Sebab yang ditangani oleh perusahaan plat merah ini, adalah menyangkut komoditas yang merupakan hajat hidup masyarakat banyak.
Sebelumnya awal Januari 2009 ini, Pertamina pun telah mencoba melakukan terobosan dalam membenahi sistem distribusinya. Yakni dengan membuka operasional depot-depot di seluruh Indonesia selama 24 jam. Tujuan pembukaan ini untuk memaksimalkan distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia. Selain itu Pertamina juga memberikan kredit kepada pengusaha SPBU yang belum memiliki Delivery Order (DO) selama bank libur Sabtu-Minggu. Kemuidan Pertamina juga telah menerapkan sistem administrasi pembayaran melalui sistem komputerisasi MySAP sejak 2 Januari 2009 ini. Namun banyak kalangan menilai persiapan Pertamina untuk melaksanakan sistem ini masih kurang. Sehingga pada awal penerapannya sempat terjadi kekosongan stok BBM di SPBU beberapa waktu lalu. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
mencoba untuk berpikir obyektif di tengah perdebatan seputar pergantian direksi pertamina, semoga saja pergantian direksi tersebut bisa mempercepat transformasi di pertamina sehingga bisa menjelma menjadi salah satu perusahaan kelas dunia..bukan al yang mudah untuk mencapai visi tersebut apalagi pertamina juga harus mampu melaksanakan fungsi sosialnya bagi bangsa..namun justru hal tersebut yang akan mampu membuat managemen pertamina semakin matang untuk mewujudkan visi tersebut..
BalasHapusKerja Keras Adalah Energi Kita